Petani Binaan BI Malang Panen Raya Bawang Putih 

10 September 2019 - 19:36 WIB
Kepala Grup Perwakilan BI Jatim, Amanlison Sembiring dan Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho saat panen raya bawang putih bersama Poktan Tani Maju 01, Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu, Selasa (10/9/2019).

BATU  (SurabayaPoat.id) – Petani yang menjadi binaan Bank Indonesia (BI) Malang, Jatim sukses melakukan panen raya bawang putih. Panen raya tersebut dilakukan di dusun Junggo,  Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Selasa (10/9/2019). 

Para petani yang sukses melakukan panen raya bawang putih itu adalah  Kelompok Tani (Poktan) Tani Maju 01 Desa Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu, Jatim. Selama ini mereka menjadi  binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang. 

Menurut Ketua Gapoktan Mitra Arjuno, Tani Maju 01, Luky Budiarti panen raya  bawang putih itu merupakan yang perdana. “Semoga dapat berkah,” kata dia. 

Ketua Gapoktan Mitra Arjuno yang membawahi Poktan Tani Maju 01, Luky Budiarti

Dia.menjelaskan bila Kota Batu, khususnya Desa Tulungrejo  merupakan sentra bawang putih. Namun karena impor besar-besaran, akhirnya mulai tahun 1995-1998 petani bawang putih gulung tikar. 

“Sentra bawang putih itu tenggelam karena banyak importir bawang putih. Kami yakin dengan pembinaan BI bisa bangkit lagi. Terima kasih atas dukungannya,” kata dia. 

Dukungan dari BI Malang tersebut diakui sangat besar.  Sebab tak hanya bimbingan dan bantuan berupa fasilitas.  Namun para petani juga diajak belajar soal bawang putih ke Tegal dan Kabupaten Karanganyar.

Makanya menurut dia, setelah mendapat binaan dari BI Malang, para petani di Poktan Tani Maju 01 bisa panen raya. Sebab dengan luas lahan 8000 meter persegi mampu menghasilkan 8 ton bawang putih. 

Itu berarti setiap 1000 meter persegi menghasilkan 1 ton bawang putih.  “Kalau harganya Rp 50 ribu per Kg hasilnya lumayan. Ya bisa mencapai Rp 400 juta,” jelas dia. 

Karena itu dia berharap hasil panen bawang putih kedepannya lebih meningkat lagi. “Sehingga,  tahun depan cold storage yang biasanya diisi 60 ton dari NTB bisa kita isi sendiri,” harapnya. 

Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho menyerahkan bantuan pada pengurus Poktan Tani Maju 01

Kepala Perwakilan BI  Malang, Azka Subhan Aminurridho mengaku lega. Sebab Poktan Tani Maju 01 yang jadi binaannya bisa panen raya bawang putih. 

Menurut dia, upaya yang dilakukan itu sangat besar artinya untuk pengendalian inflasi dan mengurangi impor. Itu karena hampir 95 persen  kebutuhan bawang putih impor.

Apalagi kata mantan pejabat BI Bali ini, dulu di Desa Tulungrejo area bawang putih itu sekitar 300 hektar. Sekarang tinggal 30 hektar. 

Untuk itu pria yang akrab disapa Azka ini berharap produksi bawang putih bisa terus meningkat. Sehingga inflasi dan  kurs terkendali. “Sebab devisa tak banyak berkurang karena impor, ” jelas Azka. 

Kepala Dispertan Kota Batu Sugeng Pramono

Sementara itu Kepala Dispertan Kota Batu Sugeng Pramono mengakui bila sejak  1995 hingga 1998 sentra bawang putih di Batu tenggelam karena kebijakan impor. “Tapi kini sudah mulai bangkit. Kami berterima kasih pada BI karena ikut peduli,” kata dia. 

Dijelaskan dia bila tahun 2018 di Kota Batu sudah  menanam bawang putih di atas lahan seluas 25 hektar. Untuk awal tahun 2019 ini 30 hektar, dan November ini akan  tanam di 50 hektar. 

“Untuk itu kami tetap butuh support.  Petani menjadi harapan bagaimana agar inflasi terkendali dan impor bawang putih terkurangi. Petani merupakan ujung tombaknya,” kata dia sembari berharap BI terus memberikan suport. 

Kepala Grup Perwakilan BI Jatim Amanlison Sembiring

Kepala Grup Perwakilan BI Jatim, Amanlison Sembiring memberikan apresiasi terhadap BI Malang. Sebab pembinaan yang dilakukan pada petani bawang putih dinilai sangat membanggakan.

Alasannya,  karena keberhasilan tersebut dinilai sangat bermanfaat. “Satu untuk nilai tukar dan inflasi. Itu yang bisa jaga posisi devisa. Makanya yang harus dijaga komoditas yang mempengaruhi inflasi. Misalnya bawang putih ini,” kata Deputi Kepala BI Jatim ini. 

Apalagi, lanjut pria yang akrab disapa Aman ini,  bawang putih merupakan komoditas impor. Menurut dia tahun  2018 impor bawang putih menghabiskan devisa USD 283 juta. Bawang merah hanya  USD 2 juta. 

Makanya, terang dia,  perlu bersinergi untuk mengelembangkan komoditas tersebut.  Karena itu dia berharap agar tidak hanya BI yang mensupport.  Instansi lain juga bisa ikut bersama-sama mengembangkan produktivitas komoditas lainnya yang bisa mempengaruhi inflasi dan menambah devisa. 

“BI Jatim juga melakukan  hal sama. Yaitu mengembangkan klaster-klaster lain di daerah di Jatim. Itu sebagai upaya BI untuk selalu bersama masyarakat meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Sehingga cadangan devisa terjaga dengan baik.  BI Malang sudah menginisiasi klaster bawang putih. Semoga ini bisa terus berkembang dan sukses,” pungkasnya. (aji)