MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Lapas Kelas I Malang pasang badan. Senin pagi (20/4/2026), seluruh jajaran pejabat, petugas staf, regu pengamanan, CASN Pemasyarakatan, peserta magang Kementerian Ketenagakerjaan, hingga mahasiswa praktik kerja, berdiri di Lapangan Senopati. Satu komando, satu suara: ikrar komitmen Zero HALINAR.
Apel dipimpin langsung Kalapas Malang, Christo Victor Nixon Toar. Ia membacakan ikrar, diikuti serentak seluruh peserta. Tak ada yang berbisik, tak ada yang setengah hati. Suasana khidmat jadi bukti: ini bukan seremonial.
Zero HALINAR berarti nol untuk Handphone ilegal, Pungli, dan peredaran Narkoba. Tiga hal yang jadi musuh utama integritas Pemasyarakatan.

Dalam amanatnya, Christo Toar menegaskan ikrar bukan formalitas kosong. Ini janji yang mengikat, wajib diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Ikrar adalah janji, dan janji adalah tanggung jawab yang harus ditepati. Tidak perlu diucapkan berkali-kali, namun harus terus diteguhkan dalam perbuatan dan hati,” tegas Kalapas.
Ia mengingatkan, setiap insan Pemasyarakatan punya tanggung jawab moral menjaga marwah organisasi. HALINAR adalah garis merah. Siapa yang melanggar, berhadapan dengan sikap tegas.
“Jangan jadi pengkhianat organisasi yang merusak kepercayaan publik. Sikap tegas akan diambil terhadap setiap pelanggaran yang terjadi di kemudian hari,” lanjutnya.

Usai apel, Kalapas berjabat tangan dengan seluruh peserta. Dari pejabat senior sampai mahasiswa magang. Gestur sederhana, makna besar: kebersamaan dan komitmen kolektif. Lapas Malang mau bersih, dan itu kerja bareng.
Keterlibatan CASN, peserta magang Kemnaker, hingga mahasiswa menunjukkan satu hal: nilai integritas ditanamkan sejak dini. Siapapun yang masuk lingkungan Lapas, wajib satu frekuensi.
“Mari kita jaga marwah organisasi kita, sebagai rasa syukur kita telah menjadi bagian dari keluarga Imigrasi dan Pemasyarakatan,” ujar Christo Toar.
Dengan ikrar ini, Lapas Kelas I Malang meneguhkan langkah menuju tata kelola yang bersih dan akuntabel. Tanpa kompromi. (lil).
