Umat Muslim Malaka Jadi Contoh Toleransi Beragama 

21 April 2019 - 21:41 WIB
Para haji dan uztad NU Kabupaten Malaka membentuk pagar betis mengamankan Prosesi Jalan Salib Hidup yang dilakukan umat katolik Malaka pada Jumat (19/04/2019).
Para haji dan uztad NU Kabupaten Malaka membentuk pagar betis mengamankan Prosesi Jalan Salib Hidup yang dilakukan umat katolik Malaka pada Jumat (19/04/2019).

BETUN (SurabayaPost.id) – Umat Muslim Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat apresiasi tinggi dari Deken Malaka Romo Edmundus Sako, Pr selaku pimpinan gereja katolik lokal tertinggi di wilayah itu.
Apresiasi ini diungkapkan Romo Edmundus di hadapan ratusan umat katolik di Gereja Paroki Santa Maria Fatima Betun sesaat sebelum menutup Perayaan Hari Minggu Paskah, Minggu (21/04/2019).

Romo Edmundus kepada umat katolik yang hadir menjelaskan, umat Muslim terutama para haji dan ustadz telah mengambil peran dalam Jalan Salib Hidup Paskah 2019 dengan menjaga keamanan.

“Apa yang dilakukan para haji dan ustadz ini merupakan contoh toleransi yang baik dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Malaka”, tandas Romo Edmundus yang mendapat tepukan tangan meriah dari umat.

Dia berharap umat katolik juga melakukan hal yang sama saat umat muslim merayakan hari-hari besar keagamaan mereka.  Romo Edmundus   menyampaikan apresiasi yang sama di hadapan umat katolik  pada Perayaan Misa Hari Jumat Agung dan Sabtu Alleluya.

Deken Malaka Romo Edmundus Sako, Pr  menyalami para haji dan uztad NU yang terlibat dalam Prosesi Jalan Salib Hidup umat katolik di Betun pada Jumat (19/04/2019).
Deken Malaka Romo Edmundus Sako, Pr  menyalami para haji dan ustadz  NU yang terlibat dalam Prosesi Jalan Salib Hidup umat katolik di Betun pada Jumat (19/04/2019).

Sesuai kesaksian SurabayaPost.id, pada Jumat (19/04/2019) pagi, Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Kabupaten Malaka Zaenal Muttaqin langsung memimpin belasan haji dan ustadz untuk menjaga keamanan selama berlangsungnya Jalan Salib Hidup Paskah 2019 yang dilakukan umat katolik setempat.

Jalan Salib Hidup ini diprakarsai Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria Fatima Betun dan dipimpin Romo Edmundus Sako selaku pastor paroki.
Untuk kegiatan ini, sejak  pukul 07.00 wita, para haji dan ustadz itu sudah berada di depan jalan masuk ke gereja Paroki Betun. Mereka mengenakan atribut NU berupa topi dan baju kemeja batik warna hijau dipadu selendang tenunan Malaka.

Ketua NU Cabang Kabupaten Malaka Zaenal Muttaqin menjelaskan, keterlibatan NU dalam Jalan Salib Hidup yang dilakukan umat katolik kali ini bukan yang pertama kali.

“NU terlibat dalam kegiatan seperti ini sudah sejak 2016. NU bersama umat muslim dan non muslim berusaha tetap hidup rukun dengan menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Malaka”, kata  Zaenal.

Selain NU, sebut Zaenal, Pemuda Ansor sebagai organisasi sayap otonom NU juga dilibatkan dalam kegiatan jalan salib kali ini.

“Indonesia ini adalah sebuah negara besar yang terdiri dari berbagai suku, agama dan golongan. Tetapi, ideologi kita adalah Pancasila. Pancasila yang mengikat kita. Sehingga, semua perbedaan itu bukan untuk memecah-belah kita tetapi menjadi kekuatan untuk kita tetap bersatu dan berdaulat untuk tetap mempertahankan Pancasila dan menjaga keutuhan NKRI,” tandas Zaenal.

Ketua Pemuda Ansor Kabupaten Malaka Yulianto mengatakan, keterlibatan Pemuda Ansor bersama-sama dengan NU merupakan komitmen organisasi untuk tetap menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama.
“Kita tidak menginginkan terjadinya  hal-hal yang tidak kita inginkan bersama”, kata Yulianto.

Jalan Salib Hidup itu sendiri dilakukan untuk merenungkan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus 2000 tahun lebih yang lalu.  

Jalan  Salib ini berawal dan didahului dengan doa bersama di dalam gereja Paroki Betun. Selanjutnya, menempuh rute ruas jalan Toko Kreasi dan bankNTT Cabang Betun.

Lalu, memasuki ruas jalan Pasar Ayam Bei Abuk, jalan Pasar Bakateu, belakang SMA Sinar Pancasila, Pasar Desa Kampung Baru, samping Mapolsek Malaka Tengah, pasar lama Wehali, Terminal Betun dan berakhir di Gua Lourdes Tubaki.

Sebelum umat katolik berarak menuju Gua Lourdes Tubaki yang menjadi titik terakhir jalan salib, Romo Edmundus yang adalah Ketua Forum Komunikasi Antarumat Beragama (FKUB) Kabupaten Malaka itu menyalami para haji dan ustadz satu demi satu sekalian menyampaikan terima kasih. (cyk)