Transit, bukan Transport

6 November 2018 - 06:13 WIB

Oleh : Prof. Daniel Mohammad Rosyid

Saat kita menyaksikan kematian perlahan kota-kota kita oleh kemacetan dan polusi, belum lagi kematian massal sesaat akibat kejatuhan Lion Air JT610, tiba saatnya kita memeriksa praktek transportasi kita. Saat ini 300 orang lebih lebih mati perbulan di jalan-jalan di Jawa Timur saja, sementara Surabaya dan sekitarnya diguyur 1200 motor baru perhari dan 100 mobil baru perhari.

Sementara itu *angkutan umum hidup segan mati pun tak mau*. Rezim pembangunan mobilitas kita saat ini adalah _car mobility_, bukan _people mobility_. Kota secara keliru dirancang untuk memanjakan mobilitas mobil dan motor, bukan manusia.

Rezim mobilitas seperti ini dibangun di atas teknokratisme yang memihak pada pemodal besar seperti industri mobil dan motor, bukan memihak manusia kebanyakan atau wong cilik.

Seperti sekolah menggusur rumah sebagai satuan belajar, *transportasi* (mobilitas mekanik) menggusur *transit* (mobilitas metabolik) yang lebih alamiah dan informal serta juga menyehatkan seperti berjalan kaki dan bersepeda. Keluarga muda juga dini sekali jatuh dalam hutang untuk memiliki mobil dan motor. *Pelengkap transit adalah angkutan massal publik*.

Keduanya dihubungkan oleh _halte_ ataupun fasilitas _park and ride_. Jalan sebagai ruang publik seharusnya hanya boleh digunakan oleh angkutan publik.

Angkutan pribadi harus diberi hukuman setimpal. *Layanan transit dan angkutan publik adalah hak dasar bagi kehidupan masyarakat yang adil, sehat dan produktif*. Tanpa layanan ini, kota-kota adalah panggung ketidakadilan brutal yang terbuka. Pemerintah yang adil harus membuktikannya dari sini.

Pemerkosaan jalan sebagai ruang publik oleh monopoli mobil dan motor telah merampas trotoar dan ruang terbuka hijau lalu meminggirkan pejalan kaki dan pesepeda serta angkutan publik. Bahkan makin besar cc mobil dan motor pribadi, pemerkosaan jalan sebagai ruang publik makin menunjukkan ketidakadilan ruang yang brutal di depan mata kita.

Saat walikota Jogya Sabtu kemarin meluncurkan _Yogyabike_ yang menyediakan fasilitas sepeda gratis bagi warganya, saya berharap suatu ketika Yogya, juga kota-kota lain di negeri ini, akan menjadi kawasan bebas mobil dan motor. Bukan skedar _car free zone_ di akhir pekan, tapi _car free city_ sepanjang pekan. Harapan ini mungkin utopis, seperti merebut kesempatan belajar tanpa bersekolah dan berpolitik tanpa partai politik. Tapi harapan utopis adalah satu-satunya yang masih tersisa agar kita sanggup melanjutkan kehidupan.

Gunung Anyar, 4/11/2018