Kegagalan Sepakbola Kota Malang di Porprov Dinilai Karena Kegagalan Pembinaan  

15 July 2019 - 09:27 WIB
Pengamat sepakbola, Yunan Syaifullah
Pengamat sepakbola, Yunan Syaifullah

MALANG (SurabayaPost.id) – Kegagalan Tim Sepak Bola dan Futsal Kota Malang meraih emas pada Porprov 2019 dinilai  karena ketidakmampuan mengelola dan membina atlet olahraga yang banyak disukai masyarakat itu.

Penilaian tersebut disampaikan pengamat Sepak Bola Yunan Syaifullah yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (15/7/3019). Dia  menegaskan perlu ada evaluasi dan sikap tegas.

“Kegagalan sepak bola Kota Malang dalam meraih prestasi di Porprov Jatim itu karena ketidakmampuan menjaga tinta emas dan sejarah sepak bola di Kota Malang,” katanya saat dimintai komentar terkait kegagalan tim sepakbola dan futsal Kota Malang meraih medali emas pada Porprov 2019 yang baru usai.

Sepak bola, kata pembina sepakbola UMM ini  hanya dipergunakan dan berorientasi serta  dibangun untuk kepentingan jangka pendek, prestasi secara instan.  Konsekuensinya melupakan sebuah proses panjang yakni pembinaan dari hulu.

Dia mencontohkan, kompetisi kelompok umur sudah tidak ada di kota Malang selama puluhan tahun. Begitu pula turnamen yang memfasilitasi potensi anak muda, seperti Tirta Dharma Cup dan Baladika Cup sudah tidak ada dan tidak berjalan sejak tahun 1990-an akhir.

Begitu juga futsal. Turnamen futsal hanya digelar pada momen tertentu saja, namun sangat kurang dari sisi pembinaannya.

“Turnamen Futsal masih tinggi dan dinamis karena faktor kampus yang sering menyelenggarakan,” ucapnya.

Jalur prestasi untuk atlet, khususnya sepak bola di lembaga pendidikan dari SMP, SMA, SMK porsinya makin berkurang. Terlebih aturan pendaftaran siswa baru memberatkan calon siswa yang memiliki prestasi

SSB begitu banyak di Kota Malang tapi kemampuan dan potensi mereka (pemain muda) tidak banyak terserap di klub klub kota Malang. Akhirnya mereka berkiprah di kota lain dan berhasil.

Terlebih tahun ini, aturan zonasi berpengaruh terhadap calon calon siswa yang akan masuk sekolah. Terlebih mereka yang memiliki prestasi itu tinggalnya di pinggir kota. Seharusnya itu bisa ditampung lewat jalur prestasi.  

Contoh riil, SMAN 7 Malang yang selama ini dikenal dengan sekolah untuk para atlet sepak bola. Namun  kini tidak bisa otomatis menerima anak anak binaan ASIFA-nya Aji Santoso karena masalah zonasi

“Hingga kini belum ada kebijakan khusus Walikota untuk menyelamatkan sepak bola di Kota Malang,” ucapnya.

Retorika menurut dia sudah  sering dilakukan Pemda, namun tidak diikuti kebijakan dan peraturan turunan. Perlu pula ada kurikulum khas yang disisipkan di proses pembelajaran berkaitan olahraga yang jadi branding Kota Malang ini.

“Berharap ke SSB sepenuhnya dalam mencetak atlet sepak bola untuk memenuhi kebutuhan turnamen-turnamen, tidak bisa, harus ada kolaborasi dengan institusi pendidikan,” ujarnya.

Karena itulah, dia menegaskan, PSSI mestinya mampu membangun jaringan dengan stakeholder dan institusi lain dalam membangun sepak bola Kota Malang. Institusi lain diajak untuk ikut memajukan sepak bola dengan membentuk tim maupun turnamen yang digelar secara kontinyu dan menyeluruh.

“Yang tentu sangat penting, turnamen-turnamen digelar oleh PSSI sendiri. Selain itu PSSI juga harus hadir mendukung keberadaan klub-klub dengan memberikan bantuan pendanaan agar dapat berkembang maju,” ujarnya.

Intinya, kata dia,  lewat pembinaan yang baik maka diharapkan bahwa pemain yang membela Kota Malang dalam berbagai kompetisi benar-benar pemain warga kota setempat. “Mereka  merupakan pemain-pemain terbaik jebolan kompetisi internal,” pungkasnya. (lil)