Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM Serukan Persatuan Bangsa

20 May 2019 - 16:54 WIB
Pradana Boy bersama cendekiawan muda UMM menyerukan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.

MALANG  (SurabayaPost.id) – Suasana politik yang menghangat membuat sejumlah akademisi muda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) prihatin. Untuk itu mereka menggelar Seruan Kebangsaan, di UMM Dome, Senin (20/05/2019).

Mereka yang tergabung dalam Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM itu mengaku prihatin dengan kondisi terkini. Juru bicara CMM UMM Pradana Boy menyatakan, sebagai cendekiawan muda pihaknya prihatin atas gejala politik saat ini.

Lalu dia mengutip presiden Sukarno bahwa persatuan adalah sesuatu yang amat mahal dan terlalu mahal untuk dikorbankan. “Sekali persatuan dikorbankan maka pemulihannya akan sangat lama, bisa ratusan tahun, atau justru tak bisa dipulihkan,” kata Pradana.

Pradana juga menyayangkan, saat ini kebenaran faktual tidak lagi merupakan kebenaran sejati. Sebaliknya, kebenaran telah digantikan dengan pembenaran atas opini, propaganda, pandangan, analisis, atau berita bohong.

Tingkat kepercayaan kepada “yang dianggap benar”, dan bukan kepada “kebenaran faktual” telah menjadikan wibawa lembaga-lembaga negara yang berkompeten dalam memproduksi informasi pada bidang tertentu, menurun. “Ini sangat memprihatinkan,” katanya.

Bahkan, lanjutnya, kini muncul kecenderungan bahwa lembaga-lembaga negara tak lagi dihormati. Sebab dianggap sebagai bagian dari konspirasi jahat menghancurkan bangsa.

Sebagai bangsa yang berpijak teguh kepada agama, agama dan tokoh-tokoh agama diharapkan memainkan peran dalam meminimalisir konflik, ketegangan dan fragmentasi yang melanda bangsa ini.

“Sayangnya, tidak sedikit tokoh agama yang menjadi bagian dari pusaran konflik dan alih-alih menjadi kekuatan perekat, justru sering mengajak masyarakat untuk menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang tidak agamis,” ujar Pradana.

Pradana menambahkan, kegiatan Seruan Kebangsaan ini juga memberikan beberapa pernyataan penting untuk mengingatkan kepada publik. Di antaranya mengenai pertama Menghormati setiap proses demokrasi, memandangnya sebagai mekanisme rutin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan tidak menjadikannya sebagai pemicu fragmentasi dan konflik antar anak bangsa.

Kedua mengajak para tokoh masyarakat dan pemimpin agama untuk menjadi perekat umat, penyejuk situasi dan peredam ketegangan. Ketiga mendukung pemerintahan sah saat ini untuk bersikap tegas dan kuat dalam menghadapi setiap upaya memecah belah bangsa. (lil)