Sekitar 6 Persen Balita di Kota Malang Terindikasi Stunting

5 December 2018 - 18:18 WIB
Kepala Dinkes Kota Malang Dr dr Asih Tri Rachmi
Kepala Dinkes Kota Malang Dr dr Asih Tri Rachmi

MALANG (Surabayapost.id) – Pencegahan stunting menjadi salah satu fokus pemerintah saat ini. Hal itu diungkapkan Wali Kota Malang, Sutiaji.

Dijelaskan dia bahwa upaya tersebut bertujuan agar anak – anak Indonesia tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal dengan disertai kemampuan emosional, sosial, maupun fisik.

Itu harapannya agar mereka siap untuk belajar serta berinovasi dan berkompetisi di tingkat global. Sehingga anak-anak di Indonesia, khususnya Kota Malang menjadi sehat dan normal semua.

Itu mengingat hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), tingkat stunting di Indonesia tertinggi kedua di Asia Tenggara. Bahkan lebih tinggi dari beberapa negara Afrika.

“Ya, karena satu dari tiga balita Indonesia menderita stunting,” kata Kepala Seksi Kesga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Malang Meifta Eti Winindar SST MM saat mendampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Dr dr Asih Tri Rahmi, MM, Sabtu (3/12/2018).

Dijelaskan dia bahwa stunting itu merupakan masalah kurang gizi kronis. Itu disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Ciri secara fisik, tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil ) dari standar usianya. Kota Malang juga merupakan salah satu kota yang tak lepas dari kasus stunting.

Menurut Meifta Eti Winindar sekitar 6 persen dari total bayi dan balita di Kota Malang mengalami stunting.

“Kita sudah melaksanakan yang namanya operasi timbang yang dilaksanakan kepada semua bayi dan balita yang ada di Kota Malang pada usia 0 sampai dengan 5 tahun. Didapatkan data bahwa sekitar 6 persen dari total bayi dan balita yang ada di Kota Malang itu mengalami stunting,” ungkapnya.

Makanya, kata dia, seminar ilmiah Cegah Stunting untuk Generasi Sehat Indonesia dalam Rangka Hari Kesehatan Nasional Ke- 54 Pemerintah Kota Malang di Auditorium Politeknik Kesehatan Kemenkes Kota Malang dinilai sangat penting.

“Ya meskipun jumlahnya itu sedikit, tetapi masih ada,” tegasnya.
Oleh karena itu, kata dia, Dinas Kesehatan (Dinkes) terus berupaya mengeliminasi stunting.

Dengan semangat HKN, tutur dia, Dinkes berupaya mengurangi jumlah stunting yang ada di Kota Malang. Salah satu caranya dengan melakukan intervensi spesifik.

“Bukan hanya di salah satu profesi, yaitu profesi gizi saja. Tetapi dari berbagai macam profesi ada di sana. Jadi dari event HKN (seminar ilmiah cegah stunting) ini kami bermaksud agar semua insan kesehatan dari berbagai profesi itu terlibat di sana. Karena mencegah stunting itu penting,” pungkasnya. (Drz)