Mengenal Bang Ho, Kolektor Radio Tabung Lawas yang Mendunia dari Malang

Bangho disela pameran Malang Tempoe Doeloe beberapa waktu lalu
Bangho disela pameran Malang Tempoe Doeloe beberapa waktu lalu

MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Galery Bangho dipandang sebagai oase nostalgia dan edukasi sejarah yang sangat otentik. Berdasarkan pameran di Festival Malang Tempo Doeloe 2026, stand ini sangat digemari karena memajang barang-barang antik langka dan asli yang masih berfungsi seperti Gramophone Thorens 1922, Radio Telefunken 1951, hingga Radio Philips Guitar 1952 serta radio Katedral tahun 1936.

Kalau bicara soal barang antik di Malang, satu nama yang selalu disebut para kolektor adalah BangHo (Bang Holil). Di balik gang kecil Jalan Ir Rais Gang 14, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, tersembunyi sebuah galeri yang jadi surga bagi pecinta radio tabung lawas.

Galeri ini milik keluarga Muhammad Cholil atau akrab disapa Bangho. Jantung koleksinya ayah Ozy, yang sudah memulai hobi mengoleksi radio kuno sejak 1990. Awalnya hanya untuk kesenangan pribadi. Siapa sangka, koleksi itu kini mendunia.

Diruang Kecil yang tertata rapi di gubuk Galery Bangho inilah sejarah Radio mendunia
Diruang Kecil yang tertata rapi di gubuk Galery Bangho inilah sejarah Radio mendunia

Masuk ke Gallery Bang Ho seperti masuk ke mesin waktu. Ratusan radio tabung dan transistor buatan awal 1900-an tersusun rapi di rak-rak kayu. Setiap unit punya cerita, mulai dari desain, negara asal, hingga suara khas yang tak lagi bisa ditemukan di perangkat modern.

Koleksi tak berhenti di radio. Ada fonograf, gramofon, dan berbagai alat pemutar musik kuno yang sudah jarang terlihat. Barang-barang ini datang dari Jerman, Amerika, Prancis, hingga berbagai daerah di Indonesia.

“Bang Ho dulu mulai dari satu radio. Lama-lama jadi ratusan, dan orang mulai datang buat lihat dan beli,” cerita anak Bangho yakni Ozy.

Nama Gallery Bang Ho, menurutnya sudah melambung jauh melampaui Malang. Pemburu radio lawas dari berbagai kota di Indonesia rutin datang langsung untuk berburu barang langka di sini.

Pameran di Festival Malang Tempo Doeloe 2026, stand Galery Bangho sangat digemari karena memajang barang-barang antik langka dan asli yang masih berfungsi.
Pameran di Festival Malang Tempo Doeloe 2026, stand Galery Bangho sangat digemari karena memajang barang-barang antik langka dan asli yang masih berfungsi.

Yang lebih menarik, pembelinya juga datang dari luar negeri. Kolektor dari Brunei paling banyak mencari radio tabung klasik. Sementara kolektor Malaysia lebih tertarik pada piringan hitam dan koin lawas. Transaksi tidak hanya terjadi di Malang, tapi juga lintas negara.

Selain menjual, Bang Ho dan keluarganya dikenal ramah. Mereka tidak pelit berbagi tips merawat radio kuno agar tetap awet dan berfungsi. Banyak kolektor pemula yang datang bukan cuma untuk beli, tapi juga belajar.

Sebagaimana diketahui, Kota Malang memang menyimpan banyak peninggalan sejak zaman penjajahan Belanda. Tapi Gallery Bang Ho punya tempat khusus karena berhasil mengubah hobi personal menjadi destinasi yang hidup.

Bagi pecinta barang lawas, datang ke Malang rasanya belum lengkap kalau belum mampir ke sini. Di Gallery Bang Ho, pengunjung tidak hanya berbelanja, tapi juga menyentuh sejarah, mendengar suara masa lalu, dan bertemu orang-orang yang menjaga warisan itu tetap hidup.

Dari gang kecil di Sukun, Bang Ho membuktikan bahwa hobi yang dirawat konsisten bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan dunia. Dan kini, radio-radio tua itu kembali bersuara, terdengar hingga ke luar negeri. (Zai).

Baca Juga: