Minat Belajar Membatik Mahasiswa Asing IBU Malang Cukup Tinggi  

6 February 2019 - 19:32 WIB
Rektor IKIP Budi Utomo Malang Dr Nurcholis Sunuyeko MSi berbincang dengan mahasiswa asing asal Jerman, Jacqueline Kirchner.
Rektor IKIP Budi Utomo Malang Dr Nurcholis Sunuyeko MSi berbincang dengan mahasiswa asing asal Jerman, Jacqueline Kirchner.

MALANG (SurabayaPost.id) – Minat mahasiswa asing di IKIP Budi Utomo  (IBU) Malang untuk belajar membatik cukup tinggi. Sebab, seluruh mahasiswa asal mancanegara yang kuliah di kampus “Biru” IBU Malang tertarik untuk bisa membatik.  

Minat yang tinggi tersebut tercermin kala mereka praktek membatik di kampus C, IBU Malang, Rabu (6/2/2019). Ada beberapa mahasiswa asing yang ikut praktek belajar membatik tersebut.  

Di antara mereka adalah Stanislav Sorokhmaniuk  dari Ukraina, Julian Manuel Giessel (Jerman), Mukhtar Hassanpoor (Afghanistan), Kim Seowon (Korea Selatan) dan  Jacqueline Kirchner (Jerman). Mereka merupakan mahasiswa IBU Malang yang melalui program BIPA dan Darmasiswa.

Para mahasiswa asing  yang melalui program BIPA adalah  Jacqueline dan Seowon. Sedangkan yang lainnya lewat program Darmasiswa.

Mereka belajar membatik itu mulai dari awal. Yakni, mempersiapkan  bahan-bahan hingga peralatan yang digunakan. Bahkan desain gambar yang hendak dibatik mereka membuat sendiri.  

Rektor Nurcholis Sunuyeko (tiga dari kiri) kala bersama beberapa mahasiswa asing yang kuliah di kampus IKIP Budi Utomo Malang.
Rektor Nurcholis Sunuyeko (tiga dari kiri) kala bersama beberapa mahasiswa asing yang kuliah di kampus IKIP Budi Utomo Malang.

“Saya suka dan senang bisa belajar membatik. Nanti, kalau sudah pulang ke negara saya, tentu saya akan mencoba membuat sendiri,” kata Jacqueline Kirchner mahasiswi asal Jerman itu.

Semangat Jacqueline Kirchner dkk belajar membatik itu dimaklumi Rektor IBU Malang, Dr Nurcholis Sunuyeko. Menurut dia, para mahasiswa asing itu memang memiliki minat yang tinggi untuk belajar membatik.

“Mereka tujuan utamanya kuliah di IBU Malang ini untuk belajar bahasa Indonesia. Namun mereka juga harus belajar seni dan budaya. Satu diantaranya ya belajar membatik itu,” kata Rektor Nurcholis Sunuyeko saat didampingi Warek III, Dr Ali Badar dan Kepala Pusat Kerjasama dan Humas IKIP Budi Utomo Malang Dr Rochsun MKes.

Dijelaskan Rektor Nurcholis Sunuyeko yang akrab disapa Yai ini bahwa selain membatik,  mereka juga diajari seni tari. Misalnya tari topeng Malangan dan lain sebagainya.

Bahkan, lanjut dia, untuk memperdalam masalah seni dan budaya itu, mahasiswa asing tersebut diajak ke daerah lain. Disebutkan seperti ke Yogyakarta.

“Itu untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka. Baik terkait seni tari maupun dalam hal membatik,” tutur Yai.

Karena  itu, terang dia, terkait pelajaran bahasa Indonesia mereka tak hanya belajar di dalam kelas dan lab bahasa. Namun, juga bisa belajar di luar kampus. Termasuk belajar bahasa Malangan dan membatik. (lil)