Islah Taliban – Syiah Dalam Sudut Pandang Akhir Zaman

24 August 2021 - 15:15 WIB

Oleh Anwar Hudijono

Taliban dan Iran melakukan islah (perdamaian). Prosesnya sangat cepat seperti perubahan warna air yang bening ketika dimasuki wenter. Yang menjadi titik temu adalah Imam Husein bin Ali, cucu Rasulullah Muhammad. Sementara rentang benang merah Imam Husein itu sampai ke Imam Mahdi, khalifah akhir zaman, yaitu melawan penindas.

Sungguh, islah mereka bukanlah perkara enteng-entengan dalam sudut pandang eskatologi Islam atau ilmu akhir zaman. Ilmu yang mengkaji, menelaah, mempelajari peristiwa-peristiwa besar kekinian  yang terjadi dalam kehidupan, kejadian di jagat raya sebagai tanda-tanda atau ayat-ayat Allah dengan dasar Al Quran dan Hadits.

Selama ini keduanya terlibat dalam permusuhan bebuyutan yang panjang. Pemusuhan terkait dengan ideologi di mana Iran adalah sokoguru Syiah sementara Taliban bermazhab Suni Hanafiah. Tapi Taliban awal lebih dekat ke Wahabi yang di belakangnya ada Arab Saudi dan UEA. 

Iran mendukung kelompok Aliansi Utara yang melawan Taliban saat berkuasa 1996-2001.  Ada lagi kasus Taliban menyerang Konsulat Iran di Herat dan menculik 11 diplomatnya, 23 tahun lalu. Untuk kasus terakhir ini sepertinya sudah “cincai”  setelah Taliban membunuh Amir Naroui, pemimpin Jaish alp-Adli  (Tentara Keadilan) yang hendak memisahkan diri dari Iran. 

Lebih menarik lagi, isu islah mereka bukan ekonomi, politik, pengungsi, peradaban atau yang lain. Tetapi yang utama adalah kesadaran untuk melupakan perbedaan di antara keduanya, dan mencari kesamaan. Dan kesamaan yang menjadi nisbah (titik temu) adalah Imam Husein bin Ali, cucu Rasulullah Muhammad. 

Taliban menyatakan sangat menghormati, bahkan merasa memiliki kesyahidan Imam Husein. Menjadi penerus perjuangannya melawan penindas. Mengijinkan umat Syiah Afghanistan memperingati Bulan Duka Muharam untuk memperingati pembunuhan secara kejam Imam Husein di Karbala oleh tentara Yazib bin Muawiyah, penguasa Bani Umayah.

Rontoknya sektarianisme

Islahnya Iran-Taliban ini boleh dibilang tanda-tanda mulai rontoknya sektarianisme dalam  Islam. Lebih seribu tahun Syiah-Suni, dua kelompok mazhab terbesar Islam, terlibat konflik sektarian. 

Tidak perlu mencari siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konflik ini. Yang jelas siapapun saja yang bersikap sektarian berarti tidak mengindahkan peringatan Allah di Quran surah Al Hujurat 10-12. Bahwa kendala terbesar terbentuknya persaudaraan Islam adalah sektarianisme (ayat 11). 

Merasa menjadi golongan terbaik sehingga mengolok-olok golongan muslim yang lain, mencela, memanggil dengan gelar yang buruk seperti kafir, murtadin, radikal, intoleran, bahlul dan sebagainya. Mencurigai secara berlebihan dan ghibah (ayat 12).

Dalam perspektif nubuwat akhir zaman, rontoknya sektarian ini, insya Allah, pertanda akan segera lahirnya Pasukan Imam Mahdi atau yang disebut Pasukan Berpanji Hitam. Kenapa? Salah satu syarat mutlak menjadi Pasukan Imam Mahdi adalah tidak sektarian. Sebab, Imam Mahdi itu milik semua umat Islam. Berdiri di atas semua golongan. Tidak sektarian. 

Di antara misinya, selain mewarisi risalah Imam Husein melawan penindas adalah mempersatukan seluruh umat Islam. Meneruskan risalah leluhurnya, Hasan bin Ali yang ikhlas melepaskan jabatan khalifah kepada Muawiyah demi menjaga keutuhan umat Islam. Kalau dia tidak mau melepas jabatan itu, akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat di kalangan umat Islam.

Untuk itulah dia akan dibaiat di Ka’bah. Ka’bah adalah simbol persatuan dan kesatuan umat Islam seluruh jagat raya ini. Apapun mazhabnya, etnisnya, organisasinya, rasnya, bahasanya, kelompoknya, status sosialnya, profesinya, gelar akademisnya,  di mana pun dan kapanpun, setiap shalat mesti menghadap ke arah Ka’bah. Saat dikubur pun semua muslimin menghadap ke Ka’bah.

Imam Mahdi itu pasti keturunan Rasulullah Muhammad. Dalam istilah Suni disebut dhuriyat  Rasul (keturunan Rasul). Syiah menyebut Ahlul Bait. Hanya beda istilah. Tidak signifikan memperdebatkan dia itu dari garis trah Hasan atau trah Husein.

Pasukan Imam Mahdi itu kira-kira bisa disimbolkan dengan prosesi melempar jumrah pada saat menunaikan ibadah haji. Para jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berbaur membentuk barisan panjang seolah benteng yang sangat kokoh. Tidak lagi ada pemisah-misahan mazhab, golongan, organisasi, ras, etnis, suku, status sosial, profesi dan sebagainya. Semua menjadi satu kesatuan yang utuh.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang  tersusun kokoh.” (Quran: Shaf 4).

Semua bergerak sejalan seirama sebagai tentara Allah untuk menyerang dan “menembak iblis” satu badan berkepala tiga. Iblis itu disimbolkan dalam bentuk jumrah (tugu) yaitu Jumratul Aqabah, Ula dan Wustha.

“Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang.” (Quran: Al Mursalat 30).

Tembok Zulkarnain

Orang sektarian tidak bisa menjadi Pasukan Imam Mahdi, baik langsung maupun tidak langsung karena sektarian itu ibarat gelang karet. Menarik memang, tetapi tidak kuat. Hanya cocok untuk kuncit rambut atau mengikat jempol kaki pada saat anyang-anyangen.

Sementara musuh yaitu Pasukan Dajjal itu tidak remeh temeh. Pasukan itu berintikan golongan Yahudi fasad. Disimbolisasikan, Zulkarnain mengurung mereka dengan membuat tembok besi campur tembaga yang rata dengan dua gunung. Besi itu juga simbolnya Nabi Daud. Sedang tembaga simbol Nabi Sulaiman. Yahudi fasad inilah yang menjadi musuh utama Daud dan Sulaiman.

Untuk itulah setiap personil Pasukan Imam Mahdi itu harus kuat ibarat rantai besi berlapis tembaga. Yang mampu mengikat sedikit  99 ekor gajah sekaligus.

Islahnya Taliban dengan Iran ini seperti berpadunya spiritualitas dan intelektualitas. Taliban memiliki spiritualitas yang sangat kuat sehingga mampu bertahan selama 20 tahun menghadapi gempuran Amerika dan NATO. Iran dikenal sebagai negara muslim yang paling menonjol dalam sains dan teknologinya. Memiliki ilmuwan hebat-hebat.

Menurut Dr Haikal dalam bukunya, Sejarah Hidup Muhammad, pola dakwah dan perjuangan Rasulullah SAW itu merupakan perpaduan spiritualitas dan intelektualitas.

Islah ini baru awal. Bagaimana kelanjutannya, kita tunggu. Kehidupan saat ini ibarat sedang di perbatasan. Yang saleh maupun yang fasad sama-sama menunggu keputusan Allah.

Hanya yang jelas, semakin mendekati kedatangan Imam Mahdi dan Rasulullah Isa bin Maryam, maka Kuasa Kegelapan atau Iblis beserta seluruh pengikut, bala tentaranya, sekutunya pasti akan melawan secara habis-habisan. 

Meskipun pada saat bersamaan, semakin dekat turunnya Imam Mahdi dan Isa justru kekuatan Kuasa Kegelapan semakin merosot.

Percayalah kebeneran pasti yang menang. “Sungguh yang batil pasti lenyap”. (Quran: Al Isra’ 81).

Rabbi a’lam.

Astagfirullah. Barokallahu li walakum.

Anwar Hudijono, penulis tinggal di Sidoarjo.

24 Agustus 2021