Sebar Unggahan Video, Tiga Aktor Penista Agama di Gresik Ini ‘Lecehkan’ Fatwa MUI

16 June 2022 - 18:21 WIB

GRESIK (SurabayaPos.id)–Tiga pelaku kasus pernikahan manusia dengan kambing ‘lecehkan’ fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gresik yang telah memutuskan perbuatan mereka adalah perilaku penistaan agama, bukan seni apalagi adat maupun budaya. Mereka sengaja membuat video diunggah dan disebar melalui kanal Youtube dengan judul ‘Satrio Piningit Bersama Sri Rahayu Berkunjung ke Pamenang-Kediri’

Kasus yang berawal dari undangan ‘ngunduh mantu’ di pesanggarahan keramat di Desa Jogodalu Kecamatan Benjeng, atau rumah Ki Ageng Nur Hudi alias Nur Hudi Didin Arianto anggota DPRD Gresik diperidiksi bakal panjang dan akan semakin membuat kegeraman publik. Pasalnya, meski sudah melakukan pertaubatan dihadapan para Kiyai Gresik dengan Isak tangis saat membaca dua kalimat syahadat ternyata dinilai publik hanya sandiwara.

Mereka dengan sengaja mengunggah video berdurasi kurang lebih 4 menit 47 detik di chanel Youtube ‘Sanggar Cipta Alam’ diunggah beberapa jam yang lalu, Kamis (16/6). Dan ketiga pelaku (Arif Saifullah, Saiful Arif dan Krisna) nampak didampingi tiga perempuan berpakaian adat Jawa mengatakan bahwa kejadian tanggal 5 bulan 6 tahun 2022 itu mereka tidak menikahkan manusia dengan kambing.

“Semoga kunjungan kami ini membuka wacana apa yang terjadi pada tanggal 5 bulan 6 (tahun) 2022 yaitu pernikahan manusia dengan domba. Semoga materi kami bisa membukakan wacana pola pikir kita yang lebih dewasa. Bukan berarti saya menggurui atau saya yang paling benar. Apa yang kita tampilkan wujud domba itu suatu isyarat,” kata Arif Syaifullah dalam video itu.

Apa yang mereka lakukan untuk menunjukkan isyarat alam, maka katanya jangan ditelan mentah-mentah. “Bagaimana kita menunjukkan ke publik domba ini kita tunjukkan ayam, gak mengena materinya. Tujuan kami biar kita bisa membaca simbol simbol dialam semesta ini. Jangan ditelan mentah-mentah,” kata Arif Saifullah yang saat mengucapkan syahadat dan peetaubatan meningis terisak dihadapan para Kiyai di Masjid Agung Gresik beberapa waktu yang lalu.

Dalam traskrip visual video sangat jelas mereka merasa dan bahkan mengakui dirinya sama sekali tidak bersalah. Bahkan ia mengaku sudah berdamai dengan MUI dan sudah dinyatakan tidak murtad. “Ini semua hanya mis komunikasi. Kita audah bertemu dengan MUI bersama jajaranya kita sudah berdamai dinyatakan sudah tidak murtad, dan menyimpang dari agama Islam,” katanya dengan nada tanpa beban.

Ketua MUI Kabupaten Gresik, KH Mansoer Shodiq menyatakan pihaknya tetap konsisten dengan sikap dan pandangan keagamaan yang telah disampaikan ke publik beberapa waktu lalu.

“MUI tetap konsisten dengan sikap dan pandangan keagamaan yang sudah disampaikan,” ujarnya, Kamis (16/6).

Terkait perkembangan proses penyelidikan, Kasatreskrim Polres Gresik Iptu Wahyu Rizki Saputro mengatakan, sampai kemarin (15/6) pihaknya telah meminta keterangan 23 orang saksi dalam penyelidikan kasus dugaan penistaan agama dalam pernikahan manusia dengan kambing itu.

Menurut Choirul Anam, pimpinan Organisas Kemasyarakatan (Orkemas) Informasi Dari Rakyat (IDR) menyatakan, ini adalah kasus serius karena jadi perhatian dan atensi publik sebaiknya dengan beredarnya video yang menampilkan vulgar bahwa mereka seolah olah yang benar bukan fatwa MUI itu patut menjadi catatan khusus penyidik.

“Mereka sama dengan mengabaikan dan bahkan menghina fatwa ulama, MUI yang jelas menyatakan perbuatan kelompok ini menista agama Islam, bukan seni apalagi budaya. Tetapi karena dibiarkan berkeliaran mereka mencoba memframming bahwa seolah olah tindakan biadab mereka itu benar. Inilah kalau para tersangka tidak segera ditahan. Mereka masih bebas berkeliaran mencari pembenaran atas peristiwa perkawinan tsb,” kata Anam

Dikatakan Anam, yang juga sebagai pelapor kasua ini, mereka berusaha mempengaruhi Mindset pemirsa agar apa yang dilakukan adalah sebuah karya seni.

“Jika ini dibiarkan akan merusak nilai2 agama, budaya dan peradaban manusia.
Lp sdh turun tidak ada alasan lagi untuk tidak menahan para tersangka. Isak tangis menyatakan bertaubat dihadapan para kiyai hanya omobg kosong, sandiwara, mereka aktor pandai bersandiwara dihadapan para kiyai, meneteskan air mata,” pungkasnya.