Ketupat Berukuran Raksasa di Yakini Bisa Melebur Kesalahan Besar 

5 May 2022 - 19:25 WIB

BATU (SurabayaPost.id) – Ketupat berukuran Raksasa berisi beras sebanyak 25 Kg yang dibuat warga Kampung Meduran Kidul Kelurahan Sisir, Kota Batu, diyakini bisa melebur kelepatan (kesalahan) kepada sesamanya.

Ketupat berukuran 75 X 75 centi meter yang direbus
dalam panci besar berisi air sebanyak 100 liter air tersebut  rencananya akan dimakan bersama warga satu kampung besuk Ba’ diyah Isya, di Masjid Misbahusshudur Meduran, Jumat,6/5/2022.

Hal ini, disampaikan sesepuh Meduran Kidul Satemo yang sapaan akrabnya Pakde Mo.

“Proses pembuatan ketupat berukuran Raksasa  75 X 75 centi meter ini memakan waktu selama tiga hari. Kupat artinya mengaku lepat kesalahan – kesalahan yang besar. Nanti kami makan bersana warga satu kampung,” kata Pakde Mo.

Ini kata dia, ketupat jumbo yang perdana ini agar bisa dilanjutkan untuk Uri – uri budaya orang muslim.

“Ketupat kecil hal yang biasa, namun ketupat ini luar biasa.Kami ucapkan terimakasih kepada Organisasi Pemuda Pancasika (PP) Kota Batu, dan Tagana terkait sportnya berupa peralatan untuk proses ketupat ini. Panci ukuran jumbo sekaligus dengan kompornya,” ungkapnya.

Waktu yang sama, tokoh pemuda setempat Hery Maskur menambahkan bahwa ketupat itu akan disajikan dalam acara Halal Bihalal Keluarga Besar Masjid Misbahusshudur dan warga meduran, pada Jumat, 6/5/2022, besuk.

“Filosofi dan makna ketupat sendiri begitu dalam. Mulai dari penggunaan daun kelapa muda sebagai bungkusnya. Janur yang merupakan akronim dari, Jatining Nur, dalam bahasa Jawa memiliki arti, hati nurani,” kata Hery.

Itu, kata dia, filosofinya, saat lebaran harus membersihkan hati dari segala macam hal negatif sehingga bisa kembali ke fitri, kembali suci dengan saling memaafkan.

“Proses pembuatan ketupat yang harus dianyam dengan rumit itu juga punya makna tersendiri. Kerumitan anyaman ketupat menggambarkan keragaman masyarakat Jawa yang harus dilekatkan dengan tali silaturahmi. Sementara itu, beras dimaknai sebagai nafsu duniawi,” ungkapnya.

 Lantas, ungkap dia, bentuk segi empat ketupat yang begitu khas menggambarkan prinsip.

“Kiblat papat, limo pancer (empat arah, satu pusat) yang memiliki makna, ke mana pun manusia melangkah, pasti akan kembali pada Allah SWT,” ujarnya.

Ini ujar dia, bentuknya yang punya empat sisi itu, menurutnya juga  melambangkan empat macam nafsu dasar manusia, yakni.

“Amarah (emosi), lawamah (lapar dan haus), sufiah (nafsu untuk memiliki sesuatu yang bagus atau indah), dan muthmainah (memaksa diri). Keempat nafsu dasar ini dikendalikan saat puasa yang sudah dijalani sebelumnya,” kata Hery.

Demikian, dengan memakan ketupat saat lebaran, seseorang menurutnya sudah dianggap mampu menahan nafsunya.

“Menyambut Ramadan dan Idulfitri secara keseluruhan, makna ketupat adalah nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani,” pungkasnya (gus)