Sri Untari:  Perdagangan Rempah  Denyut Nadi Ekonomi Indonesia 

10 January 2020 - 09:19 WIB
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Timur, Dr Sri Untari MAP

MALANG  (SurabayaPost.id)  – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Timur, Dr Sri Untari MAP menegaskan bila perdagangan rempah merupakan  denyut nadi ekonomi Indonesia. Makanya dia memandang tema besar Rakernas I yang bertepatan dengan HUT PDI Perjuangan ke 47 sangat tepat untuk Indonesia saat ini.

Ia menegaskan, tema “Strategi Jalur Rempah dalam Lima Prioritas Jalur Strategi Nasional untuk Mewujudkan Indonesia Berdikari” merupakan penegasan kembali partai dalam  mendongkrak komoditi rempah yang selama ini menjadi primadona di Indonesia.

“Kalau kita kembali kepada sejarah, penjajah masuk ke Indonesia karena ingin menguasai rempah kita. Artinya, Indonesia memiliki potensi dalam bidang rempah yang harusnya bisa menopang berbagai sektor,” kata Sri Untari.

Dijelaskan, tren perdagangan rempah di Indonesia akhir-akhir ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Salah satu penyebabnya, kata Untari, adalah faktor cuaca yang mengakibatkan adanya penurunan hasil selama ini.

“Nah penegasan kembali partai dalam meningkatkan sektor perdagangan rempah merupakan keputusan yang tepat, dan ingin mengembalikan kejayaan Indonesia,” tuturnya.

Dikatakan pula, berdasarkan sejarah jalur perdagangan rempah di Indonesia dahulu berhasil menguasai jalur perdagangan dunia. Jalur Sutra hingga jalur Laut Merah dalam soal perdagangan rempah sempat dikuasai oleh Nusantara.

“Bahkan dalam bidang energi, BBM kita lambat laun sudah beralih menuju B30, dimana sebesar 30 persen campuran sudah menggunakan biodiesel yang berasal dari tanaman,” tandasnya.

Oleh sebab itu, kata Untari, penegasan kembali akan perdagangan rempah di Indonesia merupakan salah satu poin penting yang dibutuhkan saat ini. 

“Kata kuncinya adalah berdikari. Berdiri di kaki sendiri dalam bidang ekonomi, salah satunya adalah melalui jalur rempah, dengan harapan bisa menjadi penopang sektor lain di Indonesia,” pungkasnya. (aii)