Sambut HUT, Ketua Presidium Pokja Beber Sejarah Kota Batu

19 October 2021 - 10:08 WIB
Andrek Prana

BATU ( SurabayaPost.id ) – Menyambut HUT ke – 20 Kota Batu, Ketua Presidium Pokja, Kota Batu, Andrek Prana, Senin ( 18/10/2021) beberkan sejarah perjuangan bersama rekan – rekan sejawatnya.

“Mewujudkan Pemkot Batu, 21 tahun lalu tidaklah mudah.Para pejuang peningkatan status Kota Batu, tidak saja bekerja dan berpikir keras.Tetapi juga mengorbankan harta benda pribadi,” kata Andrek. 

Itu, kata dia, dirinya sempat berkali kali menjual lukisan, dan ada juga yang sampai menggadaikan SK pensiunnya.Itu, menurut dia,  kenangan sebuah perjuangan dengan rekan – rekannya yang tak bakal terlupakan.

Ada lagi, kata dia, sering pijam mobil elf milik Hotel Agrowisata.

” Pemilik Agrowisata Mas Edy antoro sering pinjami kita mobil sekalian dengan keperluan bahan bakarnya.Selain itu, Pak Sumantri (alm) waktu jadi ketua KUD Batu, juga beberapa kali memberikan uang transport untuk kebutuhan makan dalam perjalanan,’ ungkapnya.

Semua, itu dibenarkan menurut Andrek. Setidaknya nana – nama yang disebut, itu, juga pernah ikut andil besar berdirinya batu.

Tak hanya itu, ia, juga mengaku sang Suhadi Ketua Gapensi,dengan  tangan dinginya, juga sering membantu.

Saat disinggung kenapa orang – orang pokja rela berkorban untuk peningkatan Kotatif jadi Pemkot. Mantan Jurnalis ini, mengaku ada keinginan yang sederhana dari teman – teman seperjuangannya.

” Pokja ,bagaimana warga Batu bisa jadi pegawai negeri, paling tidak sekitar seribu orang. Bahkan bisa jadi anggota DPRD,” paparnya.

Selain itu , papar dia, organisasi kemasyarakatan dan sejenisnya, menurutnya bisa menjadi tingkat cabang, dan juga organisasi olahraga serta yang lain. 

“Terpenting lagi, kalau statusnya jadi pemkot punya anggaran sendiri. Disitu bakal bisa memberi pelayanan kepada masyarakat lebih dekat. Cita – cita  pokja itu sangat sederhana. Masyarakat batu bisa berdaya guna,” mintanya.

Yang perlu diketahui, menurut mantan Direktur Kopindo Media Jakarta ini, pokja didirikan dan bergerak setelah adanya stetmen dari Gubernur Jatim, Imam Utomo,kala itu.

” Pada pertengahan tahun 1999,yang dimuat di berbagai media cetak di Jatim dan Nasional. Gubernur menyatakan status Kotatif Batu bakal diturunkan lagi jadi Kecamatan Batu dan kembali bergabung menjadi bagian dari Kabupaten Malang,” terangnya. 

Celakanya lagi, terang dia, ada berita susulan di media massa bahwa Bupati Malang saat itu M Said, menyatakan akan siap menghibur warga Batu. Alasannya  karena statusnya kembali jadi Kecamatan. 

“Praktis, stemen beliaunya yang tersebar dikoran saat itu, tengah menimbulkan kekecewaan.Pada saat acara sarasehan malam tujuh belasan,  tepat 16 Agustus malam. Saya  sama Mas Slamet Henkus yang tampil sebagai pembicara bersama Wali Kotatif Batu  kala itu Gatot Bambang Santoso,” ngakunya.

Lantas, ngaku dia,pihaknya menyatakan menolak penurunan status Kotif jadi Kecamatan. Dari mitulah, menurutnya mulai berjuang.

“Selama kurang lebih tiga tahun orang- orang pokja berjuang, mondar mandir Batu Jakarta,  sebanyak 28 kali. Belum lagi ke Propinsi dan Kabupaten Malang mencapai puluhan kali,” ujarnya. 

Disitu,  ujar dia, ada pengalaman yang tidak terlupakan,dan beberapa kali dalam perjalanan ke Ibu Kota, menurutnya sampai makan nasi yang sudah basi, dan itu terjadi karena setiap ke Jakarta selalu bawa bekal nasi bungkus buat makan di perjalanan.

“Itu karena minimnya dana. Itulah pengalaman pahit dalam berjuang demi Kota Batu,” serunya.

Lantas, seru dia, mobil yang disewa atau pinjam tengah disetir sendiri dengan cara bergantian.

“Ada Pak Kasan (alm), Mas Jinung, Mas Rofik, dan Mas Imam, yang jelas mereka adalah para pejuang,” ucap Andrek.

Yang lebih teringat lagi, kata dia, pada saat pokja dapat undangan dari Direktur Otoda ke Jakarta, kala  itu undangan untuk keperluan  melengkapi data.

“Saat itu kita sudah kehabisan dana. Dengan terpaksa dari salah satu orang pokja menggadaikan SK pensiunnya.  Jadi pengorbanan pokja cukup banyak. Tapi memang niat kita berjuang itu semua untuk Bumi Kota Batu,” katanya.

Makanya, kata dia, semboyan pokja itu  Membangun Batu Untuk Indonesia,

” Terpenting lagi, dalam lika – liku perjuangan kala itu, dengan niat iklas dan tulus.Ini secuil sebuah kisah perjuangan yang saya sampaikan kepada sang kuli tinta,” timpalnya (Gus)