Masyarakat Diaspora NTT Terus Teriak ‘Save Mangrove Malaka’

30 March 2019 - 20:44 WIB
Masyarakat diaspora NTT di Yogyakarta yang melakukan aksi kultural di Joglo, Kamis (28/03/2019).

BETUN (SurabayaPost.id)-Masyarakat Diaspora Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat ini tinggal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya terus berteriak: Save Mangrove Malaka!

Mereka tergabung dalam Solidaritas Masyarakat NTT di Yogyakarta. Kali ini, aksi mereka dinamakan aksi kultural, dengan thema: Hanimak No Lo’o Ba Rai Moris Fatin (Mengakrabi dan Memuliakan Kembali Alam Semesta) di Joglo Aquinias, PMKRI Yogyakarta, Kamis (28/3/2019).

Dalam rilis yang dikirim melalui akun WhatsApp kepada SurabayaPost.id di Betun, ibukota Kabupaten Malaka, Sabtu (30/03/2019), solidaritas ini berpandangan bahwa mangrove bagi orang Malaka adalah berkah. Berkah itu bukan hanya bagi orang Malaka tetapi juga bagi masyarakat NTT.

“Tidak pantas berkah ini kita hancurkan hanya untuk kepentingan sesat sesaat bagi banyak pemangku kepentingan,” demikian Koordinator Umum Aksi, Yakobus Fahik.

Menurut Yakobus, usaha pembangunan dengan pendekatan barbarian dan pengrusakan hanya akan mendatangkan keburukan pada masyarakat itu sendiri.
Dia juga mempertanyakan kecenderungan Pemerintah Propinsi NTT yang malah menambah runyam sobekan kohesivitas sosial akibat pengrusakan ini, dengan hanya berpihak pada kepentingan korporasi dan strategi Pemerintah Kabupaten Malaka.

Pemerintah Kabupaten Malaka juga dinilai tidak sensitif terhadap kajian-kajian lingkungan, sosial dan kebijakan yang ada. Hal ini ditegaskannya menyusul sikap permisif Gubernur NTT dalam beberapa waktu belakangan yang justru melegalkan aktivitas PT. Inti Daya Kencana, sekalipun begitu banyak kajian dan prasyarat operasionalnya secara hukum belum ada.

Masih dalam nada yang sama, Niko Loin, dosen pada Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta menandaskan bahwa sebuah pembangunan haruslah juga mempertimbangkan Natural Capital Stock (NCP). Niko menyatakan, NCP adalah modal alam yakni berupa cadangan sumber daya alam itu sendiri, misalnya cadangan ikan, kepiting, dan udang yang tersisa sebelum dan sesudah pembabatan mangrove. Demikian juga pemandangan. Gap antara yang diambil dan cadangan alam tidak terlalu diperhitungkan dalam sebuah pembangunan. Padahal, pembangunan yang ideal harus mempertimbangkan NCP tersebut.

Aksi kultural ini diisi berbagai kegiatan bernuansa kultural seperti tarian bidu, aktus-aktus kultural dengan ciri khas Malaka-NTT, puisi dan pantun dalam bahasa daerah, diskusi dan bincang-bincang mengenai situasi terkini di Malaka hingga komitmen bersama untuk terus memperjuangkan kelangsungan ekologi di NTT khususnya Kawasan Mangrove yang sudah dirusakkan di Malaka.

Berikut beberapa poin pernyataan sikap solidaritas yang dibacakan. Pertama, PT Inti Daya Kencana segera menghentikan pengrusakan atau pembabatan terhadap Manggrove Malaka. Manggrove bagi orang Malaka adalah tumbuhan yang mampu memperluas daratan dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Karena itu, orang Malaka mengungkapkan dengan istilah, “Rai Tara Kelen No Kamelin”.

Secara sederhana istilah Rai Tara Kelen adalah tanah yang tersangkut pada sesuatu. Ini mengungkapkan manggrove itu berfungsi sebagai penahan tanah, menumbuhkan, meluaskan sekaligus menopang sebagaimana paha manusia itu tumbuh dan berkembang untuk menopang tubuh manusia dan kamelin (cendana) artinya keharuman.

Keharuman inilah yang bagi masyarakat Malaka adalah kebaikan dari Manggrove itu sendiri yakni menyerap karbondioksida, menahan angin deras dari laut, menahan pukulan ombak yang keras dan besar sebagaimana sifat laut selatan.

Kedua, Manggrove bagi masyarakat Malaka juga adalah obat. Daunnya adalah obat yang mujarab untuk menyembuhkan luka gigitan nai bei (buaya) dan menyembuhkan patah tulang.

Ketiga, Manggrove bagi masyarakat Malaka adalah rumah bagi para leluhur yaitu bei nai (buaya). Oleh karena itu, jangan sekali-kali menghancurkan rumah leluhur tersebut.

Keempat, Manggrove bagi masyarakat Malaka adalah sumber energi. Dari sana akan bermunculan jenis ikan, kepiting dan udang yang akan memberikan kelimpahan bagi masyarakat Malaka.
Hadir dalam acara ini, para sesepuh NTT yang ada di DIY, kelompok dosen asal NTT lintas-universitas, perwakilan mahasiswa-mahasiswi se-NTT, hingga simpatisan.

Hadir pula kelompok-kelompok peduli lingkungan hidup yang aktif dan giat membela kepentingan ekologi selama ini seperti Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yogyakarta, Komunitas Indonesia Hijau (KIH) Yogyakarta, Forum Batu Tulis Nusantara (FBTN) Yogyakarta, Forum Peduli Mangrove Malaka (FPMM).

Inisiasi aksi ini bermula dari keprihatinan Ikatan Keluarga Malaka Yogyakarta (Ikamayo), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Thomas Aquinas Yogyakarta, INTAN, Ikatan Keluarga Mahasiwa Adonara Yogyakarta (KAMAY) Kelompok Mahasiswa Pasca Sarjana UGM Asal NTT, GAFARTA, IKTTU (Ikatan Keluarga TTU), Ikatan Keluarga Belu (IKB), GEMBEL Yogyakarta dan Janabadra.

Astra, Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik St. Thomas Aquinas Yogyakarta mengajak semua organ mahasiswa yang hadir dalam aksi kultural tersebut membangun kolektivitas gerakan. Hal ini penting mengingat masalah ekologi saat ini menjadi masalah kita semua.
Astra menyatakan hari ini teman-teman di Malaka, Pulau Timor yang mengalami, esok mungkin pulau-pulau yang lain yang ada di NTT sana yang mengalami. Karena itulah semua elemen harus bergerak bersama-sama mengawasi agar pembangunan memperhatikan aspek ekologis, budaya, dan sosial kemasyarakatan. (cyk)