Wali Kota Enggan Komentar, Ketua Dewan Prihatin Prestasi Porprov Anjlok

19 July 2019 - 09:09 WIB
Wali Kota Malang Sutiaji

MALANG  (SurabayaPost.id) – Wali Kota Malang Sutiaji enggan berkomentar soal prestasi Porprov Kota Malang yang anjlok.  Dia memilih diam dan menghindari saat dikonfirmasi masalah tersebut usai Rapat Paripurna di kantor DPRD Kota Malang, Kamis (18/7/2019).

Sementara itu,  Ketua DPRD Kota Malang Heri Susanto mengaku prihatin. Sebab prestasi Kota Malang anjlok di posisi keempat setelah Surabaya, Kediri dan Sidoarjo.

Padahal menurut Sekkota Malang Wasto  dari aspek anggaran KONI Kota Malang lebih besar ketimbang Kediri dan Sidoarjo. “Anggarannya lebih besarlah dibanding mereka,” kata Wasto.

Makanya, Ketua DPRD Kota Malang Heri Susanto meminta pengurus KONI dievaluasi besar-besaran. Sebab kata dia  sudah dianggarkan sangat besar Rp 12,5 miliar. Sementara prestasi tidak maksimal.

“Itu sangat memprihatinkan. Ini pasti ada yang salah, sudah diberi anggaran besar prestasinya jelek. Makanya harus ada langkah tegas dan berani  untuk melakukan evaluasi bahkan kalau perlu pengurusnya dilakukan penyegaran,” tukasnya.    

Dia mengakui bila sebenarnya Pemkot Malang itu memiliki program yang sangat bagus untuk mengembangkan pembinaan olahraga. Tapi kalau prestasinya jelek  bagaimana bisa mendukung program pemerintahan Kota Malang.      

“Saya kira Pemkot memberikan perhatian penuh, dengan anggaran yang cukup besar, tapi tidak sebanding dengan torehan prestasinya. Ini pasti ada yang salah dalam melakukan pembinaan,” ujarnya.     

Pihaknya berjanji akan segera  membahas masalah ini dengan komisi  D dan akan memanggil pengurus KONI untuk meminta penjelasan langsung. Mengapa prestasi Kota Malang berada di urutan ke empat, di bawah Kediri dan Sidoarjo yang notabene anggarannya lebih kecil.      

KONI, kata dia dibiayai APBD. Sehingga  harus mempertanggungjawabkan kepada masyarakat. Pengurus  tidak melempar kesalahan kepada pihak lain untuk menyelamatkan diri. Apalagi menyalahkan cabor.   

Ia mengingatkan bagaimana seharusnya KONI menyusun rencana strategis dengan menggali data kelemahan, kekuatan, tantangan dan peluang untuk meraih prestasi. Alur sebenarnya adalah strategi bagaimana rekrutmen atlet pelatih, tahap selanjutnya bagaimana dimatangkan mereka baru tahap selanjutnya uji coba, keikutsertaan turnamen atau kompetisi dan TC.

Hal  yang sama juga disampaikan Dito Arif Anggota Fraksi PAN DPRD Kota Malang. Dia menyatakan  anggaran yang besar prestasi minim. Satu satunya jalan kata Dito adalah regenerasi di tubuh KONI.         

Dito lebih tajam menyebut,  sudah jadi persepsi umum bahwa di KONI banyak orang-orang sudah waktunya ganti. Apalagi ia juga menyebut  banyak orang yang tidak paham olahraga, perlu direformasi dan ada regenerasi.

“Saya kira perlu orang yang paham dengan olahraga, jangan sekedar  administrasi saja. Orang yang paham olahraga dan manajemen olahraga, agar kepedulian atas cabor itu tulus. Makanya dibutuhkan orang  yang bisa komunikasi dengan segala lini,”tandas Dito. (lil)