Komisi 4 DPRD Gresik : Penyakit HIV/AIDS di Gresik Urutan Empat Tertinggi Se Jatim

18 November 2021 - 12:09 WIB

GRESIK (SurabayaPost.id) – Penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Gresik menduduki urutan ke empat di Jawa Timur. Menurut data di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, banyaknya kasus HIV/AIDS di Gresik dipengaruhi banyak faktor, terutama banyak warga Gresik yang bekerja di luar kota, luar pulau atau bahkan di luar negeri.

“Di satu sisi, para penderita ini malu berobat ke rumah sakit atau puskesmas sehingga jumlah penderita penyakit ini semakin naik,” ujar H Khoirul Huda, anggota Komisi 4 DPRD Gresik, saat melakukan sosialisasi perundang-undangan (Sosper) di Kelurahan Kawisanyar Kecamatan Kebomas Gresik, Minggu (14/11) siang.

Selain Huda, di tempat yang sama Sosper tersebut juga dilakukan Hj. Lilik Hidayati, yang juga dari PPP.

Ada tiga Perda yang disosialisasikan keduanya. Masing-masing Perda No. 16 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan toleransi kehidupan bermasyarakat. Perda No. 18 tahun 2020 tentang penanggulangan penyakit menular.
Perda No. 4 tahun 2021 tentang pemberdayaan masyarakat menuju desa mandiri.

Menurut politisi asal Kecamatan Manyar ini, Perda ini juga mengatur kewajiban pemerintah terhadap pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Apalagi saat ini di Gresik, angka Stunting masih cukup tinggi mencapai 27 persen,’ kata Huda.

Menjawab pertanyaan seorang warga, Ibu Masifah, mengenai jenis penyakit menular yang pengobatannya ditanggung pemerintah, Huda menegaskan bila pasien ikut BPJS maka otomatis akan ditanggung BPJS.

Bila tidak ikut BPJS, pasien bisa dilayani dengan Kartu Gresik Sehat. Atau pasien bisa dimintakan bantuan sosial (Bansos), namun sebelumnya pasien harus mendapat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa kemudian didukung kecamatan untuk diteruskan ke dinas sosial.

“Perda ini juga mengatur RSU Ibnu Sina dan Puskesmas, harus menyediakan ruang pelayanan khusus bagi pasien HIV/AIDS. Agar mereka mau berobat, karena mendapat pelayanan yang lebih privat,” ujar Sekjen DPC PPP Gresik ini.

Ditegaskan Huda, Perda penanggulangan penyakit menular ini dibuat untuk meningkatkan pelayanan di bidang kesehatan dengan sasaran mewujudkan masyarakat Gresik yang sehat.

Sementara Hj Lilik Hidayati menyampaikan pentingnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, yang bisa diaplikasikan dalam bentuk kerukunan antar tetangga apapun etnisnya.

Di hadapan konstituennya, Hj Lilik menjelaskan alasan pentingnya kerukunan yang dimaksud.

“Semua adalah ciptaan Allah SWT, apapun etnisnya yang penting rukun,” kata politisi yang sudah 3 periode menjadi anggota DPRD itu. (adv/uki)