Moeldoko di Antara Pandemi Politik

8 March 2021 - 14:49 WIB

Oleh Anwar Hudijono

Moeldoko bungkam seribu bahasa. Sejak dinobatkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat oleh M Nazaruddin, Jhoni Allen Marbun, Marzuki Ali  dan komunitasnya, dia belum mereaksi serangan terhadap dirinya. Sekalipun sudah dibilang begal politik. Tidak bermoral. Tidak kesatria. Tidak punya rasa balas budi. Rakus. Ugly. Dan banyak lagi.

Saya tidak percaya bungkamnya Moeldoko karena ngelu. Meriang. Sakit gigi. Bingung layaknya tikus tersudut. Diamnya itu pasti diam yang punya arti. Harap mafhum, dia ini bukan tokoh kaleng-kaleng. Dalam istilah Jawanya, dia ini jalma limpat seprapat kliwat (orang yang memiliki kelebihan di atas orang lain). Dia bukan manusia loro saudon telu sauruban. (Manusia biasanya umumnya).

Betapa tidak. Dia mantan Panglima TNI. Bergelar doktor. Kini dia menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Jabatan ini setaraf menteri. Hanya kurang popular saja sehingga kadang ada yang salah mengartikan. KSP diartikan  Koperasi Simpan Pinjam. La masak ada jenderal bintang 4 ngurusi bank titil.

Dengan sosok Moeldoko KSP itu menjadi begitu digdaya. Seolah menjadi bintang kembar dengan Mensesneg. Bahkan saking digdayanya seolah KSP itu semacam perdana menteri. Pamornya melebihi wakil presiden.

Hanya masalahnya, kehebatannya di bidang militer dan di KSP  belum sepenuhnya dikonversi ke dunia politik. Jika boleh membuat analog, dia itu seperti ikan koi. Indah memang. Mahal. Tapi ikan koi terbiasa di kolam khusus. Belum terbiasa berada di sungai.

Sementara politik itu seperti sungai. Terkadang arusnya kecil terkadang besar bahkan bergelombang. Terkadang airnya bening, terkadang keruh. Penghuninya lebih heterogen. Ada ikan wader, mujaer, sili, sepat, yuyu, belut, ular, lele, nyambik dan lain-lain. 

Begitu terlibat di  dalam pusaran konflik Partai Demokrat, Moeldoko sekarang ibarat ikan koi yang berada di sungai. Saat ini sungai itu terlalu banyak lelenya. Dan watak lele itu memang suka di air yang keruh agar bisa mendapatkan makanan. Maka kalau airnya bening akan diubek-ubek biar keruh. Lele itu cenderung rakus dan makannya banyak. Ada juga ular. Repotnya ular air itu sering kali menyerupai akar sehingga susah dibedakan. Ada juga belut. Khususnya welut  endhas ireng (belut berkepala hitam).

Percaturan politik

Moeldoko belum optimal mengkonversi kehebatannya di bidang militer dan pemerintahan ke dalam bidang percaturan politik kepartaian. Bagaimanapun pengalaman itu sangat penting bahkan menentukan. Dia termasuk jenderal yang tidak dibesarkan dalam iklim Dwifungsi ABRI. Para jenderal dulu sangat hebat dalam percaturan politik karena sejak kuliah di AMN sudah belajar politik. Mereka terlibat dalam pergulatan politik sehari-hari.

Terlihat dari langkahnya yang grusa-grusu dalam merebut kursi Ketua Umum Partai Demokrat. Mungkin terlalu percaya diri. Mungkin ada kekuatan bayangan, invisible hand yang menyangganya sehingga dia sangat yakin. Padahal, yang namanya di Indonesia ini ada tradisi  politik rog-rog asem. Orang lain dimainkan untuk menggoyang pohonnya, sementara dirinya yang memunguti asamnya yang jatuh. 

Kalau saja yang dihadapi hanya AHY, mungkin tidak terlalu sulit. AHY memang anak muda potensial. Tapi di kancah politik dia itu masih ingusan. Ibarat nginang (makan sirih) belum merah. Ibarat hujan-hujan belum basah. Kalau dalam tradisi politik ABRI dulu, purnawirawan mayor itu jabatan teritorialnya Kasdim. Jika di fungsi politik, jabatanya  staf Kakansospol. Karena jabatan Kakansospol biasanya mantan Dandim.

Masalahnya di belakang AHY itu SBY. Partai Demokrat itu ya SBY. SBY ya Demokrat. Keduanya tidak bisa dipisahkan layaknya garam dengan asinnya. Jika asin bukan garam, itu bisa saja upil. 

SBY itu jenderal politik terhebat setelah Pak Harto. Enam tahun lengser dari kursi presiden tidak membuat dirinya pikun. Kelihatanya memang melo, apalagi ketika Bu Ani wafat, tapi melonya dia itu seperti pohon cemara. Lentur dan kokoh.  Hubungan dengan patron lamanya masih kuat. Apalagi namanya juga baik di mata rakyat.

Langkah Moeldoko dianggap oleh SBY sudah nyolok mata ngilani dada (menculek mata dan memegang dada). Amat sangat berhaya sekali. Maka SBY bergerak sangat cepat. Dia ibarat macan yang harus melindungi nyawanya, anak-anaknya, sarangnya dan habitatnya.  

Dia tidak mau bernasib seperti Gus Dur yang disingkirkan  secara kejam  dari rumahnya sendiri. Tidak mau seperti Ical yang dilengserkan secara menyakitkan. Tidak mau seperti Tommy Soeharto yang dikudeta dari partai yang didirikannya. Tidak mau seperti Amien Rais yang dilepas dari jantungnya sendiri.

Politik dinasti

Menurut “ilmu titenologi”, jika SBY sudah cancut taliwondo (berjibaku) sendiri memang masalahnya sebanding dengan kapasitasnya. Sebagai tentara dia sangat mafhum, tidak akan membunuh garangan dengan granat. 

Bisa jadi SBY melihat ada kekuatan dahsyat yang tidak terlihat mata di belakang Moeldoko. Sasarannya bukan sekadar AHY lengser, tapi ada motif yang jauh lebih besar. Misalnya penghancuran martabat dirinya. Politik balas dendam.  Bisa juga  ada drama besar bagian dari pandemi politik Indonesia yang puncaknya diperkirkan terjadi tahun 2024. 

Mengapa 2024? Itu momentum lahirnya era baru. Para politisi tua ingin melanggengkan dinastinya. Saat ini tanda-tanda merebaknya politik dinasti semakin kuat. Untuk itu sibuk mencarikan kendaraan dan gizi anak-anaknya. Mungkin juga ada orang tua yang masih ingin berkuasa karena memang kekuasaan itu manis layaknya mengulum permen. Generasi baru juga akan merebut panggung sejarah. 

Sekadar urun rembuk kepada Moeldoko – yang saya pernah shalat di masjid yang dia bangun di Mojokerto – jika mau ikut berkompetisi di panggung sejarah 2024, harus berani mereview langkah-langkahnya. Eman-eman jika layu sebelum berkembang.

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu)

*Anwar Hudijono, Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

8 Maret 2021