Negara Maju, Beyond Religion ?

17 October 2019 - 19:17 WIB

 

Oleh: Prof. Daniel Mohammad Rosyid

Seorang rektor PTN sekaligus gurubesar alumni Jepang tidak lama ini menulis tentang kejayaan negeri Sakura itu sebagai sebuah pencapaian beyond religion. Lalu dengan sinis membandingkan betapa kotor lingkungan di sekitar masjid kampusnya sendiri dibanding jalanan di Jepang. Thesis yg hendak dikatakannya adalah bahwa negara maju akan meninggalkan agama dan agama adalah penghambat kemajuan.

Saya hanya dapat menduga bahwa agama yang dimaksudnya adalah Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk negeri yang tertinggal ini. Saya juga menduga bahwa yang dia maksudkan sebagai agama adalah sebuah sistem ritual yang “melangit” tapi tidak “mendarat”. Memang demikian itulah arti agama secara sekuler.

Masyarakat Jepang, menurutnya, tidak memerlukan agama, apalagi Islam, untuk mencapai prestasinya saat ini. Gurubesar ini menyebut shinto sebagai agama masyarakat Jepang yang bukan variabel penentu kemajuan Jepang. Lalu, nengapa Jepang maju ?

Pertama, Jepang adalah penjajah, sampai hari ini. Tidak saja Indonesia, tapi juga Korea, China, Indo China, Malaysia dan Filipina. Mungkin tidak dengan cara lamanya dulu, namun dengan cara baru yang lebih canggih. Bung Karno menyebutnya nekolim. Jepang sejak kekalahannya dalam Perang Asia Timur Raya adalah kaki tangan AS. Kepentingan AS di Asia sebagian dilakukan oleh Jepang. Kemajuan Jepang dicapai di atas penderitaan bangsa lain.

Sikap Indonesia yang anti-China sebagian dibina oleh AS melalui peran Jepang di Asia. Pada saat peran Jepang digeser oleh China selama 5-10 tahun terakhir ini, AS dan sekutunya mulai khawatir atas hegemoninya di Asia. Bagaimana Jepang menjajah Indonesia bisa dilihat sebagian di jalan-jalan Indonesia yang dipenuhi mobil-mobil dan motor buatan Jepang dengan merek Jepang. Pada saat China mulai menawarkan pembuatan mobil nasional sekaligus dengan paket alih teknologi, Jepang seperti kebakaran jenggot. Mengapa selama ini tidak dilakukan alih teknologi mobil dan motor dalam rangka pengembangan mobil nasional ? Pak Rektor kita perlu menjawab pertanyaan ini.

Kedua, seperti negara-negara yg dengan sombong menyebut dirinya maju, Jepang sangat tergantung pada PLTNuklir. Konsumsi energi perkapita orang Jepang sekitar 5000 liter setara minyak pertahun. Bandingkan dengan konsumsi energi perkapita Indonesia yang cuma 700 liter setara minyak pertahun. Sementara itu, AS sebagai model idaman Jepang, mengkonsumsi sekitar 7000 liter setara minyak pertahun. Apa artinya, pencapaian negara2 maju itu dicapai dengan upaya 7 sampai 10 kali lipat daripada orang Indonesia. Artinya kemajuan kedua negara itu semu sekaligus menyesatkan. Keduanya menggunakan model pembangunan yang gila pertumbuhan dengan cara mengekspolitasi alam terutama dari negara-negara jajahannya seperti Indonesia.

Ketiga, eksploitasi atas negara-negara kaya sumberdaya itu dilakukan melalui satu cara : melalui sistem keuangan ribawi, yaitu sistem keuangan berbasis hutang dan uang kertas ( fiat money) berdasarkan konstitusi IMF. Sejak Nixon schock di awal 1974, the Fed secara sepihak mulai mencetak US Dollar tanpa dikaitkan dengan cadangan emas. Dengan persetujuan Kerajaan Saudi Arabia, USD dikaitkan dengan minyak sehingga USD disebut Petro Dollar. Artinya The Fed bisa mencetak US Dollar out of thin air kapan pun dan dalam jumlah berapapun. Bayangkan jika kita harus membayar hutang kita dengan menambang batubara, migas, menebang hutan dll. Atau menjual emas kita lalu dibayar dengan USDollar. Biaya mencetak USD100 hanya sekitar 10 sen USD. Riba adalah well designed, legal instrument of cross-border corruption.

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa KSA adalah mitra strategis AS sejak semua transaksi minyak harus dibayar dengan USDollar. Pada saat yang sama, KSA adalah negara jajahan AS, jika tidak secara terang-terangan disebut negara bagian AS. Karena riba tidak saja merusak alam, tapi juga merusak akhlaq manusia, jangan heran jika polisi KSA dan Indonesia tidak seramah polisi Jepang. Sistem Riba ini merusak siapapun tidak peduli agamanya. Namun perlu diingat bahwa Islam menyatakan riba sebagai haram dan Allah dan Rasulnya menyatakan perang terhadap riba.

Negara-negara penjajah itu hingga kini terus hidup dengan cara yang eksploitatif, mengadu domba masyarakat yg lapar lalu menjual persenjataan tentara dan polisi bagi perlindungan elite di negara jajahannya. Semoga kini makin jelas bahwa kemajuan semu “negara2 maju” itu dicapai melalui cara yang sesugguhnya tidak terhormat walaupun nampak elegan sekalipun dengan mengambinghitamkan agama. This is NOT beyond religion but blaming religion. Saya menduga bahwa orang yang mengatakan bahwa agama adalah penghambat kemajuan adalah penganut sekulerisme radikal.

Buah Batu, Bandung 17/10/2019