MALANG KOTA (SurabayaPost.id) – Dunia pendidikan di Kota Malang digegerkan dengan dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 18 Malang terhadap siswanya sendiri. Isu ini viral setelah pesan berantai menyebar cepat di WhatsApp grup wali murid.
Dalam pesan tersebut, Kepsek diduga melakukan pemukulan dan kekerasan verbal hanya karena persoalan seragam.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, insiden bermula dari perubahan aturan seragam hari Kamis. Jika sebelumnya siswa diwajibkan memakai baju adat atau batik luar sekolah, aturan tersebut mendadak diganti menjadi wajib mengenakan baju lurik.
Karena aturan baru dan mendadak, sejumlah siswa belum memiliki seragam tersebut dan tetap masuk dengan seragam biasa. Hal inilah yang diduga memicu amarah Kepsek.
Bukannya diberi pembinaan atau teguran edukatif, para siswa tersebut justru diduga mendapat perlakuan kasar. Kepsek juga diduga melontarkan ucapan yang merendahkan martabat siswa dengan berkata, “Kamu ga punya uang a?” kepada salah satu murid yang tidak memakai baju lurik.
Yang membuat publik semakin geram, dampak dari dugaan kekerasan itu tidak main-main. Beberapa murid dilaporkan mengalami luka-luka, mulai dari memar dan lebam, luka berdarah, hingga telinga bernanah.

Ironisnya lagi, salah satu siswa yang menjadi korban dugaan penganiayaan tersebut merupakan anak berkebutuhan khusus atau anak inklusi yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan pendampingan ekstra di lingkungan sekolah.
Peristiwa ini sontak memicu kecaman. Sejumlah guru di internal sekolah dikabarkan tidak sepakat dan bersikap kontra terhadap tindakan represif yang dilakukan pimpinannya.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang bergerak cepat. Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana, memastikan pihaknya telah menerjunkan tim untuk turun langsung ke SMPN 18 Malang.
Tim tersebut ditugaskan untuk melakukan klarifikasi, investigasi, dan meminta keterangan dari berbagai pihak untuk mengungkap kebenaran peristiwa.
“Iya ini masih kami datengi ke sekolahan, kami klarifikasi,” ujar Suwarjana singkat.
Publik kini menanti hasil investigasi dari Disdikbud. Diharapkan ada tindakan tegas jika dugaan kekerasan tersebut terbukti benar, demi menjaga marwah Kota Malang sebagai kota pendidikan dan memastikan sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua siswa, termasuk anak-anak inklusi. (lil).
