Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas, Buku Keempat Rinda Puspasari Resmi Diluncurkan di Malang

PENULIS: Rinda Puspasari, S.Pi., M.P., menyerahkan buku hasil karya keempatnya kepada salah satu awak media disela peluncuran.
PENULIS: Rinda Puspasari, S.Pi., M.P., menyerahkan buku hasil karya keempatnya kepada salah satu awak media disela peluncuran.

MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas. Kalimat itu kini resmi menjadi buku keempat penulis Rinda Puspasari, S.Pi., M.P., yang diluncurkan dalam pertemuan terbatas bersama media dan sahabat dekat di Café Mami Combi, Malang, Sabtu (24/10/2026).

Peluncuran ini menandai perjalanan produktif Rinda di dunia kepenulisan dalam dua tahun terakhir. Buku pertamanya berjudul Bertemu Mutiara, Indonesia diterbitkan pada tahun 2024, kemudian buku kedua Di Bawah Langit yang Bukan Milikku terbit pada tahun 2025. Selanjutnya, buku ketiga Koi: Dari Kolam Kaisar ke Nusantara Jejak Waktu dan Rahasia Gigi yang Berbisik juga terbit pada tahun 2025, dan kini buku keempat Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas yang resmi di-launching pada Sabtu (24/10/2026).

Jika tiga buku sebelumnya banyak mengangkat tema perjalanan, sains, budaya, dan alam, pada buku keempat ini Rinda secara khusus menyoroti isu perempuan, kedewasaan, dan kemampuan mengenali diri.

Gagasan buku ini bermula dari cerita seorang teman tentang anak perempuannya. Sang gadis dikenal pandai, penurut, dan nyaris tak pernah membantah. Namun ketika beranjak dewasa dan mulai mengenal lawan jenis, sikapnya berubah dan membuat orang tuanya kewalahan.

“Dari situ saya berpikir, selama ini kita sudah memberi banyak bekal kepada anak perempuan, pendidikan, nilai agama, moral, nasihat. Tapi ketika ia mulai memiliki kehendaknya sendiri, persoalannya jauh lebih rumit,” ujar Rinda.

Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas, Buku Keempat Rinda Puspasari Resmi Diluncurkan di Malang, Sabtu (24/10/2026).
Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas, Buku Keempat Rinda Puspasari Resmi Diluncurkan di Malang, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, menjadi dewasa bukan hanya soal mendapat kebebasan yang lebih besar. Di fase itu muncul ketertarikan, keinginan untuk dicintai dan diterima, kedekatan emosional, hingga dorongan biologis dengan intensitas yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Nilai agama dan moral tetap menjadi landasan penting. Namun mengetahui benar dan salah, kata dia, tidak otomatis membuat seseorang mampu mengambil keputusan ketika perasaan dan konsekuensi hadir bersamaan.

“Mengetahui sesuatu tidak baik belum tentu membuat seseorang tidak menginginkannya. Karena itu, selain nilai dari luar, perempuan perlu membangun kemampuan dari dalam untuk mengenali dirinya, memahami batas, melihat risiko, dan bertanggung jawab atas pilihannya,” jelasnya.

Angka 17 dalam judul Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas bukan batas kaku usia dewasa. Bagi Rinda, 17 adalah simbol ambang, masa ketika dunia mulai berkata seseorang sudah cukup besar untuk memilih.

“Pada suatu titik dunia berkata, ‘Kamu sudah cukup besar untuk memilih’. Pertanyaan saya justru, apakah kita sudah cukup mengenali diri untuk tahu mengapa kita memilih sesuatu?” tuturnya.

Pada buku keempat ini Rinda sengaja tidak menawarkan satu bentuk kehidupan yang paling benar bagi perempuan. Pernikahan, karier, maupun kemandirian, tidak ditempatkan sebagai jawaban tunggal.

Yang ia soroti adalah asal-usul sebuah pilihan. Apakah keputusan itu lahir dari keinginan sendiri, rasa takut kehilangan, kebutuhan untuk diterima, atau tekanan lingkungan?

“Persoalannya bukan hanya pilihan apa yang diambil, tetapi dari mana pilihan itu lahir. Dua perempuan bisa membuat keputusan yang sama, tetapi berangkat dari kesadaran yang sama sekali berbeda,” tegasnya.

Rinda berharap buku Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas tidak hanya dibaca perempuan muda, tetapi juga orang tua dan laki-laki. Ia menegaskan, anak yang penurut belum tentu siap memilih, dan perempuan tidak bisa selamanya dijaga hanya dengan pagar.

“Suatu hari ia harus mempunyai kompasnya sendiri,” katanya.

Sementara hubungan yang sehat, menurutnya, tidak hanya dibangun oleh perempuan yang pandai menjaga diri, melainkan oleh dua manusia yang saling menghormati batas.

Melalui buku keempatnya ini, Rinda berharap pembaca tidak selesai dengan jawaban mutlak.

“Saya tidak berharap pembaca berkata ‘Sekarang saya tahu bagaimana harus hidup’. Saya justru berharap ia mulai bertanya, ‘Mengapa saya memilih ini?'” pungkasnya.

Tentang Penulis

Rinda Puspasari, S.Pi., M.P., merupakan lulusan Sarjana dan Magister Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya dan pernah mengajar di fakultas yang sama. Pengalaman akademiknya membawanya ke Jepang, di Hiroshima University dan University of Miyazaki (2014-2020) dengan publikasi di jurnal internasional Crop Science dan Plant and Soil. (lil).

Baca Juga: