MALANG (SurabayaPost.id) – Upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga di wilayah perkotaan terus digencarkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang. Salah satunya melalui Pelatihan Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) dan Sarana Prasarana Tahun 2026 yang digelar di Hotel Atria Kota Malang, Selasa (12/8/2026).
Kegiatan Pemberdayaan Pembudidaya Ikan Kecil ini diikuti 128 peserta yang berasal dari usulan Musrenbang, tematik, dan usulan Pokir DPRD Kota Malang. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan Hariadi, S.P.
Dalam sambutannya, Slamet menegaskan pelatihan ini adalah bentuk komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mendorong pengembangan usaha budidaya ikan air tawar yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

“Kegiatan pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan praktis masyarakat dalam menerapkan metode Budikdamber. Yakni mengintegrasikan budidaya ikan dan sayuran dalam satu wadah secara mandiri di lingkungan tempat tinggal,” jelasnya.
Menurutnya, metode Budikdamber sangat sesuai dengan kondisi lahan di perkotaan. Dengan lahan sempit di pekarangan rumah, warga tetap bisa memproduksi sumber protein hewani sekaligus sayuran.
Tujuan pelatihan ini antara lain membekali peserta keterampilan praktis Budikdamber, memberikan fasilitasi sarana dan prasarana berupa paket Budikdamber lengkap dengan benih ikan dan pakan, serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan untuk mencukupi kebutuhan gizi protein keluarga sebagai upaya pencegahan stunting.

“Melalui kegiatan ini kami juga ingin mendukung upaya memperkuat kemandirian ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan,” tambahnya.
Sebagai narasumber dihadirkan Mohammad Anas Setiawan, S.Pi, Penyuluh Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Fransisca Novi C., S.Pi dari UPT Pelatihan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur.
Materi yang disampaikan berfokus pada pengelolaan usaha budidaya ikan lele dalam media ember. Peserta juga mendapatkan pemahaman tentang efisiensi air, pakan, hingga perawatan agar budidaya bisa berjalan optimal.
Slamet berharap pelatihan ini menjadi awal terbentuknya komunitas pembudidaya di perkotaan. Ia meminta peserta memanfaatkan sarana yang diberikan secara optimal dan menjaganya agar berkelanjutan.

“Jadikan kesempatan ini untuk menambah wawasan, meningkatkan keterampilan, serta bertukar pengalaman. Kami berharap lahir komunitas pembudidaya ikan yang berjiwa entrepreneur, mampu mengimplementasikan kemajuan teknologi budidaya, dan memperkuat posisi produk perikanan perkotaan di pasar lokal maupun regional,” ujarnya.
Ke depan, Dispangtan juga mendorong pengembangan Budikdamber dengan teknologi lebih inovatif seperti sistem resirkulasi air. Tidak menutup kemungkinan, Budikdamber yang diintegrasikan dengan urban farming bisa menjadi bagian dari kampung tematik hingga duta wisata perikanan perkotaan Kota Malang.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pendapatan, keberlanjutan usaha, serta perkembangan ekosistem budidaya perikanan di wilayah perkotaan,” pungkas Slamet. (lil).
