Mahasiswa UB Ciptakan Konsep Meningkatkan Kemandirian Anak Autis

17 September 2020 - 13:14 WIB
Sosialisasi Fun Hydroponics Therapy oleh Tim WACTIVE. Istimewa

MALANG (SurabayaPost.id) – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menciptakan konsep meningkatkan kemandirian anak autis lewat Fun Hydroponics Therapy. Konsep tersebut merupakan program penerapan metode okupansi sebagai upaya peningkatan kemandirian peserta belajar berkebutuhan khusus.

Ketua Tim WEACTIVE Ahmad Miskatul Qulub (FEB 17) mengatakan pendidikan merupakan salah satu hak setiap warga negara yang harus terpenuhi. Semua kalangan, termasuk pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), salah satunya anak autis juga wajib dipenuhi.

Dia menjelaskan bahwa autism merupakan bagian dari autism spectrum disorders (ASD). Yakni, gangguan perkembangan pada anak dan termasuk satu dari 5 (lima) jenis gangguan pervasive development disorder (PDD).

Menurut dia, telah banyak lembaga pendidikan yang memberikan perhatian khusus bagi penderita autis. Termasuk SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang (SAL UM) yang menampung siswa autis. Bahkan telah menyelenggarakan pendidikan dan layanan untuk meningkatkan kemampuan anak autis secara reguler.

Meskipun memiliki tantangan yang lebih berkenaan dengan kemandirian siswa, kegiatan belajar SAL UM sejauh ini masih dikembangkan berdasarkan kurikulum umum. Sebab menggunakan cara bermain seperti anak pada umumnya.

“Oleh karena itu, kami bersama Firdaus Finuliyah (FEB18), Anang Prayitno (FAPET 17), Arifiandika (FTP 18), Maulana Rifqy Ferdiansyah (FTP 17), Nurul Fathiyah Wahab (FISIP 17) atau dikenal sebagai TIM WEACTIVE mencoba memberikan alternatif solusi mengatasi masalah tersebut,” ujarnya di Malang, Rabu (16/9/2020).

Solusi dimaksud berupa terapi, yakni Fun Hydroponics Therapy yang merupakan program penerapan metode okupansi sebagai upaya peningkatan kemandirian peserta belajar berkebutuhan khusus.

Metode tersebut, kata dia, pada dasarnya merupakan serangkaian kegiatan belajar agar peserta didik terbiasa dengan kesibukan yang terjadwal.

Program yang didanai oleh DIKTI ini menggunakan hidroponik dengan sayuran Brokoli. Rangkaian kegiatan yang dilakukan diantaranya mulai dari penyemaian, pemindahan atau transplanting, perawatan, panen hingga pengolahan hasil panen menjadi brokoli cookies.

Sayuran brokoli digunakan karena selain harga yang terjangkau mudah didapatkan, sayuran tersebut juga mengandung Vitamin B6 yang merupakan golongan vitamin yang paling penting karena bersama dengan niasin, asam folat dan kobalamin berperan dalam membantu menggerakkan beberapa fungsi vital manusia seperti pada saraf motorik.

Menurut dia, sebelum adanya pandemi, Fun Hydroponics dirancang untuk langsung diterapkan kepada siswa autisbersama guru dengan menggunakan Deep Flow Technique (DFT).

Namun karena adanya pandemic, SAL UM melaksanakan pembelajaran di rumah. Oleh karena itu, agar Fun Hydroponics Therapy tetap dapat dilakukan tim WEACTIVE memberikan cara dengan metode hydroponics wick system yang merupakan jenis budidaya hydroponics yang lebih sederhana sederhana sehingga dapat dilakukan peserta belajar dirumah dengan didampingi orang tua.

Sebelum guru maupun pendamping mengimplementasikan program, tim WEACTIVE melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada mitra yakni guru SDLB Autis Laboratorium UM secara daring.

Tim pengabdi juga memberikan buku panduan pelaksanaan Fun Hydroponics Theraphy selama pandemi dan keberlanjutan pasca pandemi untuk memudahkan guru dalam pelaksanaan program.

Lutfil Amin, ku guru SAL UM menyatakan output dari program ini patut untuk diapresiasi karena menghasilkan video dan modul mengenai teknis kegiatan Fun Hydroponic Therapy yang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan program ini untuk anak autis yang belum pernah belajar mengenai hal ini.

Dengan adanya terapi okupasi melalui fun hydroponics, dia menegaskan, banyak hal yang bisa diajarkan dan dilatih kepada ABK autis terkait tanggung jawab, disiplin, konsistensi perilaku, interaksi komunikasi, proses dan hasil, dan lainnya.

“Langkah selanjutnya dari program ini adalah berupa pendampingan proses penjualan produk sehingga tidak hanya menjadi alternatif sumber pendapatan baru, tetapi program ini juga menjadi pilihan kegiatan yang produktif bagi peserta belajar,” ucapnya. (aii)