Furniture Bernilai Ekonomis

20 July 2019 - 13:41 WIB
Mahasiswa UMM ini berhasil menyulap sampah menjadi furniture.

MALANG  (SurabayaPost.id) – Lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang  (UMM) berhasil menyulap sampah menjadi furniture bernilai ekonomis. Itu bermula dari keprihatinan mereka  pada sampah plastik yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Maklum mereka merupakan   mahasiswa Program Studi (Prodi) Kehutanan, Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka menginisiasi pengolahan sampah plastik menjadi lempengan untuk bahan baku furniture.

Di antara mereka adalah Ainun Fadillah, Agus Firmansyah. Selain itu Dany Fiqrullah Jaki, Oktavian Dwi Sumbermanto dan Samsul sebagai ketua.

“Karena keprihatinan kami atas hal tersebut (menggunungnya sampah), maka kami mencoba untuk mengolah sampah plastik sebagai bahan baku untuk furniture,” ucap Agus Dkk, saat ditemui Jumat (19/7/2019).

Dilanjutkan Agus, bahwa produk olahan mereka sangat ramah lingkungan serta tidak mencemari lingkungan sekitar. Hal ini dilihat dari cara mereka mengolah sampah yang akan dibakar. Dimulai dari proses memilah sampah-sampah plastik seperti botol kemasan mineral, kresek ataupun bungkus jajanan plastik ke proses pembakaran.

“Karena saat dibakar sampah plastik ditutup dan asapnya disalurkan ke dalam air melalui selang yang dipasang sebagai satu-satunya saluran untuk mengeluarkan asap. Ini tidak akan merusak lingkungan karena Karbon Dioksida kita salurkan ke dalam sebuah wadah berisi air yang diletakkan di sebelah tempat pembakaran,” lanjut Agus.

Cairan plastik hasil pembakaran dialirkan kedalam cetakan yang berbentuk kotak berukuran 50 x 50 cm. Menariknya dari lempengan itu, PKM hasil bimbingan Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, MP., IPM. Ini,  menghasilkan produk olahan berupa Dingklik, Meja, bahkan Lemari dengan kisaran harga mulai dari Rp 85 ribu hingga Rp 250 ribu.

Proyek ini, sambung mahasiswa 2015 ini, didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan. “PKM kami dimulai sejak tahun 2015 atau lebih tepatnya dari jaman kami mahasiswa baru. Kebetulan kami semuanya satu kelas, sehingga untuk koordinasi jadi lebih mudah. Sekarang tinggal fokus pemasaran,” ungkapnya.

PKM garapan kelima mahasiswa ini sejalan dengan program yang tengah digalakkan UMM untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik. Kampanye ini dimulai dengan mendorong seluruh civitas akademika UMM melalui berbagai aksi kreatif. Misalnya melalui video berdurasi pendek di Instagram dengan hastag #dietsampahplastik. (aii)