Angin laut di pesisir Mengare tak lagi membawa kabar baik. Di Bale Laok, Desa Kramat, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, deretan perahu kayu tetap bersandar seperti biasa. Namun, kehidupan para nelayan yang menghidupinya telah berubah jauh dari yang dulu.
Sukhaeri (50) duduk di balai nelayan, ditemani anaknya, Wawan (18). Wajah mereka tak banyak berubah, tetapi cerita hidup mereka kini penuh beban. Laut yang dahulu ramah, kini terasa asing.
“Sekarang pulang melaut bawa Rp50 ribu saja sudah biasa. Kalau bisa sampai Rp100 ribu, itu sudah syukur,” ujar Sukhaeri pelan saat dijumpai di Bale Laok, Rabu lalu.
Dulu, laut di depan mereka bukan sekadar hamparan air. Ia adalah sumber harapan. Dalam sehari, Sukhaeri dan nelayan lain bisa membawa pulang Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Bahkan, di hari-hari baik, angka itu bisa menembus Rp500 ribu. Hasil yang cukup untuk menyekolahkan anak, memperbaiki rumah, dan menjalani hidup dengan layak.
Wawan masih mengingat masa itu dengan jelas. Laut tak pernah pelit. Rajungan, ikan bawal, dan berbagai hasil tangkapan lain seakan mudah didapat. “Sehari bisa dapat 10 kilogram. Dulu, hasilnya bahkan bisa lebih besar dari gaji pekerja pabrik,” kenangnya.
Namun semua berubah sejak kawasan industri besar berdiri di pesisir utara Gresik. Kawasan itu dikenal sebagai JIIPE Manyar simbol pertumbuhan ekonomi baru yang menjanjikan kemajuan. Di atas kertas, ia menghadirkan investasi, lapangan kerja, dan geliat industri.
Di lapangan, cerita yang berbeda justru dirasakan nelayan. Reklamasi yang dilakukan untuk pengembangan kawasan itu perlahan menghapus ruang hidup mereka. Laut dangkal yang dulu menjadi ladang mencari nafkah kini berubah menjadi daratan. Ekosistem yang pernah kaya terumbu karang, tumbuhan laut, hingga habitat ikan—lenyap tanpa jejak.
“Di situ dulu tempat cari rajungan sama ikan bawal,” kata Sukhaeri, menunjuk ke arah laut yang kini telah berubah rupa.
Akibatnya, nelayan seperti mereka harus melaut lebih jauh. Perjalanan lebih panjang berarti biaya lebih besar bahan bakar, waktu, tenaga. Ironisnya, hasil tangkapan justru semakin tidak menentu. Bagi nelayan kecil dengan perahu sederhana, pilihan itu bukan solusi, melainkan tekanan baru.
Lebih dari sekadar soal penghasilan, yang hilang sebenarnya adalah kepastian hidup. Sukhaeri bercerita, dulu ada janji-janji sebelum reklamasi dilakukan. Janji tentang keberlanjutan, tentang perhatian kepada nelayan, tentang masa depan yang tetap terjaga. Namun waktu berjalan, dan janji itu tak pernah benar-benar hadir.
“Kenyataannya tidak ada. Janji tinggal janji,” ucap Wawan, dengan nada getir.
Hari-hari kini dijalani dengan perhitungan yang makin sempit. Penghasilan yang tak menentu membuat banyak nelayan mulai terjerat utang. Sebagian mencoba beralih profesi, meski tanpa keterampilan yang memadai. Sebagian lain bertahan, meski perlahan tersisih di tanahnya sendiri.
Di tengah geliat industri dan proyek besar, suara mereka nyaris tak terdengar. Padahal, yang terjadi di Mengare bukan sekadar perubahan bentang alam. Ini adalah perubahan nasib. Ketika laut kehilangan kehidupan, nelayan kehilangan masa depan.
Pembangunan memang penting. Kawasan industri seperti JIIPE menjadi bagian dari strategi besar ekonomi. Namun di balik itu, ada harga yang dibayar dan sering kali, yang membayar adalah mereka yang paling kecil dayanya untuk bersuara.
Mengare hari ini adalah potret tentang ketimpangan itu. Di satu sisi, berdiri megah kawasan industri dengan segala janji kemajuan. Di sisi lain, nelayan-nelayan kecil berjuang menjaga hidup dengan sisa-sisa harapan.
Angin laut masih berhembus seperti dulu. Perahu-perahu masih berangkat setiap pagi. Namun bagi Sukhaeri dan Wawan, laut tak lagi sama. Dan di balik JIIPE, jerit itu terus ada sunyi, tetapi nyata.
