Figur Publik dan Bahasanya

6 November 2018 - 06:01 WIB

Oleh : Djuwari

Dalam artikel ini, saya tidak berpolemik terlalu jauh tentang istilah “Boyolali” yang berdebar di media akhir-akhir ini. Artikel ini tentang pengaruh figur publik pada perkembangan bahasa. Figur publik harus hati-hati dalam hal ucapan. Pengaruhnya sangat kuat. Jangankan terkait makna kata, figur publik itu juga berpengaruh pada baik buruknya perkembangan bahasa. Utamanya bahasa nasional Indonesia.

Saya masih ingat, ketika menjadi mahasiswa Prof. Anton Moeliono (Almarhum) di Fakultas Pascarasajana Jurusan Linguistik Terapan Bahasa Inggris (LTBI) Unika Atmajaya Jakarta pada 1995 sampai 1997. Saat itu, saya dapat matakuliah Sosiolinguistiks diberikan oleh Pak Anton (nama Panggilan Akrabnya).

Ada beberapa cerita menarik saat itu di kelas setiap diskusi per sesi. Yang paling saya ingat–di antara yang lain– tentang pengaruh figur publik terhadap perkembangan Bahasa. Ini khusus bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Figur publik sering andil dalam kosa kata bahasa Indonesia. Misalnya saja, ketika Presiden Soeharto (Pak Harto), dulu Presiden ini banyak berpengaruh pada bahasa Indonesia. Waktu itu, terkait dengan cara pengucapannya. Misalnya, ucapak akhiran “kan” selalu diucapkan dengan lafal “ken”. Contoh, “diberikan’ Pak Harto selalu mengucapkan “diberiken.” Kata “dipertimbangkan” diucapkan “dipertimbangken.” Karena, Pak Harto itu figur publik berpengaruh, maka hampir semua pejabat menirukan ucapan-ucapan semua kata yang berakhiran “kan” menjadi “ken”.

Pola berbahasa semacan ini dilakukan oleh pejabat mulai dari Pak Lurah, camat, campai Bupati dan pejabat tinggi lainnya. Menirukan ucapan bahasa figur publik— apalagi selevel Presiden— sama dengan mengidentikan diri sesama pejabat. Padahal, ucapannya (pronunciation) itu salah. Namun, figur publik itu cenderung ditiru oleh siapa saja.

Zaman saat itu, tidak ada satu pun guru bahasa Indonesia yang berani menegur ucapan yang salah tersebut. Padahal di seluruh sekolah, berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu termasuk ucapannya. Dan, akhiran “kan” itu yang benar itu diucapkan “kan” bukan “ken” Di samping ucapan, figur publik juga berpengaruh pada frekuensi penggunaan kosa kata. Figur publik itu tidak selalu tokoh pemerintahaan atau politik.

Figur publik bisa juga seniman. Misalnya saja Pelawak Tukul Arwana. Dalam serial TV acara Kembali ke Lap Top, dia sering mengucapkan kata “Katrok”. Istilah ini sempat menyebar ke mana-mana. Bahkan, di kampus-kampus pun ada yang mengucapkan istilah kata “Katrok.” Frekuensi penggunaan dalam kehidupan tinggi sekali.

Dalam pembinaan bahasa Indonesia, ada banyak faktor yang sangat berpengaruh. Namun, faktor figur publik lebih dominan. Itu sebabnya, apa pun yang diucapkan oleh figure publikic, akan cenderung dijadikan panutan oleh banyak orang. Terkait frekuensi pemakaian kata-kata baru, juga oleh Presiden Ke-empat kita, KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur, pernah mengucapakan kata-kata “Gitu Saja Kok Repot.”

Hampir semua publik mengenang ucapan itu. Hampir di mana-mana, kalimat seperti itu sering diucapkan oleh beberapa tokoh lain. Dalam pergaulan pun banyak orang yang menirukan kata-kata tersebut. Ada juga seniman dulu yaitu, penyanyi cilik Jossua. Saat itu, dia mengucapkan kata-kata “Jeruk Kok Makan Jeruk!” Istilah ini bahkan sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. Coba dicek di Google. Kata-kata itu, dulu pertama kali diucapkan oleh penyanyi cilik Jossua. Dan, akhirnya juga sering diucapkan oleh banyak orang sesuai konteksnya.

Intinya, Figur Publik dan ucapannya sangat berpengaruh. Sayang, kata-kata “Boyolali” itu “konteksnya” beda. Tidak sekadar ucapan saja, kata “Boyolali” sudah jauh dari konteks aslinya. Karena yang mengucapkannya itu Figur Publik—dalam suasana negeri “panas”— sudah jelas jadi topik karena figur yang mengucapkannya. Itu sebabnya, figur publik itu harus lebih hati-hati. Ini juga termasuk kata-kata “Sontoloyo, ” baru-baru ini. Figur Publik dituntut hati-hati dalam bertutur kata!

Mereka juga berpengaruh pada baik butuknya bahasa nasional kita.

Penulis: Pengamat Pendidikan dan Sosial; President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER); Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya