MALANG (SurabayaPost.id) – Lapas Kelas I Malang menunjukkan keseriusan dalam menjaga komitmen Zero HALINAR (Handphone, Pungutan Liar, dan Narkoba). Sebanyak 194 personel gabungan dikerahkan dalam razia blok hunian dan tes urine yang digelar Selasa malam (22/9/2026).
Razia kali ini terbilang besar. Jika biasanya hanya melibatkan petugas internal, kali ini Lapas Malang menggandeng 62 personel dari TNI, Polri, dan BNN. Rinciannya, 21 personel Brimob Batalyon B Pelopor Malang, 20 personel Polresta Malang Kota, 10 personel BNN Kota Malang, dan 11 personel Koramil Blimbing. Sementara Lapas Malang sendiri menerjunkan 132 personel.
Kegiatan diawali apel gabungan yang dipimpin Plh. Kalapas sekaligus Kabid Administrasi Keamanan dan Tata Tertib, Yuliawan Dwi Nugroho.
Dalam arahannya, Yuliawan menegaskan razia bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari pengamanan dan deteksi dini. Kegiatan ini juga menjadi implementasi nyata dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, terutama poin ke-6 tentang pemberantasan peredaran narkoba dan pelaku penipuan di Lapas dan Rutan.

“Razia merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga Zero HALINAR di lingkungan Lapas Malang. Laksanakan secara sungguh-sungguh, tetap berpedoman pada prosedur dan mengedepankan pendekatan yang humanis,” tegas Yuliawan di hadapan ratusan personel.
Setelah apel, Kepala Satuan Pengamanan Lapas (Kasat KPLP) Sahril Efendi membagi tugas dan penempatan personel. Sasaran razia kali ini adalah Blok Udayana 1 dan Udayana 2, yang dikenal sebagai blok hunian warga binaan kasus narkoba dan terdapat kamar tamping.
Sebanyak 18 kamar digeledah secara acak. Setiap sudut kamar diperiksa untuk memastikan tidak ada barang terlarang yang disembunyikan. Bersamaan dengan penggeledahan, tim BNN Kota Malang melakukan tes urine acak terhadap 50 warga binaan sebagai langkah pencegahan penyalahgunaan narkotika.
Setelah pemeriksaan selesai, seluruh barang temuan dikumpulkan dan diinventarisir. Hasilnya cukup menggembirakan, tidak ditemukan narkoba sama sekali.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian razia gabungan bersama TNI, Polri, dan BNN berjalan dengan baik. Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan narkoba. Petugas hanya mengamankan satu unit handphone dan beberapa benda berbahan logam seperti pisau, sendok, dan potongan besi. Sementara itu, seluruh hasil tes urine terhadap 50 warga binaan dinyatakan negatif,” ungkap Yuliawan.
Ia menambahkan, kegiatan razia akan terus dilakukan secara konsisten dua kali dalam seminggu. Polanya akan bergantian, kadang internal dan kadang gabungan bersama APH.
“Ini merupakan bagian dari upaya kami untuk memastikan Lapas Malang tetap aman, tertib, dan bersih dari narkoba maupun barang-barang terlarang lainnya. Ini wujud keseriusan Lapas Malang dalam mendukung 15 program aksi serta menindaklanjuti arahan Dirjenpas,” jelasnya.

Sinergi ini mendapat apresiasi dari aparat luar. Kanit Reskrim Polsek Blimbing, Iptu Rudi Handoko, yang hadir mewakili Polresta Malang Kota menegaskan pentingnya pemberantasan HP ilegal di dalam Lapas.
Menurutnya, satu unit HP yang lolos bisa menjadi sumber masalah besar, mulai dari peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam hingga penipuan online.
“Keberadaan handphone ilegal di dalam Lapas harus diberantas karena sering menjadi sumber berbagai persoalan, termasuk penipuan. Karena itu, kami akan terus memperkuat sinergi dengan Lapas Malang melalui kegiatan seperti ini, agar keamanan dan ketertiban di dalam Lapas dapat terus terjaga,” ujar Iptu Rudi Handoko.
Hal senada disampaikan Penata Pemberantasan Narkotika BNN Kota Malang, AKBP Indro Susetiyo, S.H. Ia memastikan dari 50 sampel urine yang diperiksa secara acak, semuanya negatif narkoba.
“Kami telah melaksanakan tes urine terhadap 50 warga binaan yang dipilih secara acak. Alhamdulillah, seluruh hasilnya negatif. Dari pemeriksaan dan razia yang dilakukan bersama, kami juga tidak menemukan adanya narkoba di blok hunian,” tutur Indro.
Dengan razia gabungan ini, Lapas Malang berharap lingkungan pemasyarakatan semakin bersih, aman, dan kondusif untuk pembinaan. Sinergi bersama TNI, Polri, dan BNN diharapkan terus terjaga sebagai benteng pencegahan masuknya barang terlarang ke dalam Lapas. (lil).
