UMM-Singapore Polytechnic Gelar “Learning Express” Lagi

13 March 2019 - 07:24 WIB
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) yang menggelar proyek inovasi sosial, Learning Express (LeX)
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) yang menggelar proyek inovasi sosial, Learning Express (LeX)

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) menggelar proyek inovasi sosial, Learning Express (LeX) lagi. Itu setelah sebelumnya melakukan kolaborasi dengan kegiatan serupa.

“LeX adalah bagian dari kerjasama kami untuk mejalin hubungan baik dengan negara tetangga. Setidaknya saat ini terdiri dari 8 negara pada 22 lokasi dan 29 partner. UMM salah satunya,” ungkap Lim Jun Cheng, koordinator dari SP, Selasa (12/3/2019).

Setidaknya terdapat 56 mahasiswa yang terdiri 28 mahasiswa UMM dan 28 mahasiswa SP. Mereka terbagi kedalam 4 grup. “Masing-masing diisi oleh 7 orang dari UMM dan 7 dari SP, serta didampingi oleh 2 orang fasilitator ahli dan 1 koordinator dari SP. Juga 6 fasilitator ditambah 2 koordinator dari UMM,” ujar Ambika Putri Perdani selaku Program Officer International Relation Office (IRO) UMM, Selasa (12/3/2019).

LeX berlangsung selama 12 hari. Selama tiga hari pertama menetap di rumah penduduk yang memiliki usaha. “Tujuannya melihat situasi, proses, dan suasana tempat mereka ditempatkan. Utamanya membantu mengatasi ketidakefektifan kerja UKM di desa. Setelah tiga hari mahasiswa akan kembali ke universitas untuk pembuatan prototype di Lab Mesin dan Lab Industri,” papar Ambika.

Program inovasi sosial ini sekilas serupa dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bedanya, para peserta tidak sekedar melakukan pengabdian pada umumnya. Melainkan menggunakan acuan baku untuk menyelesaikan permasalahan di mana mereka ditempatkan. “Kita mempunyai modul sebagai acuan yang dinamakan Desain Thinking dan diadaptasi dari booklet Stanford dan MiT,” ungkap Ambika.

Terdapat 5 langkah yang menjadi acuan yang dimasukkan ke dalam modul yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. ”Mereka menggunakan modul ini untuk mengidentifikasi user (pelaku usaha, red.) apakah ada masalah. Baik itu di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang prosesing. Dari situ nanti bakal ada output-nya di closing ceremony,” ujar Ambika.

Ada 3 Usaha Kecil dan Menengah yang menjadi tempat berkegiatan untuk program LeX. Yakni UKM Telur asin Basori yang terdapat di Kecamatan Batu, produksi Madu di Kecamatan Junrejo milik Roni, serta UKM sentra Kopi Los Karangploso milik Pandu.

Pada tanggal 20 Maret mendatang, tepatnya di closing ceremony para peserta akan memamerkan produk prototype-nya untuk diperlihatkan kepada para pelaku usaha dan kepala desa di Auditorium BAU UMM. “Semoga melalui model design thinking yang setiap tindakan yang dilakukan berpusat pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh user, segala permasalahan dapat ditemukan solusinya,” pungkas Ambika. (aii)