Demi Wisata Berkualitas, Disparta Gelar Raker Bersama Desa dan Kelurahan

4 March 2021 - 18:59 WIB
Kepala Disparta Kota Batu saat memimpin Raker untuk wisata berkualitas di desa dan kelurahan se Kota Batu

BATU (SurabayaPost.id) – Demi mewujudkan  desa/kelurahan wisata yang berkualitas, Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu menggelar rapat kerja (Raker). Raker tersebut  melibatkan seluruh perwakilan desa/kelurahan dan lembaga tiap desa se Kota Batu.

Raker yang mengusung tema Peningkatan Kapasitas dan Optimalisasi peran kelembagaan tersebut, digelar di Balai Desa Oro – Oro, Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Kamis (4/3/2021).

Pada kesempatan itu, Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq menegaskan bahwa kegiatan tersebut, untuk mewujudkan visi misi Desa Berdaya Kota Berjaya.

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq

“Sehingga pembangunan desa wisata terwujud secara profesional dan tidak boleh dengan sistem yang parsial,” katanya. 

Itu, kata dia, perangkat desa, menurutnya perlu menentukan lembaga apa yang mengelola desa wisata supaya tidak terjadi tumpang tindih.

“Karena kelembagaan desa wisata ini fungsinya untuk mengatur segala pengelolaan desa wisata,” paparnya.

Untuk itu, papar dia, kelembagaan desa wisata tersebut, menurutnya perlu didirikan dengan serius dan beriringan sehingga tercipta kolaborasi diimbangi dengan konsep-konsep yang matang untuk memajukan wisata yang menonjolkan kearifan lokal. 

“Jika terintegrasi nanti bisa saling melengkapi antara paket wisata antar desa. Kita bisa lihat wisata di desa Kota Batu yang mempunyai potensi beragam dan luar biasa,” ujarnya.

Dengan demikian, Arief mengaku sangat sayang bila tak terkelola dengan baik. Untuk itu, supaya terealisasi ia berjanji akan mendampingi supaya bisa menjadikan lembaga desa yang profesional dan memiliki manajemen secara detail.

“Lembaga yang terbentuk yang dinamakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) harus mengikuti perkembangan zaman. Langkah itu harus dilakukan agar dapat berjalan beriringan dengan selera dunia wisata,” terangnya. 

Dari sisi lain, terang dia, peran IT menurutnya sangat penting saat ini, karena bisa dimanfaatkan.Selain itu,nantinya bisa membuat website dan memaksimalkan sosmed seperti instagram, facebook, twitter, hingga youtube untuk wadah promosi. 

“Harapannya pengelolaan berbasis IT itu ditujukan untuk menggaet pasar wisata yang lebih luas,” jelasnya.

Dan itu, jelas dia, diyakini nantinya bakal semakin marak jika pengelolaannya berbasis IT, dengan tujuan supaya kualitas desa wisata di Kota Batu semakin diakui wisatawan regional atau nasional.

“Intinya pengelolaan kelembagaan desa wisata digarap dengan serius agar manajemen desa wisata dapat tergarap dengan detail,” harapnya, sembari mengaku akan didukung mulai hulu hingga hilir supaya spirit desa/kelurahan wisata bisa terwujud dengan maksimal.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petinggi Desa dan Lurah (APEL), Wiweko mengaku berharap besar agar sinergi ini bisa terus berjalan secara maksimal sehingga terwujud wisata ideal yang berada di desa/kelurahan.

“Karena pengelola desa wisata tak bisa bergerak jika pemdes tak mendukung dan pemdes pun tidak bisa bergerak jika tak didukung oleh Pemkot Batu,” ngakunya.

Karena, ngaku dia, pembangunan desa wisata tersebut, perlu dana yang besar, yang harus ada bantuan dari pemerintah. 

Para delegasi dari desa dan kelurahan saatengikuti Raker bersama Disparta Kota Batu

“Nanti Pokdarwis bersama Pemkot Batu untuk mengadakan agenda rutin. Seperti berkumpul untuk menjalin kolaborasi ataupun sharing untuk bergotong royong memajukan wisata di Kota Batu,” timpalnya. 

Selanjutnya, Ketua Pokdarwis Jatim, Purnomo Anshori mengaku tak ingin warga Kota Batu hanya jadi penonton. Makanya, kata dia, perlu keseriusan semua pihak. 

“Bagaimana pun kemajuan pariwisata ada di tangan kita.Makanya perlu penguatan kelembagaan desa wisata yang jelas. Pengelolaan desa wisata harus dipegang oleh satu lembaga saja. Baik itu Bumdes, Pokdarwis, Ladesta atau lembaga desa wisata,” pesannya.

Kemudian, pesan dia, pengurus tak boleh berfikir keuntungan terlebih dahulu. Karena, kata dia, niat utama untuk  kemajuan desa wisata di daerah setempat. 

Lebih  lanjut dia dia mengatakan dalam mengelola desa wisata perlu pemahaman tentang perbedaan wisata desa dan desa wisata. 

“Pemahaman ini diperlukan agar pengelola desa wisata dapat memposisikan diri secara tepat. Wisata desa adalah wisata yang menyajikan pengalaman sesaat yang menjadikan penduduk desa sebagai objek,” ucapnya.

Harusnya,lanjut dia, desa wisata adalah wisata yang mengedepankan pengalaman hidup di desa yang diselenggarakan dengan interaksi antar wisatawan dengan penduduk desa. Sehingga , menurut dia, diperlukan paket wisata yang tertata agar penduduk desa dapat berlaku sebagai subjek. 

“Jadi di desa wisata ini, penduduk desa sebagai subjek. Nanti akan ada paket wisata itu meliputi agenda wisata, tempat wisata hingga homestay sebagai tempat menginap. Paket wisata itu harus dikonsep dengan baik,” urainya. 

Untuk itu, ia berpesan pokdarwis harus jeli menggali potensi desanya sebab potensi kultur masyarakat yang membedakan desa satu dan desa lain. Keuntungan lainnya, menurut dia, jika bisa menemukan potensinya masing-masing tidak ada efek negatif bersaing antar desa/kelurahan. 

“Kesimpulannya pariwisata di Kota Batu harus jadi milik Pokdarwis. Mulai sekarang kita harus berkomitmen satu sama lain dengan pendampingan pemerintah secara kontinu,” pungkasnya (*Gus*)