MALANG (SurabayaPost.id) — Perusahaan Umum Jasa Tirta (PJT) I menegaskan komitmennya dalam menjaga keandalan infrastruktur sumber daya air di tengah tantangan perubahan iklim global. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan pertemuan tahunan yang mempertemukan para praktisi, akademisi, dan peneliti bidang bendungan yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Indonesia untuk Besar Bendungan (KNIBB) / INDECO.
Direktur Utama PJT I, Fahmi Hidayat,
menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan tahunan ini diisi dengan tukar pendapat, pemaparan makalah, serta peninjauan langsung ke sejumlah infrastruktur air, termasuk Bendungan Sutami dan PLTA Apung. Pertemuan ini mengangkat isu strategis terkait dampak perubahan iklim terhadap pengelolaan sumber daya air.
Sebagai salah satu bendungan terbesar di Jawa Timur yang telah beroperasi selama lebih dari 52 tahun, Bendungan Sutami memegang peranan krusial bagi hajat hidup masyarakat. Wilayah hilir yang mencakup hampir 50 persen wilayah Jawa Timur sangat bergantung pada suplai air dari bendungan ini.
Menanggapi isu sedimentasi (pendangkalan) yang secara alamiah dialami oleh setiap bendungan di dunia akibat erosi di daerah tangkapan air (catchment area), PJT I memastikan langkah-langkah antisipatif terus berjalan. Kondisi catchment area Sutami yang cukup terbuka di bagian hulu—seperti di wilayah Batu—memicu erosi permukaan yang terbawa aliran sungai ke waduk.
”Prinsip yang kami pegang saat ini, bendungan ini harus berfungsi selamanya. Tidak boleh bendungan ini nanti penuh sedimen sehingga kita kesulitan mengendalikan banjir, air baku tidak terpenuhi, atau pembangkit listrik EBT terganggu,” ujar Fahmi Hidayat.
Mengingat tingginya biaya sosial, kata dia, lingkungan, dan finansial untuk mencari lokasi baru pengganti Bendungan Sutami, pihak manajemen berkomitmen menjaga kelestariannya melalui berbagai upaya pemeliharaan, seperti konservasi di hulu, kegiatan flushing di Sengguruh, serta pengerukan sedimentasi di Sutami.
Menghadapi dinamika iklim saat ini—setelah sebelumnya diuji oleh fenomena El Nino yang memicu kekeringan panjang—PJT I bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan langkah adaptasi dan mitigasi.
PJT I mencatat bahwa perubahan iklim kerap membuat pola musim hujan menjadi lebih singkat dan sulit diprediksi. Oleh karena itu, langkah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan diterapkan pada awal dan akhir musim hujan.
Melalui langkah tersebut, potensi awan hujan dapat diserap secara optimal untuk mengisi cadangan air waduk tanpa memicu banjir, sehingga kebutuhan air di wilayah hilir selama musim kemarau mendatang dapat tetap tercukupi dengan aman. (lil).
