Lewat GRAPYAK, Puskesmas Gribig Sukses Turunkan BGM Hingga 50%

12 December 2018 - 16:10 WIB
Kepala Puskesmas Gribig, Drg Dinna Indarti
Kepala Puskesmas Gribig, Drg Dinna Indarti

MALANG  (SurabayaPost.id) – Puskesmas Gribig, Kedungkandang, Kota Malang, Jatim sukses meraih penghargaan tingkat Provinsi Jatim. Keberhasilan itu tak lepas dari program layanan GRAPYAK yang berhasil menekan angka  kurang gizi Balita di bawah garis merah (BGM) sampai 50%.

Menurut Kepala  Puskesmas Gribig, Drg Dinna Indarti, program layanan GRAPYAK itu merupakan singkatan dari ‎Gribig Ramah, Profesional Melayani Masyarakat. “Itu kami implementasikan dalam memberikan layanan pada masyarakat,” kata dia saat mendampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Dr dr Asih Tri Rachmi.

Dijelaskan dia, melalui program layanan GRAPYAK itu, Puskesmas Gribig ini berhasil menurunkan  Balita kurang gizi yang ada di bawah garis merah. Penurunannya diklaim hingga 50 persen.

“Makanya, tahun 2019 nanti kami akan terus meningkatkan  layanan program GRAPYAK itu. Sehingga, hasilnya seperti yang diharapkan,” kata dia.

Saat ditanya soal rahasia model layanan GRAPYAK hingga berhasil  menurunkan BGM 50%, dia memaparkan dengan gamblang. Menurut dia, dalam identifikasi masalah terdapat stratifikasi persoalan  yang harus diprioritaskan.

Di antaranya, disebutkan dia  tingginya angka ibu hamil yang rawan  karena KEK (kurangnya energi kronik). Kemudian tingginya angka Balita dibawah garis merah yang mencapai 293. Itu  yang ditangani berhasil ditingkatkan gizinya 68. Sedangkan yang ketiga rendahnya cakupan layanan pada Balita.

“Lalu kami lakukan langkah awal untuk  mencari alternatif solusi dari masalah yang ada. Yakni kurang teraturnya distribusi makanan tambahan,  kurang teraturnya makanan tambahan, kurang variatif, partisipasi kurang, minimnya tenaga posyandu, dan minimnya pendidikan orang tua bayi,” kata dia.

Berdasarkan identifikasi masalah itu, “Solusinya yang pertama agar teratur adalah membentuk Jek Food, menambah variasi makanan tambahan, untuk kader yang minim perlu adanya penambahan dan regenerasi kader posyandu, menambah intensitas sosialisasi  ‎pada masyarakat, menambah intensitas sosialisasi status gizi pada ibu hamil dan menyusui,” papar alumni FK Unej ini dengan antusias.

Terbentuknya Jek Food, lanjut ibu arema asli lulusan SMAN 5 Kota Malang itu disokong dana dari tiga sumber. Yakni swadaya masyarakat, jimpitan dan iuran. Semua itu, sampai  kini berjalan lancar. Sehingga dalam 5 bulan bisa menurunkan sampai 50 %   BGM.

Karena itu, tandas dia, ke depan program layanan GRAPYAK itu akan ditingkatkan. “Sehingga, tahun 2019, kami optimis bisa menekan hingga tinggal 20%,” tandasnya berharap. (drz)