Tangani Kasus Pelecehan, Ketua Komnas PA Kunjungi Polres Batu dan PP

9 June 2021 - 19:46 WIB
Arist Merdeka Sirait bersama saat di Mapolres Batu

BATU (SurabayaPost.id) – Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, Rabu (9/7/2021) berkunjung ke Polres Batu dan Kantor Majelis Pimpinan Cabang ( MPC) Ormas PP Kota Batu. 

Kunjungannya tersebut terkait kasus pelecehan seksual yang dialami siswa Slekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI). Di Polres Batu dia mendorong polisi agar penanganan kasus tersebut cepat selesai. 

Sedangkan ke kantor PP diamenyampaikan apresiasinya. Sebab,  PP sudah melakukan aksi damai di sekolah SPI memprotes kasus dugaan pelecehan seksual itu. 

“Aksi kepedulian masyarakat, baik dari ormas, perorangan dan sebagainya itu sebagai bentuk kepedulian. Kami  dari  Komnas PA  memberikan apresiasi karena itu bagian dari tanggung jawab masyarakat untuk membebaskan Kota Batu dan lembaga – lembaga pendidikan dari kekerasan dan segala bentuk pelanggaran – pelanggaran  terhadap anak,” tegasnya.

Endro Wahyu bersama Arist Merdeka Sirait di Kantor MPC PP, Kota Batu

Dan aksi itu,kata dia, sebagai kontrol masyarakat, jadi apa yang dilalukan ormas PP, merupakan bagian kontrol masyarakat. “‘Paling tidak Kota Batu bisa bebas dari segala bentuk kekerasan termasuk didalamnya sekolah SPI yang diduga dilakukan inisial JE pengelola dari SPI,” paparnya.

Jadi, papar dia, Komnas perlindungan anak mendukung penuh terhadap aksi damai PP. Alasannya, karena itu bagian dari peran serta masyarakat.

Dia menjelaskan bahwa penyidik Polda Jatim sudah punya dua alat bukti yang cukup. “Jadibtak ada alasan untuk tidak meneruskan proses hukumnya,” jelas dia.

Ketua Komnas PA foto bersama pengurus PP

Dia mengatakan polisi sudah melakukan langkah – langkah hukum. Misalnya, memanggil saksi. Sebab sudah alat bukti sudah diberikan ke Polda Jatim.

Karena itu,  dia berharap kasus tersebut bisa segera dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sehingga bisa segera disidangkan. 

Sementara itu, Ketua MPC Ormas PP Kota Batu, Endro Wahyu mengatakan bila  aksi damai itu sebagai bentuk dukungan moral kepada siswa – siswi di SPI. 

“Setidaknya mereka tidak merasa sendiri. Sebab mereka yang diduga sebagai korban tergolong dari keluarga yang tidak mampu. Kalau peristiwa itu benar adanya,tentunya korban – korban itu telah  dihancurkan masa depannya,” serunya.

Oleh karena itu, Endro berharap  mereka tetap semangat. Sebab dia  yakin kebenaran akan berpihak pada yang benar. (Gus)