Uang Masih Menjadi Penentu Pilbup Gresik

4 August 2020 - 10:20 WIB

GRESIK (SurabayaPost.id)–Uang akan tetap menjadi penentu di pemilihan Calon Bupati dan Calon wakil Bupati Gresik periode 2020-2024 yang akan di gelar serentak pada 9 Desember 2020. Diatas kertas sampai hari ini pasangan Cabup Moh Qosim dan Cawabup Asluchul Alief Maslihan (QA) yang diusung oleh partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Gerindra masih unggul elektabilitasnya. Kekuatan politik Qosim sebagai incumbent (Wakil Bupati Gresik) selama dua periode atau sepuluh tahun bersama Bupati Sambari Halim Radianto yang saat ini masih menjabat telah bersentuhan langsung dengan masyarakat melalui program program pemerintahanya. Namun saat ini menurut analisa wartawan salah satu kotan harian di Jatim dan sekaligus Ketua Komunitas Wartawan Gresik (KWG), Syuhud Almanfaluty tren pasangan Fandi Akhmad Yani dan Aminatun Habibah (Niat) yang resmi diberangkatkan oleh partai koalisi Golkar, Nasdem, Demokrat dan PAN itu mengalami peningkatan elektabilitas meski belum signifikan.

“Saat ini elektabilitas Qosim berkisar 50 persen, sedangkan Yani berkisar 30 persen. Namun seiring dengan perjalananya elektabilitas Yani trenya naik. Dan elektabilitas Qosim juga mengalami penurunan meski tidak signifikan karena ada tarik ulur di lingkungan pemilih perempuan. Kita tunggu saja karena dengan sisa waktu yang ada apapun masih bisa terjadi. Contohnya dalam kasus Pilkada Jatim tahun lalu. Tiba tiba Anas yang di gandengan dengan Gus Ipul tiba tiba rontok ditengah jalan. Karena tersandung masalah moralitas. Makanya apapun masih bisa terjadi,” ungkap Syuhud saat menyampaikan analisanya di pertarungan Pilbup di Gresik, Selasa (4/8).

Saat ini kata dia, dua partai yakni PDIP dan PPP juga masih menunggu rekomendasinya jatuh ke pasangan siapa. Misalkan PDIP menurutnya akan tetap mengambil posisi politik di Gresik se setrategis mungkin. Karena PDIP saat ini adalah partai penguasa yang tentu memiliki banyak kepentingan. Mereka harus memiliki bupati atau minimal mendukung partai yang berpotensi memenangkan kontestasi di Gresik.

“Saat ini adalah eranya PDIP untuk memiliki bupati di Gresik. Karena Gresik memiliki banyak industri yang cukup bagus kedepanya. Misalkan JIIPE. Kapnajangan tangan politik melalui kekuasaan. Karenanya untuk memutuskan PDIP mendukung siapa masih menunggu tren politik menjelang dan sebelum pencoblosan,” ungkapnya.

Ditegaskan Syuhud, ada yang menarik dalam percaturan pilbup di Gresik tahun ini. Biasanya kubu incumbent pada pertarungan Pilbup dua periode yang lalu, selalu memborong partai, tapi saat ini hanya dua partai, yakni PKB dan Gerindra. Dan sampai hari ini kubu incumbent juga belum menurunkan dananya untuk menghimpun kekuatan.

“Justeru yang sudah mengeluarkan jurusnya pasangan Niat. Misalnya memberangkat haji juara MTQ Nasional. Memborong partai dan banyak lagi yang mungkin tidak perlu disebutkan. Partai yang berbondong bondong ke Yani itu bukan gerakan sosial, tetapi ini adalah pertarungan politik. Tentu tidak mungkin tanpa baiaya, karena Yani adalah kader PKB. Sedangkan kubu incumbent gebrakan politiknya tidak seperti sepuluh tahun yang lalu. Mereka dulu partai diborong semua. Saat ini nampaknya mereka menghitungnya hingga matang. Dan atau PDIP dan PPP akan berlabuh ke Qosim ? Kita belum tahu,” tuturnya.

Terkait dengan rekomendasi yang saat ini dipegang masing masing calon masih dalam tarap rekomendasi yang belum final. Sewaktu waktu kemungkinan kemungkinan masih bisa berubah ubah. Politik menurutnya sangat bergantung kepada ketebalan dana dan elektabilitas calon. Karena mesin partai dibutuhkan, dana juga dibutuhkan.

“Jika Qosim mampu mempertahankan ritme politik dan elektabilitasnya kemungkinan rekomendasi berubah sangat kecil. Nah, untuk rekom berubah ke Yani juga sangat kecil. Tolok ukurnya saat ini Yani telah dilengserkan oleh partai dari jabatanya sebagai Ketua DPRD Gresik yang di gantikan oleh Abdul Qodir yang sebelumnya sebagai ketua Fraksi PKB. Bahkan nasib Yani tinggal menunggu PAW saja sebenarnya. Sedangkan terkait dengan dukungan partai politik. Partai boleh banyak, tetapi jika penggerak mesin partai tidak ada maka akan jadi amburadul. Misalnya uang ada tetapi tidak tepat sasaranya juga akan menjadi lumpuh pergerakan politiknya. Tentu yang paling menentukan adalah dana dan soliditas tim pemenangan yang tidak hanya sukses mengantongi uangnya tetapi benar benar turun orang dan uangnya sehingga menyentuh di akar rumput. Itulah yang akan menjadi pemenangnya,” pungkasnya.