MALANG (SurabayaPost.id) – Estafet kepemimpinan di Lapas Kelas I Malang resmi bergulir dengan satu pekerjaan rumah besar: mengelola dan mengembangkan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) seluas 20,5 hektar. Jumat sore (17/4/2026), Christo Victor Nixon Toar dilantik sebagai Kepala Lapas menggantikan Teguh Pamuji yang dimutasi ke Kanwil Ditjenpas Jatim.
Prosesi pisah sambut berlangsung khidmat di Aula Museum Pendjara Lowokwaroe. Venue disulap elegan bernuansa putih-abu, dihadiri Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Jatim, Kadiyono, beserta para Kepala UPT Pemasyarakatan Korwil Malang dan sekitarnya.
Rangkaian dibuka dengan penyambutan pejabat lama dan baru oleh Kakanwil, diiringi Tarian Genjring Party oleh empat CPNS. Pengalungan bunga mengawali langkah ke ruang utama.
Di akhir acara, prosesi pedang pora jadi penutup paling emosional. Barisan petugas membentuk lorong kehormatan, mengiringi langkah Teguh Pamuji menuju gerbang perpisahan. Iringan khidmat itu jadi simbol tugas yang dituntaskan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam sambutan perpisahan, Kalapas Malang periode 2025–2026, Teguh Pamuji, berterima kasih pada seluruh jajaran. “Banyak kenangan dan capaian yang kita raih bersama,” ucapnya.
Ia memaparkan warisan program: pembangunan ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang kini rampung, peningkatan sarana dapur, serta proses akreditasi yang masih berjalan. Yang paling ia tekankan: potensi SAE seluas 20,5 hektar.
“Lapas Malang ini UPT idaman dengan potensi besar. SAE 20,5 hektar ini tantangan sekaligus peluang pengembangan ke depan,” tegas Teguh. Ia berharap kepemimpinan baru bisa melanjutkan capaian yang dirintis. “Saya yakin di bawah kepemimpinan yang baru akan semakin berkembang dan maju,”katanya.
Teguh selanjutnya mengemban tugas baru sebagai Pembina Keamanan Pemasyarakatan Ahli Madya di Kantor Wilayah.
Tongkat komando kini di tangan Christo Victor Nixon Toar. Sebelumnya ia menjabat Kalapas Karawang lebih dari dua tahun.
“Menjadi Kalapas Malang adalah amanah luar biasa. Saya mohon dukungan seluruh jajaran agar dapat melanjutkan program strategis yang sudah berjalan dengan baik,” kata Christo.
Secara khusus, SAE 20,5 hektar jadi salah satu fokus yang disebut sebagai “mimpi besar” Lapas Malang. Area seluas itu disiapkan untuk mendukung program pembinaan, asimilasi, sekaligus edukasi bagi warga binaan dan masyarakat. Tantangannya: mengubah lahan luas jadi produktif, terukur, dan berdampak bagi program pemasyarakatan.
Sementara Kakanwil Ditjenpas Jatim, Kadiyono, menegaskan mutasi dan rotasi adalah hal wajar dalam organisasi. Ia menitipkan pesan ke Christo. “Saya berharap saudara Christo mampu membawa Lapas Kelas I Malang semakin maju, menjaga profesionalitas, serta memperkuat sinergi antarinstansi dan pihak ketiga,” tegasnya.
Dengan estafet ini, Lapas Malang memasuki babak baru. PTSP sudah berdiri, dapur sudah ditingkatkan, akreditasi berjalan. Kini, mata tertuju pada 20,5 hektar SAE Lowokwaroe: apakah mimpi besar itu bisa diwujudkan jadi etalase pembinaan pemasyarakatan kelas satu. (lil).
