SURABAYA (SurabayaPost.id) – Belajar dan membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi hak setiap anak, termasuk anak-anak penyandang disabiltitas tunanetra. Namun, proses belajar membutuhkan akses dan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Salah satunya adalah melalui Al Qur’an/Iqra Braille yang memungkinkan anak-anak mengenal huruf hijaiyah melalui sentuhan pada permukaan Al Qur’an.
Untuk mendukung proses pembelajaran tersbeut, empat paket Iqro Braille disalurkan ke TPQ Inklusi Roudlotul Ulum, Surabaya, Jawa Timur, pada Senin (26/10), melalui dukungan yang disalurkan oleh Baitulmaal Muamalat (BMM). Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses Pendidikan Al Quran yang inklusif agar setiap anak memiliki kesempatan yang setara untuk belajar dan bertumbuh.
Bagi anak-anak di TPQ Inklusi, proses mengenal Al-Qur’an bukan sekadar belajar membaca, tetapi juga menjadi perjalanan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci, membangun kepercayaan diri, dan memperkuat nilai-nilai keislaman sejak usia dini. Kehadiran Iqro’ Braille diharapkan dapat membantu para pengajar menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Melalui media pembelajaran yang dirancang khusus menggunakan huruf Braille, anak-anak dengan hambatan penglihatan dapat belajar mengenali huruf hijaiyah melalui indra peraba. Dengan demikian, keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk memperoleh pendidikan agama yang layak dan bermakna.
BMM memandang bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan bertumbuh, termasuk dalam pendidikan keagamaan. Dukungan ini merupakan wujud kepedulian terhadap pemenuhan hak belajar anak-anak penyandang disabilitas sekaligus dorongan bagi tumbuhnya lingkungan pendidikan Islam yang lebih ramah, terbuka, dan inklusif.
Melalui dukungan tersebut, BMM berharap kegiatan pembelajaran di TPQ Inklusi Roudlotul Ulum dapat berjalan semakin optimal dan menjangkau kebutuhan peserta didik dengan lebih baik. Kolaborasi antara lembaga sosial, pengelola TPQ, tenaga pengajar, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan bahwa anak-anak disabilitas memperoleh pendampingan serta sarana belajar yang memadai dalam perjalanan mereka mengenal Al-Qur’an.
BMM mengajak berbagai pihak untuk terus menumbuhkan kepedulian terhadap pendidikan Al-Qur’an yang inklusif. Sebab, setiap anak berhak mengenal firman Allah, belajar sesuai kemampuannya, dan merasakan bahwa dirinya merupakan bagian yang berharga dari masyarakat. Melalui langkah sederhana seperti penyaluran Iqro’ Braille, diharapkan semakin banyak pintu kebaikan terbuka bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. (**).
