Saat Pandemi Covid-19, Tawarkan Makanan Khas Tempo Dulu, Kampung Ngopit Diyakihi Bakal Diminati Wisatawan

24 October 2020 - 17:26 WIB
Kawasan destinasi Wisata Budaya Kampung Nhopit saat malam hari

BATU (SurabayaPost.id) – Destinasi wisata budaya kampung Ngopit (WBKN) diyakini bakal mendongkrak perekonomian warga, terutama di masa pandemi Covid-19. Sebab, destinasi di Dusun Mojorejo, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu itu dikemas dengan beragam varian makanan khas tempo dulu dan di bawah tegakan pohon jati,

Hal tersebut, disampaikan Sekretaris Dinas Pariwisata, Arief Rachman Ardyasana. Kala itu Jumat (23/10/2020) malam, dia bersama anggota DPRD Batu Agung Sugiono, di WBKN.

Menurut Arief, WBKN untuk pemberdayaan dan keswadayaan masyarakat. Untuk itu, pria berdarah Madura ini, meyakini rasa memiliki masyarakat bakal lebih tinggi.

“Di destinasi wisata Bring Harjo di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu sudah berjalan beberapa tahun ini. Peningkatan perekonomian warga setempat sudah bisa dilihat dan dirasakan,” katanya.

Anggota DPRD Batu dan Sekretaris Pariwisata Kota Batu bersama pelaku pengelola Ngopit

Itu, kata dia, keberadaannya Ngopit tersebut, karena peran sertanya masyarakat dan Muspika setempat, menurutnya diyakini bakal ikut andil mempromosikan pula.

Sementara itu, Ketua RT setempat Suyidno mengaku afq 10 stand di atas lahan sekitar 400 meter persegi di bawah tegakan pohon kayu jati. Itu semua digratiskan oleh pemilik lahan.

“Sangat berterima kasih kepada H Samsul sekeluarga dengan pemanfaatan lahan tersebut. Sebab area yang dikemas menjadi kampung budaya kuliner tempo dulu, selain untuk pemberdayaan warga setempat, tentunya akan jadi indah, dan kampungnya tidak terlihat mati,” ungkapnya.

Itu, ungkap dia, dari sejumlah stand dan sejumlah puluhan varian makanan khas tempo dulu tersebut, yang meliputi dari makanan sejenis bledus,gatot, dan minuman ronde serta sebagainya.

Itu menguri-uri makanan tempo dulu. Prosesnya tanpa menggunakan bahan pengawet. Dia berharap kedepannya bisa bertambah maju dan lebih banyak pengunjungnya.

“Dengan berjalannya ngopit selama satu bulan ini, tentunya jadi tolak ukur sejauh mana pengunjungnya. Alhamdulillah pengunjungnya banyak. Bahkan ada yang dari luar daerah Kota Batu,” ngakunya.

Dan ngopit iru, lanjut dia, bulan depan ini, bakal segera dilaunching. Menurut uyid, aktivitas Ngopit tersebut hanya digelar setiap Sabtu dan Minggu.

“Dengan berjalannya waktu, pengunjungnya terlihat bertambah banyak. Maka sekarang beroperasi mulai pagi sampai malam sekitar Pukul 22,00 Wib. Dengan berkembangnya kampung budaya Ngopit ini, kami meyakini selain bisa mengurangi angka pengangguran, bisa mendongkrak perekonomian warga sekitar,” tandasnya.

Diwaktu yang sama, Anggota DPRD Batu, Agung Sugiono menyarankan kepada panitia pengelola Ngopit agar memanfaatkan aliran irigasi. Sebab irigasi di sebelahnya itu bisa disulap sedemikian rupa sehingga menjadi bagus.

“Gunakan dan manfaatkan yang penting penataannya indah dan terstruktur. Saya yakini itu bakal menambah wahana baru yang bakal pengunjung jadi betah,” terangnya.

Karena, terang dia, irigasi hidup, dengan aliran air yang jernih itu bisa dikemas dengan baik. Apalagi melalui tangan-tangan dingin para generasi muda setempat.

“Yang penting dikonsep dengan bagus, mendapat sentuhan dari tangan-tangan dingin pelaku seni desa setempat. Saya yakin itu bakal membuahkan hasil yang bagus dan punya roh tersendiri,” paparnya.

Itu, semua papar dia, rumusnya dengan pelayanan yang baik, tidak menghilangkan budaya kearifan lokalnya. Lalu dibalut dengan kemasan varian menu-menu makanan tempo dulu yang harus dipertahankan.

“Praktis Ngopit ini bakal jadi jujukan para wisatawan yang berkunjung ke Kota Wisata Batu,” timpalnya (lil)