Serat Centini Dinilai Bukan Pornografi

28 June 2019 - 10:33 WIB
Joko Susilo
Joko Susilo

MALANG  (SurabayaPost.id) – Meskipun bercerita tentang peristiwa seksual dan disertai kata-kata cabul tetapi kitab Serat Centhini dinilai tidak bisa dianggap karya pornografi. Jika memahami konteksnya, kitab yang ditulis tahun 1814 itu merefleksikan spiritualitas.

Demikian Dr Djoko Susilo, dosen Fisip Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam diskusi di Lembaga Sensor Film (LSF) Perwakilan Jawa Timur di Surabaya, Kamis (27/6/2019).

Hadir dalam diskusi itu antara lain, Ketua LSF Dr Ahmad Yani Basuki, Ketua Komisi I LSF Imam Suharjo, kalangan tenaga sensor, perusahaan rekaman dan stasiun televisi.

Serat Chentini ditulis Pangeran Adi Anom dari Kasunanan Surakarta. Salah satu babnya adalah bercerita tentang seksual yang dibalut mistisisme Islam dan Jawa. Dituturkan dalam bentuk tembang.

Djoko Susilo mengatakan, Serat Centhini yang tebalmnya 4.000 halaman menceritakan fenomena sosial budaya yang ada pada masyarakat Jawa, termasuk seksualitas. Ada empat kategori seksualitas. Yaitu, normatif, rekreatif, eksploitatif, dan destruktif.

“Normatif dan rekreatif sudah kita ketahui. Ternyata di masyarakat Jawa pada masa lalu juga sudah kenal seksual eksploitatif seperti pelacur, gigolo. Ada juga seksual destruktif seperti perkosaan, homoseks, swinger,” katanya.

Karena itu kata dia, cerita seksual itu jika tidak memahami konteksnya, bisa menimbulkan anggapan Serat Centhini itu pornografi. Padahal cerita seksual itu konteksnya adalah penggambaran perkembangan spriritual seperti syariat, hakikat dan hijrah. (aii)