Banyak Sayur Dijadikan Pakan Ternak, Kadin, Hipmi dan PP Galang Donasi Rp 10 Ribu Buat Petani

31 May 2020 - 14:08 WIB
Anggota Kadin Kota Batu Muhamad Risky Ramdan

BATU (SurabayaPost.id) – Para petani di Kota Batu frustasi. Akibat wabah virus corona (Covid-19) hasil sayur mayur mereka dijadikan pakan ternak karena tidak terjual.

Kondisi tersebut membuat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batu dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) serta Ormas Pemuda Pancasila (PP) Kota Batu prihatin. Mereka melakukan terobosan aksi sosial bertema “Gerakan Galang Dana Rp 10,000 Peduli Petani Berbagi’.

Hal tersebut dibenarkan oleh anggota Kadin Kota Batu Muhamad Risky Ramdan, Minggu (31/5/2020). Menurut Rizky, Hipmi, Kadin dan Ormas PP bersama para petani serta masyarakat yang menjadi pelopor aksi gerakan galang dana Rp 10 ribu peduli petani berbagi tersebut.

“Gerakan membeli sayur kepada para petani Kota Batu ini berangkat dari beberapa permasalahan yang sedang mendera para petani sayur mayur yang ada di Kota Batu ,” katanya.

Menariknya dalam gerakan tersebut,menurut Rizky selain tidak menggunakan kantong plastik, dengan tujuan supaya tetap terjaga ramah lingkungan dan anti dari bahan plastik. Termasuk para mlijo yang berjualan sayur bakal mendapat jatah sayur gratis,dan mereka agar tetap bisa berjualan.

“Artinya para melinjo itu tetap bisa beraktivitas seperti biasanya. Itu agar mereka tidak merasa terusik dengan aksi kita nantinya,” ungkapnya.

Itu ungkap dia,terkait aksinya tersebut, menurut Rizky selain akan diposkan di kampung dan di kelurahan, menurutnya aksi perdananya, bakal digelar pada 4 Juni 2020 di seputaran Alun – Alun Kota Batu.

Om Chun

“Itu nantinya akan bagi – bagi sejenis sayur – sayuran untuk warga Kota Batu , maupun bagi pengguna jalan yang melintas di area itu.Sayur sayur itu akan didapat dari hasil panen sayurannya para petani yang tidak punya nilai jual, seperti halnya, sejenis tomat, sawi dan beberapa sayur – sayuran lainnya, itu yang akan kita beli,” paparnya.

Karena, papar dia, daripada dibuang dengan sia – sia tanpa guna dan akan berdampak bertambah merugi para sang petani. Maka dengan aksi kita menggalang dana senilai Rp10 ribu itu, kita bisa membeli produk pertanian.

“Kami berharap dengan aksi ini bisa memantik reaksi rekan- rekan yang peduli serta banyak yang donasi.Donasi itu akan kita belikan produk pertanian yang tidak laku jual dan akan kita bagi- bagikan untuk program ketahanan pangan yang ada di Kota Batu di setiap kampung,” terangnya.

Selanjutnya menurut Mahasiswa S3 Program Ilmu Administrasi Bisnis di Universitas Brawijaya (UB) ini, mengaku berharap besar agar mendapat suport dari semua kalangan yang ada di bumi Kota Batu.

” Dari produk pertanian itu berupa beberapa item dan kita jadikan satu ditempat yang terbuat dari anyaman bambu.Itu kita lakukan selain menghindari dari bahan plastik.Bahkan kita akan mengingat apa yang pernah dideklarasikan Walikota Batu Dewanti Rumpoko sebelumnya.Di Kota Batu anti bahan plastik,” tegasnya.

Gerakan Hipmi , Kadin dan PP akan menjadi pelopor untuk mengembangkan pertanian yang ada di desa dengan menggandeng gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan para juragan yang ada di petani, khususnya petani – petani milenial di Kota Wisata Batu.

Dimana kata dia, yang perlu diketahui, Kadin, Hipmi, PP, dengan segenap elemen masyarakat dalam program galang dana Rp10.000 untuk membantu petani Kota Batu yang mengalami kerugian akibat beberapa sayuran yang tidak laku di pasaran, sekaligus karena dampak Covid – 19 , yang menjadi pemicu sepi pembelinya.

“Tujuan dari program ini, dimulai dari penggalangan dana seluruh elemen masyarakat yang mau terlibat. Penggalangan dana dari masyarakat, pengusaha, komunitas, PNS dan karyawan BUMN maupun BUMD di Kota Batu,” katanya.

Kemudian kata dia, uang yang sudah tergalang nantinya akan dibelanjakan ke petani yang komoditas harganya jatuh. Bahkan tidak memiliki nilai di pasar.

“Kadin, Hipmi, PP, bakal mendistribusikan ke para donatur/warga berupa paket belanja yang terdiri dari beberapa item sayur. Hasil capaian dari program Rp10.000 bantu petani, saat ini terdapat kurang lebih sejumlah 6.000 PNS dan pekerja sektor publik yang masih mendapatkan gaji,” katanya.

Program Rp 10.000 tersebut, kata dia, akan terkumpul lebih dari Rp 60.000.000. Itu untuk membantu membeli produk pertanian sayur Kota Batu.

“Semua itu untuk meminimalisir kerugian Petani sayur di Kota Batu.Produk pertanian sayur agar tidak dibuang sia-sia, donatur dan warga bisa mendapatkan sayur – sayur segar dari petani, selain itu roda perekonomian di Kota Batu akan tetap berjalan dan tidak sampai terjadi lumpuh,” harapnya.

Rizky berharap semua pihak bisa terlibat dalam open donasi online yang tersedia. Baik para petani, atau donatur yang ingin berbagi melalui Bank Mandiri a.n Andik Kurniawan : 1440015470252 , Bank BCA a.n Afif Kurniawan 0190664929 serta Bank BRI a.n Suhartin 637501016911535.

Sementara itu,anggota Gapoktan Mitra Sejati Kota Batu, Chun yang sapaan akrabnya Om Cun ini mengaku gerakan Hipmi, Kadin dan PP seperti yang mereka lakukan diyakini sangat membantu.

“Saya sebagai anggota Gapoktan sangat salut dan mengapresiasi dengan gerakan mereka. Untuk membantu masyarakat yang membutuhkan sayur mayur dan sekaligus mau menolong petani yang hasil panen sayurnya sedang kolap,” katanya.

Kolapsnya harga sayur mayur dan pengiriman sayur menurutnya mengalami penurunan sejak adanya wabah Covid – 19 .

“Harganya juga tidak stabil dan daya jualnya juga mengalami penurunan, ada yang sebagian laku serta sebagian juga ada yang tidak laku jual. Karena adanya Covid – 19 ini , kemungkinan tengkulaknya sudah tidak bisa mengirim kemana mana,” terangnya.

Kemudian diterangkannya, dari hasil panen sayur – sayuran tersebut menurutnya ada yang sampai dibuang.Alasannya pedagang yang sebelumnya membeli satu kuintal sayur, dan sekarang menurun hanya membeli sejumlah 50 kg.

“Dari penurunan pembeli seperti itu, kemudian sisanya saya tinggal di sawah lantas saya angkut dan ditaruh di kandang untuk makan kambing,” ngakunya.

Itu semua terjadi menurut Om Cun karena pemerintah daerah tidak perbah mencarikan terobosan pemasarannya, meski begitu Om Cun mengaku.

” Pemerintah Kota Batu sudah banyak membantu para Gapoktan tapi hanya untuk perawatan dan pupuk serta obat obatan saja,” ucapnya.

Sedangkan kalau para petani merasa kebingungan pada saat panen tiba, pemerintah tidak pernah ikut andil. Terutama memikirkan pemasarannya.

“Dulu pernah ada wacana katanya mau membuat koperasi kota dan sebagainya. Rencana itu diharapkan bisa menampung hasil sayur – sayuran itu semua. Tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya dan hanya sekadar wacana,” pungkasnya (Gus)