Desa Giripurno Nguri-uri Tuntunan Budaya Jawa Lewat Mocopat 

25 October 2019 - 16:22 WIB
Acara mocopat yang digelar di Padepokan Budaya Desa Giripurno.

BATU (SurabayaPost.id) –  Untuk mewujudkan desa wisata berbasis budaya,  Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, nguri- uri (menjaga warisan leluhur) budaya Jawa. Sebab budaya Jawa kini dinilai sudah banyak yang hampir sirna. 

Untuk itu, Panglima Barisan Adat Raja Sultan Nusantara (Baranusa) Kota Batu,  Robiyan, menggelar mocopat di Padepokan Budaya Desa Giripurno, Kota Batu, Kamis (24/10/2019) malam.

Menurut dia, Mocopat itu  moco papat – papat. “Itu mengandung maksud, janmo koco asipat, yang memiliki arti sebagai cerminan sifat kehidupan manusia,” jelas dia. 

Mocopat itu menurut dia merupakan budaya sakral bertajuk Menuju Desa Budaya. Hal itu merupakan agenda  tahunan dan juga dijadwalkan setiap bulan. 

Dalam acara tersebut,  Panglima Baranusa Robiyan juga menggelar kidung tolak balak. Hal itu  untuk menjaga keselamatan bangsa dan negara dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Selain itu, juga menyuguhkan Akapela Jawa yang dilahirkan oleh para generasi muda yang tergabung di Karang Taruna desa setempat.

Menurut Robiyan, tanpa budaya semua itu, tak akan bisa bersatu. “Adanya budaya akan mempersatukan para pelaku seni budaya tradisional.Termasuk seni Akapela yang dilahirkan di bumi Giripurno ini,” kata Robiyan.

Dari sejumlah 14 pelaku seni  Apela yang terdiri dari 6 laki laki dan 8 perempuan itu, dijelaskan Robiyan semuanya putra putri daerah Giripurno.

” Mereka para generasi muda yang peduli dengan pengembangan wisata di Kota Batu, salah satunya di Desa wisata berbasis budaya di Giripurno ini,” tutur Robiyan bangga.

Para pelaku  seni Apela Jawa yang siap-siap untuk tampil.

Diwaktu yang sama ditambahkan penggiat seni di Kota Wisata Batu Syamsu Suid, perlu afa festival. Sebab kata dia dengan adanya festival – festival seni tradisional yang mulai bermunculan di setiap desa, maka budaya yang hampir sirna bisa terselematkan.

“Sebagai pengembangan budaya yang ada nilai edukasinya,artinya bukan hanya sebatas menggebyar saja.Salah satunya edukasi buat Karang Taruna di berbagai desa, telah mengedukasi tentang kesenian lewat kesenian,” paparnya.

Meski begitu, papar dia, berdasarkan pantauannya banyaknya event – event di Kota Batu, Syamsu Suid berharap.

“Pemerintah Daerah agar bisa memfasilitasi,  apalagi dengan adanya anggra dana desa (ADD ) bisa dilewatkan pemberdayaan budaya.Karena,itu akan luas dampaknya terhadap perkembangan ekonomi dan sebagainya,” terangnya.

Dengan demikian, Syamsu Suid berjanji terkait keberadaannya budaya lokal seni – seni tradisional yang hampir hilang itu,bakal segera dibangkitkan kembali.

” Dan Desa Giripurno ini, adalah awal membuat sesuatu yang inovatif, salah satunya Akapela jawa yang dikolaborasi dengan lagu modern ini, akan selalu siap tampil untuk menghibur para wisatawan yang datang ke Kota Wisata Batu,” pungkasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono, tak memungkiri terkait kreativitas para tokoh dan para generasi muda daerah Giripurno. Menurut dia, mereka selalu melakukan hal-hal kreatif.

“Dengan desain yang unik dan cukup menarik, karena campur tangannya para pelaku seni, maka desa wisata berbasis budaya yang ada di Giripurno itu punya warna yang berbeda. Tentu itu Akan menarik bagi para wisatawan,” pungkasnya (Gus)