What it means to be socially distanced and masked : A Post-truth Reality?

9 June 2020 - 15:00 WIB

Oleh : Prof. Daniel M. Rosyid PhD

Pandemisasi Covid-19 oleh WHO beserta seluruh protokol kesehatannya yang disemburkan bertubi-tubi dan berminggu-minggu melalui medsos dan medstream telah memaksa ummat manusia untuk menerima kutukan hidup bersama Covid-19 lalu secara sukarela memasuki kehidupan Normal Baru. Asumsinya, kehidupan sebelum pandemi ini adalah normal, dan setelah diruntuhkan oleh pandemi ini, kita harus hidup “normal” dengan gaya baru karena virus Covid-19 ini akan lama di sekitar kita sebagai ancaman laten : jaga jarak dan bermasker kemanapun kita pergi bahkan di tempat ibadah dan dalam kerumunan bersama keluarga sendiri.

Sebagai warga bangsa yang merdeka saya menolak narasi post-truth ini. Narasi Normal Baru memaksa kita untuk menerima begitu saja teror terus menerus, bahkan yang kini seolah datang dari anak-anak dan cucu-cucu kita sendiri. Kita dipaksa menerima satu asumsi bahwa bahkan orang-orang di sekitar kita adalah Orang Tanpa Gejala (OTG). Saya segera membayangkan keakraban dan kehangatan serta keceriaan yang hilang bersama hilangnya jabat tangan, peluk dan cium serta foto bersama tanpa-jarak. Bahkan senyum pun hilang di balik masker. Curiga dan khawatir menular cepat, termasuk curiga pada orang yang dekat dengan kita.

Sulit untuk menolak kesan pandemisasi ini dan bahwa who controls WHO sebenarnya tahu persis bahwa kehidupan sebelum pandemi ini adalah kehidupan abnormal yang sesat, manipulatif dan merusak sehingga tidak layak dilanjutkan. Sebagai proyek lama, kehidupan sebelum pandemi ini sudah tidak menguntungkan mereka lagi atau sudah mulai menjemukan. Kemudian, who controls WHO menggunakan pandemisasi sebagai instrumen untuk menstart ulang kehidupan yang disebut Normal Baru yang lebih menguntungkan bagi mereka ini atau lebih menarik dan lebih menegangkan. Kehidupan Normal Baru itu adalah sebuah kehidupan yang globally more controllable untuk kepentingan mereka. Kontrol itu diperoleh dengan algoritma pelestarian ketakutan melalui penerapan protokol kesehatan edan ini : menjaga jarak sosial dan bermasker hingga ke masjid dan gereja. Social distancing plus masker wajah ini sengaja ditekankan terus bahkan oleh aparat berseragam agar kita secara lambat tapi pasti menerima kehilangan sosialitas kita sebagai manusia, turun derajad hanya sebagai satuan biokimia bernomor yang kelak akan sekaligus mudah dijadikan sensor bagi BigData milik who controls WHO. Mohon dicamkan bahwa ini bukan lagi soal apakah menjaga jarak dan bermasker itu efektif mencegah penularan atau tidak, tapi protokol ini sekedar alat untuk merampas kedaulatan kita, menulis persis diatas konstitusi kita sebagai pernyataan kemerdekaan.

Protokol Pendunguan ini telah berlangsung lebih dari 40 hari. Kita secara bertahap tanpa terasa mulai terbiasa dengan gaya hidup baru yang abnormal ini. Untuk cover up abnormalitas yang makin buruk ini, WHO membangun narasi dan menamainya sebagai Normal Baru. Anehnya kita diam saja seperti kambing congek ! Penyebaran ketakutan akibat teror biologis ini telah berhasil melakukan Pendunguan Sistemik Berskala Besar. Tidak lama lagi kedunguan itu akan membesar dan mengakar sehingga kita akan kehilangan kedaulatan dan kemerdekaan.

Kita semua dilahirkan sebagai manusia merdeka dan berharap mati sebagai manusia merdeka. Biarkanlah dokter yg letih merawat pasien menolak lembur dan pulang ke rumah menemui keluarga yang dicintainya. Biarkan pencukupan faskes dan tenaga medis jadi urusan rumah sakit atau Pemerintah. Sementara itu biarkan wong cilik tetap berjualan keliling mencari nafkah menjaga martabat. Biarkan mereka bekerja, mengambil resiko jatuh sakit dan mati sebagai manusia merdeka. Biarkan yang mau beribadah berjamaah mengambil resiko yang sama sebagai manusia merdeka. Lagipula apa artinya hidup dungu tanpa kemerdekaan ?

Rosyid College of Arts
Gunung Anyar, Surabaya
9/6/2020