Berbasis IT, IKIP Budi Utomo Gagas Penelitian Lintas PT Kawasan Asia

31 December 2018 - 13:47 WIB
Rektor IBU Malang, Dr Nurcholis Sunuyeko
Rektor IBU Malang, Dr Nurcholis Sunuyeko

MALANG  (SurabayaPost.id) – Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Budi Utomo (IBU) Malang yang kini berbasis information technology  (IT) menggagas kerjasama penelitian lintas perguruan tinggi (PT) di kawasan Asia. Gagasan tersebut disampaikan Rektor IBU, Dr Nurcholis Sunuyeko, Senin (31/12/2018).

“Kami sudah mempersiapkan  diri untuk pengembangan penelitian bersama. Itu tidak hayati dengan perguruan tinggi di Indonesia. Namun, juga di kawasan Asia,”  kata Nurcholis Sunuyeko.

Di antara PT di kawasan Asia yang sudah jadi bidikan  IBU itu disebutkan seperti di negara Malaysia, Thailand dan Kamboja. Untuk itu, kata Rektor IBU yang akrab disapa Yai itu, kini pihaknya sudah menggalang realisasi kerja sama lintas PT tersebut.

Bentuk kerja sama itu, kata Yai, lewat mahasiswa magang di negara-negara yang telah menjalin kerja sama dengan IBU. Mereka didampingi oleh dosen pembimbing.

Makanya, kata Yai, leeat penelitian bersama dengan PT di dalam maupun luar negeri tersebut, IBU diharapkan  mampu meningkatkan kualitas penelitian mahasiswa di kancah regional, nasional maupun internasional.

Dijelaskan Yai yang juga Ketua FORKI Kota Malang ini bila  penelitian bersama tersebut menjadi salah satu upaya untuk mematangkan proses IKIP menjadi universitas yang telah dipersiapkan sejak beberapa tahun terakhir ini.

“Semua itu secara bertahap terus kami matangkan. Ya,  termasuk menyiapkan penambahan fakultas, program studi (prodi), dosen maupun karyawan (pegawai),” jelasnya.

Menurut dia, tahapan persiapan menambah fakultas dan prodi sebagai syarat menjadi universitas tersebut sudah dilakukan sejak dua tahun terakhir. Itu meliputi  izin menambah tiga fakultas, yakni Fakultas Teknologi dan Informasi, Teknik dan Fakultas MIPA.

Sedangkan sebelumnya, kata dia, IBU memiliki dua fakultas, yakni Fakultas Pendidikan, Eksakta dan Keolahragaan serta Fakultas Ilmu Sosial-Humaniora dengan tujuh prodi dan satu program pascasarjana.

“Dengan adanya tambahan tiga fakultas nanti, persyaratan lima fakultas sebagai universitas bisa terpenuhi. harapan kami tahun depan sudah bisa terealisasi,” tuturnya.

Selain penelitian bersama dengan PT di dalam dan luar negeri, sejatinya IBU telah mengusung dan memberlakukan perkuliahan tanpa kertas (paperless). “Tidak hanya perkuliahannya saja, pengurusan keadministrasian juga sudah mulai meninggalkan penggunaan kertas,” ucapnya.

Pemberlakuan paperless itu, kata Yai, sekaligus merealisasikan kualitas pembelajaran berbasis information technology (IT). Baik itu dari sisi sarana dan prasarana maupun dosen dan mahasiswanya.

“Itu karena kami sudah mengukuhkan diri sebagai PT berbasis teknologi, sehingga tidak hanya perkuliahan yang harus paperless, keadministrasian juga wajib paperless. Dengan demikian, semua komponen yang ada di kampus, mahasiswa, dosen dan pegawai harus lebih familiar dengan teknologi,” paparnya.

Selain dunia akademik, menurut Yai,  IBU juga memberikan “panggung” seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri di bidang olahraga. Sehingga banyak mahasiswanya yang meraih prestasi di tingkat regional, nasional maupun internasional.

Selama 2018 saja, terutama dalam event  Asian Game. Banyak mahasiswa IBU mengukir prestasi. Di antaranya di cabang anggar, voli pantai, pencak silat, dan sepak bola.

Karena itu, Rektor IBU merintis kerjasama dengan PT di kawasan Asia. Terutama di bidang penelitian.   Sehingga kualitas produk IBU bertaraf internasional. (gus)