Stop Basa Basi Dakwah

17 November 2021 - 05:23 WIB


Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Sudah makin jelas bahwa dakwah Islam terbukti kalah oleh dakwah kaum sekuler dan musyrik radikal. Jika muslim dituduh radikal garis keras, ingatlah bahwa musuh-musuh Islam tidak cuma radikal garis keras tapi juga bekerjasama secara terstruktur, sistemik, masif dan militan. Karena merasa mayoritas, ummat Islam terbukti gagal melakukan hal yang sama, sehingga fitnah dan kerusakan besar telah terjadi dan semakin menjadi-jadi.

Stop basa basi. Ketahuilah bahwa ummat Islam Indonesia itu minoritas. Yang mayoritas adalah kaum abangan atau sekuler radikal hasil proses sekulerisasi sekaligus deislamisasi besar-besaran melalui persekolahan massal paksa pemerintah dan siaran televisi sejak akhir 1960an. Jika NU dan Muhammadiyah besar jumlah pengikutnya, jumlah kaum sekuler abangan masih jauh lebih besar. Baik aset NU maupun Muhammadiyah memang besar tapi jika dibandingkan dengan aset para Taipan, ini seperti kelinci dan gajah.

Industri televisi dan persekolahan massal paksa besar-besaran adalah proyek penjongosan ummat Islam agar cukup trampil menjalankan mesin-mesin pabrik pemilik investor asing dan aseng, sekaligus cukup dungu untuk terus bekerja bagi kepentingan pemilik modal. Kini medsos menyita banyak waktu berharga masyarakat untuk kegiatan yang konsumtif. UU Omnibus Law Cipta Jongos adalah puncak proyek penjongosan ini. Sementara sistem keuangan ribawi hasil kesepakatan KMB 1949 di Den Haag adalah instrumen perbudakan ummat Islam agar hidup dari hutang sekaligus dirampok kekayaannya melalui terms of trade yang tidak adil.

Dakwah via mimbar saja sudah terbukti gagal. Dakwah melalui ormas yang apolitis sudah terbukti gagal mengangkat derajad kaum muslimin secara ekonomi dan politik. Bahkan riba dibiarkan berlangsung terus walau dianggap darurat. Saatnya mengambil sikap bahwa praktek perbankan ribawi harus dihentikan karena tidak saja merusak tapi juga memperbudak. Kini ada oknum perbankan yang mengoperasikan pinjaman online (Pinjol) yang memangsa wong cilik.

Baru-baru ini ada narasi bahwa negara tidak boleh kalah oleh Ormas semacam FPI. Narasi ini menyesatkan karena negara tidak pernah diancam oleh ormas, tapi diancam oleh Partai Politik yang membuat UU dan menentukan APBN serta mengorupsinya. Bahkan organisasi paling berbahaya di planet ini bukan ISIS, Al Qaedah, Hamas, Ikhwanul Muslimun, HTI atau FPI, tapi Partai Republik AS di bawah Trump. Setelah itu Partai Demokrat AS di bawah Biden. Menurut Noam Chomsky, di bawah Trump, dunia semakin terancam perang nuklir, kehancuran lingkungan, dan kematian demokrasi. Di banyak negara, kebanyakan partai politik adalah organisasi pragmatis yang berbahaya.

Kita memerlukan strategi dakwah baru. Para da’i dan muballigh jangan jadi Simatupang (siang malam tunggu panggilan) bayaran. Ummat Islam Indonesia tidak perlu menjadi mayoritas. Jadilah minoritas kreatif yang bangga mengekspresikan diri sebagai muslim di kancah politik, ekonomi, dan kebudayaan. Bebaskan pendidikan ummat dari dominasi persekolahan, kuatkan keluarga, masjid, dan pesantren sebagai satuan pendidikan dan satuan produksi serta segera bebaskan ummat dari cengkeraman riba.

Yayasan Pendidikan Tinggi Dakwah Islam Jawa Timur,
Waru, Sidoarjo