Rebut Situbondo, Sekretaris DPD PDIP Jatim Ajak Penndukung Kerja Keras

19 September 2020 - 18:55 WIB
Sekretaris DPD PDIP Jatim Dr Sri Untari Bisowarno MAP dalam acara Rakercabsus DPC PDIP Situbondo

SITUBONDO (SurabayaPost.id) – PDIP diyakini bisa merebut kursi Bupati Situbondo pada Pilkada serentak tahun 2020. Keyakinan tersebut disampaikan Sekretaris DPD PDIP Jatim, Dr Sri Untari Bisowarno MAP, Sabtu (19/9/2020).

Untuk itu, Sri Untari meminta kepada kader PDIP Kabupaten Situbondo dan partai pengusung serta pendukung bekerja keras. “Sebab, kuncinya hanya itu,” kata dia saat memberikan pengarahan kepada kader PDIP dalam acara Rakercabsus pengenalan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Situbondo di Hotel Kharisma Situbondo.

Dia menjelaskan bahwa PDIP punya agenda penting yaitu membangun sebuah keinginan perubahan dari masyarakat Situbondo. “Keinginan berubah itu dengan cara memilih kepala daerah yang mengerti kondisi masyarakatnya,” tandas Sri Untari.

Menurut wanita yang juga ketua Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur itu, Calon Bupati Karna Suswandi dan Calon Wakil Bupati Hj. Khoirani ini, merupakan tokoh yang paling tepat untuk membangun Situbondo.

Untuk itu, kata dia, perubahan di Situbondo sudah di depan mata. Demi mewujudkannya kata dia, partai pengusung harus kerja keras. Sebab, kunci merebut kekuasaan itu adalah kerja keras tersebut.

“Bekerja keras adalah kuncinya, isu yang diangkat adalah perubahan untuk Situbondo harus mampu direalisasikan. Karena ini adalah kepentingan partai pengusung dan rakyat Situbondo,” tandasnya.

Sri Untari merasa senang banyak wanita yang tangguh dan berani keluar kandang. Terutama untuk berkontestasi menjadi calon Kepala Daerah maupun calon Wakil Kepala Daerah.

Makanya, kata dia, mengusung Bung Karna dan Nyai Khoirani adalah pilihan yang cerdas. Apalagi secara matematika dari partai pengusung ada 24 kursi.

“Memang memenangkan Pilkada itu perlu kerja keras. Dan itu tidak mudah tapi itu bisa. Sebab 24 kursi secara matematika diatas kertas, pasti menang,” tegas Untari.

Meski begitu, tutur dia, bukan hitungan matematika tapi cerita politik. Makanya seluruh komponen harus bergerak secara bersama-sama.

“Saya ingatkan Tapal Kuda tempatnya Pondok Pesantren besar. Permohonan saya jangan lupa menjalin komunikasi dan bersilaturrahmi dengan para kiai. Ya sowanlah ke kiai untuk menyapa dan menyampaikan program perubahan,” pesannya. (aii)