
MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Menghadapi tantangan pertanian di era modern, inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas. Ini bukan sekadar teori, melainkan aksi nyata yang diwujudkan oleh tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang beranggotakan 12 orang.
Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2025, mereka memperkenalkan teknologi Augmentarium dan konservasi parasitoid berbasis IoT 5.0 untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas jeruk. Program ini dilaksanakan di Desa Bocek, Kabupaten Malang, sejak Juli lalu. Proyek ambisius ini tidak hanya bertujuan menekan populasi hama, tetapi juga menciptakan ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
Program yang didanai Kemenristek Dikti ini berawal dari permasalahan yang dihadapi petani jeruk di Desa Bocek yang merupakan sentra produksi jeruk terbesar di Malang. Meski memiliki produksi melimpah, kualitas jeruk di desa tersebut kerap kali rendah akibat serangan hama lalat buah. Hal ini diungkapkan oleh salah satu anggota tim, M. Ahdi Furqon yang akrab disapa Ahdi.
“Kami memilih Desa Bocek karena merupakan sentra produksi jeruk terbesar di kota Malang. Banyak produksi yang melimpah, tetapi kualitas jeruknya itu masih banyak yang jelek dan pohon-pohon banyak yang terkena serangan,” terang Ahdi.
Melihat kondisi ini, tim berinisiatif mencari solusi inovatif yang dapat mengurangi kerugian petani. Setelah berdiskusi dengan Kelompok Tani Tri Rejeki, mereka menemukan bahwa masalah utama terletak pada buah jeruk yang rontok akibat serangan hama lalat buah.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim menciptakan Augmentarium. Teknologi ini bekerja dengan cara mengumpulkan buah-buah jeruk yang terserang lalat buah ke dalam sebuah bangunan khusus. Desain bangunan ini dibuat agar parasitoid, musuh alami lalat buah dapat keluar dan menyebar ke kebun akan tetapi lalat buah terperangkap di bangunan tersebut.
“Teknologi Augmentarium sendiri itu adalah teknologi yang mana kita mengkarantina atau mengisolasi buah-buah yang terkena serangan lalat buah,” jelas Ahdi.

Proses ini memungkinkan tim untuk mengkonservasi parasitoid, yaitu membudidayakan musuh alami lalat buah di lingkungan yang terkontrol. Uniknya, teknologi ini diintegrasikan dengan sistem IoT 5.0. Ini memungkinkan tim memantau kondisi suhu dan kelembapan secara real-time. Hal ini memastikan lingkungan di dalam Augmentarium optimal bagi perkembangbiakan parasitoid.
Adapun Ahdi mentakan, program tersebut tidak akan berjalan tanpa bimbingan dan dukungan dari dosen pembimbing, Ilmam Zul Fahmi, S.P., M.Sc. Ia merupakan dosen yang sangat aktif dan berdedikasi.
“Pak Ilmam juga sering berkunjung dan mengarahkan mengenai bagaimana cara kita menggunakan jurnal, bagaimana cara kita membuat modul, bagaimana cara kita melobi-lobi ke kelompok tani yang lain, dan masih banyak lagi,” tutur Ahdi.
Kehadiran program yang telah mencapai 90% penyelesaian ini telah memberikan dampak nyata bagi petani. Selain mendapatkan modul dan panduan teknis, petani juga memperoleh pengetahuan baru tentang pentingnya musuh alami dalam ekosistem pertanian. Jangka panjangnya, program ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia, menciptakan pertanian yang lebih ramah lingkungan, dan meningkatkan kualitas serta kuantitas panen jeruk.
Proyek ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu untuk memecahkan masalah di masyarakat. Dengan dukungan penuh dari UMM, dosen, dan masyarakat desa, inovasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di daerah lain. (*)