MALANG (SurabayaPost.id) – Peluncuran BOUMI oleh Universitas Brawijaya membawa angin segar di industri perawatan anak. Alih-alih meniru formula pasar, UB menjadikan riset sebagai fondasi utama. Salah satu inovasi yang paling mencuri perhatian: sunscreen berbahan dasar rambut jagung, buah kerja lintas disiplin yang justru berangkat dari laboratorium teknologi pertanian.
Penelitian ini tidak lahir dari kebutuhan industri kosmetik. Titik berangkatnya adalah limbah pertanian yang selama ini dipandang sebelah mata. Rambut jagung atau corn silk yang biasa dibuang atau dibakar petani, ternyata menyimpan potensi besar setelah dibedah kandungan kimianya.
Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattley, salah satu peneliti, menjelaskan timnya menemukan senyawa aktif seperti ferulic acid dan flavonoid pada rambut jagung. Dua senyawa ini dikenal punya kemampuan menyerap radiasi ultraviolet. “Material yang selama ini terbuang ternyata menyimpan potensi sebagai agen pelindung terhadap paparan sinar UV,” ungkapnya, Jumat (17/4/2026).
Temuan itu tidak berhenti di tahap identifikasi. Tim UB melangkah ke formulasi produk dan pengujian efektivitas. “Efektivitas bahan tersebut diuji melalui pendekatan in vitro dan in vivo guna memastikan tingkat perlindungannya secara ilmiah,” tambah Dr. Rosalina.
Hasilnya mengejutkan: formulasi sunscreen berbasis rambut jagung ini mampu mencapai perlindungan SPF 30+. Angka ini merupakan standar yang umum dipakai untuk produk anak di wilayah tropis dengan paparan matahari tinggi seperti Indonesia. Artinya, pemanfaatan rambut jagung sudah melewati fase eksploratif dan masuk tahap validasi ilmiah yang terukur.
Aspek dermatologis jadi perhatian serius karena sasarannya anak usia 4–14 tahun. Dr. dr. Sinta Murlistyarini menekankan kulit anak tak bisa disamakan dengan dewasa. “Kulit anak memiliki lapisan pelindung yang lebih tipis dan lebih rentan terhadap iritasi, sehingga membutuhkan formulasi yang disusun secara khusus,” jelasnya.
Karena itu, BOUMI merancang formula pH-balanced, tanpa pewangi sintetis keras, dan memakai emolien yang mendukung skin barrier anak.
Penguatan bahan alami datang dari kajian minyak atsiri. Prof. Warsito, Kepala Institute Atsiri UB, menegaskan senyawa aktif tanaman punya fungsi yang bisa diukur ilmiah. “Termasuk aktivitas antimikroba dan antiinflamasi,” ujarnya. Dalam BOUMI, atsiri bukan tempelan aroma. Ia bagian integral dari struktur formulasi yang dirancang dan diuji sistematis selama lebih dari 10 tahun pada 40+ spesies tanaman Indonesia.
Transformasi riset jadi produk melewati jalan panjang: standardisasi produksi, uji keamanan, hingga layak edar. Prof. Unti Ludigdo, Wakil Rektor Bidang V UB, menyoroti pentingnya hilirisasi. “Kami ingin memastikan bahwa hasil riset tidak hanya berhenti di jurnal, tetapi juga dapat diuji dan dimanfaatkan dalam kehidupan nyata,” tegasnya.
Dengan begitu, sunscreen rambut jagung BOUMI mencerminkan riset berlapis dan terintegrasi. Mulai dari identifikasi limbah, analisis kandungan, uji efektivitas SPF 30+, formulasi khusus kulit anak, hingga hilirisasi industri bersama mitra. Limbah pertanian direkonstruksi nilainya lewat sains, lalu diterapkan dalam konteks yang sama sekali baru: melindungi anak Indonesia dari terik matahari. (lil).
