Pelajari Soekarno Agar Kompatibel Jaman 

30 November 2019 - 19:40 WIB

MALANG (SurabayaPost.id)  – Lesehan. Tapi gayeng dan penuh ilmu. Terutama terkait dengan sejarah. Menyoal pemikiran Soekarno, presiden pertama Indonesia. Karena hingga saat ini, fondasi yang dibangun untuk Indonesia, adalah hasil karya pria kelahiran Blitar Jawa Timur.

Mempelajari pola pikir Soekarno, termasuk sebagai upaya, agar mahasiswa bisa kompatibel dengan perkembangan jaman.

”Jadi dengan membedah pemikiran Soekarno, kita tidak sekadar sarasehan sejarah. Lebih dari itu, kita mempelajari bagaimana sang presiden pertama itu, bisa menjadi sosok yang paling berpengaruh. Agar kompatibel dengan jaman, anda harus mengetahui bagaimana Soekarno. Karena banyak kejadian saat ini, adalah skenario yang disusun di masa lalu,” ujar Rektor IKIP Budi Utomo, Dr H Nurcholis Sunuyeko, saat membuka acara, Sabtu  (30/11/2019). 

Rektor IBU Malang Dr Nurcholis Sunuyeko

Sarasehan Sejarah, yang mengambil tema Membedah Pemikiran Soekarno itu, digelar Prodi Pendidikan Sejarah dan Sosiolosi IKIP Budi Utomo. Berlangsung di kampus C, Jalan Citandui. Diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas.

Kenapa harus Soekarno? Menurut Rektor, Bung Karno – demikian Soekarno biasa dipanggil – tidak sekadar tokoh nasional. Tapi sudah melegenda hingga mancanegara. Kemampuannya menguasai sembilan bahasa, memungkinkan Bung Karno, berinteraksi dengan dunia internasional. Di tengah keterbatasan Indonesia saat itu.

Wajar jika pola pikir Soekarno, berpengaruh pada presiden-presiden selanjutnya. Termasuk Soeharto, yang menjadi presiden penggantinya.

”Dua presiden berpengaruh di Indonesia, Soekarno dan Soeharto. Keduanya peletak fondasi bangsa ini. Terlepas dari sisi negatif yang mengiringi,” lanjut Nurcholis.

Meski demikian, Rektor meminta agar saat mempelajari pola pikir Soekarno, harus tetap mengedepankan pemikiran akademisi. Bukan hanya didasari cinta semata. Yang justru bisa menutup netralitas dan keilmuan.

”Soekarno hanya sekali lahir dan tak tergantikan. Tapi pemikir-pemikir lain, dengan warna Soekarno, akan terus lahir,” demikian Rektor.

Selain Nurcholis, yang ikut memberikan paparan sejarah dalam sarasehan tersebut, adalah Dr Ibnu Mujib. Diharapkan setelah Soekarno, sarasehan akan berlanjut dengan membedah tokoh-tokoh yang lain. (lil)