PSBB-PPKM ADALAH KESEMPATAN BERKONTEMPLASI

10 January 2021 - 11:22 WIB

Suparto Wijoyo, Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

SUDAHLAH, ayo menepikan diri sambil menyandarkan jiwa di ruas-ruas rumah. Biarlah ruhanimu mengendap dalam semangat baiti jannati senyampang kita berkesempatan untuk itu. Tetapi bebaskanlah gagasan-gagasanmu untuk menerobos semesta dan singgah di setiap jengkal kosmos. Kreativitas dan inovasi yang membarengi ikhtiar-ikhtiarmu tak bisa dikerangkeng, sehingga dirimu dapat memanen hikmah di kemudian hari. Capaian kemampuan untuk – meminjam kata-kata Prof Badri Munir Sukoco – “mentrasformasikan diri” adalah momentum terbaik dalam kehidupanmu. Beliau membahanakan istilah “kepemimpinan transformatif”, dan setiap orang sejatinya adalah pemimpin. Seorang pemimpin diuji tangguh karena memiliki kemampuan mengubah keadaan lebih produktif, baik secara ekonomi, sosial budaya, politik, maupun ideologis serta institusional, termasuk di institusi keluarga.

Kebijakan PSBB-PPKM


Mulai hari ini, Senin, 11-25 Januari 2021, para “pemimpin diri” itu akan dinilai kapasitasnya dalam memaknai PSBB berkenaan dengan terjadinya pandemi Covid-19. Otoritas negara memberlakukan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) 2021 di pulau Jawa dan Bali. Apabila istilah PSBB tidaklah engkau kehendaki, pakailah saja PPKM alias Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Intinya tetap ada upaya “membataskan aktivitas kita” yang selama ini terlanjur bergerak tanpa batas. Akibatnya adalah apa yang dirasakan: kehidupan khalayak ramai yang sungguh-sungguh ramai, gaduh, hiruk-pikuk saling sikut nan pukul. Inikah kondisi yang diharapkan oleh mereka yang tidak hendak membangun kebersamaan tetapi “pembasmian”. Seolah diri rakyat dibelah menjadi dua status: insider dan outsider. Kisah-kisah “orang asing” dapat dibaca dalam novel apik garapan Albert Camus yang legendaris itu.

Kita bersama perlu menyimak baik-baik mengenai PSBB atau PPKM. Diberitakan beragam media bahwa Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat ini bisa mencegah atau menekan penyebaran Covid-19. Apabila mengeja dengan teliti apa yang tersaji di laman resmi Kemenko Perekonomian, berikut sejumlah aktivitas yang dibatasi selama PSBB Jawa Bali 2021: a. Membatasi tempat kerja perkantoran dengan menerapkan Work From Home (WFH) sebesar 75%, dengan memberlakukan protokol kesehatan secara lebih ketat; b. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring/on line; c. Untuk Sektor Esensial yang berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat, tetap dapat beroperasi 100%, dengan pengaturan jam operasional dan kapasitas, serta penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat; d. Mengizinkan kegiatan konstruksi beroperasi 100% dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat; e. Kegiatan di tempat ibadah tetap dapat dilaksanakan, dengan pembatasan kapasitas sebesar 50%, dan dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat; f. Kegiatan di fasilitas umum dan kegiatan sosial budaya dihentikan sementara; dan g. Dilakukan pengaturan kapasitas dan jam operasional untuk transportasi umum; serta h. Mengatur pemberlakuan pembatasan terhadap kegiatan restoran (makan/minum di tempat) sebesar 25% dan untuk layanan makanan melalui pesan-antar/dibawa pulang tetap diizinkan sesuai dengan jam operasional restoran; dan pembatasan jam operasional untuk pusat perbelanjaan/mall sampai dengan Pukul 19.00 WIB.

Cakupan pengaturan PPKM tersebut, diterapkan di Provinsi/Kabupaten/Kota yang memenuhi salah satu dari parameter: tingkat kematian di atas rata-rata tingkat kematian nasional; tingkat kesembuhan di bawah rata-rata tingkat kesembuhan nasional; tingkat kasus aktif di atas rata-rata tingkat kasus aktif nasional; dan tingkat keterisian Rumah Sakit (BOR) untuk ICU dan Isolasi di atas 70%. Inilah “ruang areal” pada tahap awal yang diprioritaskan penerapannya di seluruh Provinsi di Jawa dan Bali. Pertimbangannya karena seluruh Provinsi dimaksud memenuhi salah satu unsur dari 4 parameter yang ditetapkan, dan juga mempertimbangkan bahwa sebagian besar peningkatan kasus Covid-19 terjadi di 7 Provinsi tersebut. Demikianlah yang diberitakan oleh kontan.co.id, tertanggal 7 Januari 2021.

Menikmati Rumah Kita Sendiri


Kalaulah sudah demikian kebijakan yang diambil oleh pemerintah sambil menunggu vaksinasi itu. Berarti saat inilah waktu mengendapkan diri dalam ruang “rumah peradaban”. Meng-gua-kan keluarga guna mengatasi pandemi Covid-19 merupakan langkah kesejarahan manusia untuk membangun peradaban baru atau menemukan kebangunan tersendiri. Kesempatan berkontemplasi sambil menyimak dalil-dalil yang paling agung dalam QS Al-Kahfi atas peristiwa “menyepikan jiwa” selama 309 tahun dalam kerangka menghidari dari “virus jahiliyah mempersekutukan Tuhan”. Inilah seberbahaya-bahayanya vidus dibandingkan Corona-19.

Difirmankan dalam ayat 13 secara beriring: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk” (13). Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)“. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari“. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun (19). Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit“. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka (22) Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi) (25).

Ada momentum bahwa perubahan besar sedang dipersiapkan dari sebuah lockdown di pegunungan. Terdapat tanda-tanda sepermulaan bahwa gunung sejatinya bukan sekadar gumpalan tanah melainkan kristalisasi nilai yang memadatkan materi untuk menjadi paku bumi. Berbagai referensi dapat dirujuk dan berlembar ayat boleh disimak bahwa gunung-gunung itu memanglah peneguh bumi. Gunung itu peredam guncangan sekaligus pembuncah kesuburan, karenanya dari erupsinya, bumi memanen larva bagi kehayatan tetumbuhannya. Dengannya itulah sumber pangan tersedia dan seluruh umat manusia maupun flora-fauna dengan segala jenis primata mampu menjalankan peran kehayatannya. Ada ruang dialog sekaligus menantang daya pikir manusia dengan ungkapan telak: “adakah dalam ciptaan-Ku ini yang tidak seimbang”? Terbuka saat menderaslah Alquran agar dapat memanen banyak hikmah, mengingat firman Tuhan itu manifestasi paling kasat mata (“positivisme”) atas ajaran-Nya.

Gunung itu menyimpan misteri sekaligus kekayaan inspiratif membangun sejarah. Gunung merupakan makhluk yang pernah ditawari menjadi “khalifah” untuk memakmurkan bumi bersama dengan hamba-hamba lain sebelum Allah SWT menciptakan manusia. Semua menjawab penuh santun tentang “ketidaksanggupannya” menjadi khalifah fil ard, pemimpin di dunia. Namun rekam jejak historisnya, ternyata gunung diikutsertakan Tuhan dalam mendesain peradaban mulia (akhlakul karimah). Saya menafsir hal ini karena sikap santunnya gunung-gunung itu saat “menghindari mandat berat” dari Allah Swt, hingga gunung tetap terlibat prosesi pembangunan laku yang karim di bumi.

Belajar dari Gunung Cahaya

Salah satu gunung yang darinyalah perubahan peradaban yang penuh keagungan itu dikonstruksi Tuhan adalah Jabal Nur, Gunung Cahaya, gunung yang berjarak sekitar 2 mil saja dari Makkah. Gunung ini tampak seperlemparan pandang terlihat sederhana, tetapi sangat memukau bagi yang jeli menelisik dengan mata sukmanya. Di puncak Jabal Nur inilah ada tebing dalam lereng yang sulit diraih yang menyediakan “ruang pewahyuan”: Gua Hira. Sebuah gua yang sempit dan jauh dari tingkat kenyamanan kamar-kamar kaum modernis, apalagi dibandingkan dengan room hotel berbintang. Gua Hira hanya berukuran: panjang 1,8 meter dan lebar 0,8 meter. Di sinilah Muhammad bin Abdullah, satu-satunya manusia yang mendapatkan gelar Al-Amin (jujur-terpercaya) dari bangsanya itu “menyatukan diri bersama alam”.


Beliau menempuh lockdown, ruang sunyi, sisi tepi, dan pusat energi yang imun dari gemerlap duniawi. Menyendirikan jiwa-raganya untuk menemukan kesejatian, me-nyuwung-kan jasad memendarkan ruhani menyapa Illahi dengan gerakan uzla, topo, mepes rogo lan roso, bertahannuts, berkhalwat, bermeditasi mendialogkan diri kepada Yang Maha Tinggi. Langkah ini ditempuh mengingat di luaran Gua Hira terjadi tragedi kehidupan yang mengerikan. Manusia kehilangan martabatnya dengan bertindak mungkar, zalim dan nista. Pembunuhan anak-anak perempuan yang baru lahir dan merendahkan derajat perempuan serta menjadikan materi (batu maupun adonan kue) sebagai sesembahan, berhala, adalah ekspresi jiwa yang sangat jahil, bodoh sebodoh-bodohnya.

Sang Nabi terpanggil untuk mengatasi kejahiliaan jiwa ini mengingat secara fisik bangsa Quraisy amatlah maju infrastrukturnya. Makkah adalah pusat “adat dan perdagangan”. Kota transkafila yang menguntungkan secara ekonomi. Makkah memiliki sumber daya sempurna dari Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS dengan Ka’bah dan Sumur Zam-zam. Hanya saja akibat watak jahiliyah (orang cerdas tanpa hidayah) inilah yang mempertindakkan manusia menjadikan Baitullah diberi ornamen patung-patung yang disembah sebagai Tuhan. Selingkup kahanan yang nggeggirisi hati Baginda Muhammad Saw, Allah Swt menjawab dengan penyampaian wahyu “deklarasi utusan Tuhan”: Rasulullah Muhammad SAW dalam usai 40 tahun, 6 bulan 12 hari. Diwahyukan Alquran Surat Al-Alaq ayat 1-5: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Perintah ini spektakuler, pencahayaan iman dan ilmu secara integral. Marilah me-lockdown diri di gua sejarah untuk menghasilkan produk, yang kata Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga “berdampak bagi dunia yang lebih baik”.