Pemkot Malang Tekankan Fokus Trauma Healing Pada Anak, Pasca Tragedi Kanjuruhan

4 October 2022 - 07:17 WIB
Walikota Malang, H Sutiaji didampingi Wakil Walikota Sofyan Edi Jarwoko saat ditemui awak media di Posko Layanan Informasi (ist)
Walikota Malang, H Sutiaji didampingi Wakil Walikota Sofyan Edi Jarwoko saat ditemui awak media di Posko Layanan Informasi (ist)

MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Melihat Tragedi Kanjuruhan yang baru saja terjadi dua hari lalu, membuat duka yang mendalam bagi siapa saja. Karena itu Wali Kota Malang, Sutiaji, menekankan bahwa akan memberikan program trauma healing pasca kejadian kepada anak dan keluarga korban.

Orang nomor satu dilingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang ini, menyampaikan bahwa program trauma healing tersebut sudah bekerjasama dengan Polresta Malang Kota. Dimana hal itu tindaklanjut dari sebelumnya untuk menangani kasus Covid-19.

“Yang menjadi perhatian bagi kami adalah trauma anak. Karena anak melihat orang tuanya terinjak, sesak nafas, dan ini pasti membekas. Maka, trauma healing yang kami buat dengan Polresta Malang Kota, yang sebelumnya untuk menangani kasus Covid-19, akan kami lakukan konseling pada anak maupun keluarga yang memang membutuhkan,” jelas Sutiaji, saat ditemui di Posko Layanan Informasi, Senin (04/10/2022).

Selain itu, menurutnya untuk penonton bola juga tak terpaut dengan usia. Karena bola dinilai sebagai tontonan menarik bagi siapa saja. Sehingga, tidak ada larangan untuk membawa anak yang berusia dibawah 18 tahun.

Walikota Malang, H Sutiaji didampingi Wakil Walikota Sofyan Edi Jarwoko saat ditemui awak media di Posko Layanan Informasi (ist)
Walikota Malang, H Sutiaji didampingi Wakil Walikota Sofyan Edi Jarwoko saat ditemui awak media di Posko Layanan Informasi (ist)

“Usia tiga tahun diajak nonton bola, lalu sembilan bulan diajak nonton bola, itu karena selama ini damai-damai aja dan ini tontonan yang menarik. Alhamdulillah yang berusia sembilan bulan selamat,” lanjutnya.

Lebih lanjut, dikatakan bahwa Tragedi Kanjuruhan yang terjadi ini adalah musibah bersama. Sehingga, tidak mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Hanya perlu ada evaluasi terkait dengan hal yang telah terjadi.

“Ini musibah bersama, kita nggak mencari siapa yang salah siapa yang benar. Jangan sampai ada stigma Malang membuat rusuh, jangan sekali lagi. Karena ini warga saya, dan saya nggak ikhlas,” tegas Sutiaji.

Ditegaskan oleh Sutiaji, bahwa Tragedi Kanjuruhan tersebut tidak ada kerusuhan. Kota Surabaya dan Malang dinilai juga sudah bersahabat, sehingga menurutnya jangan sampai ada persepsi berantem diantara kedua belah pihak.

“Sesungguhnya yang perlu kami tegaskan ini nggak ada kerusuhan. Kan tidak ada suporter dari persebaya. Saya kira sudah bersahabat, jangan sampai ditarik dengan persebaya berantem terus, insyaallah tidak,” imbuhnya. (*)