Retno Marsudi di Wisuda UMM: Inovasi Air Kampus Putih Jadi Harapan Dunia

Retno Marsudi di Wisuda UMM: Inovasi Air Kampus Putih Jadi Harapan Dunia, Selasa 28 April 2026. (Sumber Humas UMM).
Retno Marsudi di Wisuda UMM: Inovasi Air Kampus Putih Jadi Harapan Dunia, Selasa 28 April 2026. (Sumber Humas UMM).

MALANG (SurabayaPost.id) – Sejarah baru tercipta di Universitas Muhammadiyah Malang. Di tengah bayang-bayang krisis air global, Kampus Putih resmi dikukuhkan sebagai pemegang mandat bergengsi UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026. Pengakuan level dunia ini diapresiasi langsung oleh Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M.

Momen bersejarah itu jadi sorotan utama Wisuda ke-121 UMM, Selasa (28/4/2026). Hadir memberikan orasi ilmiah, Retno Marsudi yang juga Menteri Luar Negeri RI 2014-2024 memberi apresiasi tinggi atas rekam jejak riset dan pengabdian UMM di bidang air.

“UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya terfokus pada aspek pelestarian namun juga penguatan ekonomi masyarakat. Universitas ini mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari langkah besar dunia,” puji Retno disambut gemuruh tepuk tangan ribuan wisudawan dan orang tua.

Dalam orasinya, Retno membongkar realitas mengerikan kondisi air global yang makin terancam perubahan iklim. Ia menyebut 600 gigaton gletser dunia lenyap sepanjang 2023. Saat ini dunia dihadapkan pada tiga krisis air ekstrem.

Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. (Sumber Humas UMM).
Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. (Sumber Humas UMM).

Pertama, banjir. Tercatat 80-90% bencana alam dalam sepuluh tahun terakhir adalah banjir. Pada 2024 saja, banjir mengganggu 400 juta nyawa dan merugikan ekonomi hingga 550 miliar Dolar AS.

Kedua, kekeringan. Ancaman ini diproyeksikan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030, dan berdampak pada tiga perempat populasi bumi di 2050.

Ketiga, kelangkaan air bersih. Tercatat 2,2 miliar penduduk dunia belum memiliki akses air minum aman, memicu rentetan penyakit akibat sanitasi buruk.

Krisis ini, kata Retno, berpotensi melumpuhkan ketahanan pangan dunia mengingat 70% serapan air tawar digunakan untuk sektor pertanian. Karena itu, ia menaruh harapan besar pada UMM lewat mandat UNESCO Chair untuk terus menggerakkan inovasi: riset teknologi efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga cooling system hemat air.

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan arah pengembangan kampus tak lagi semata berorientasi capaian akademik. Lewat program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan kurikulum dengan pengalaman belajar berbasis ekosistem dan kebutuhan riil masyarakat.

“Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi bagian dari solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam menghadirkan akses air yang lebih layak, terutama bagi wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan,” ujar Prof Nazaruddin dikutip dari rilis Bagian Humas UMM.

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si memberikan cinderamata kepada Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. (Sumber Humas UMM).
Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si memberikan cinderamata kepada Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. (Sumber Humas UMM).

Menurut Nazaruddin, pengelolaan air jadi salah satu fokus utama yang dikembangkan sebagai solusi strategis, termasuk pemanfaatan energi mikrohidro dan penguatan ketahanan wilayah. Capaian UNESCO Chair menegaskan perguruan tinggi tak hanya mencetak lulusan, tapi juga menghadirkan dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat.

Di akhir sambutan, Rektor menitipkan pesan kepada ribuan wisudawan agar terus membawa semangat pelestarian lingkungan ke tengah masyarakat. Mandat UNESCO yang diterima Kampus Putih bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah besar.

Ia mendorong lulusan UMM membuktikan diri sebagai agen perubahan yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga peduli pada kelestarian bumi dan masa depan peradaban. “Jadilah sumber kebaikan di mana pun berkarya demi menjaga titipan kehidupan bersama untuk Indonesia dan dunia,” pungkasnya. (lil).

Baca Juga:

  • Dialog dengan Mahasiswa UMM, H. Rokhmad: Tanpa DPRD, Siapa Awasi Anggaran Negara?
  • Mendunia! UMM Jadi Mitra Resmi UNESCO Urus Kelestarian Air, Garap Subak Bali hingga NTT
  • Ngabuburit Seru di Kayutangan: UMM Hadirkan Literasi, Batik Ecoprint, dan Kuliner Lezat
  • Dari Lumpia Kelas ke Pasar Global: Kisah Sukses Alumnus UMM