Temani “Balita” Perusahaan Kita (2)

7 June 2020 - 11:18 WIB

Ada 2 kecerdasan utama (dan 7 kecerdasan lain) yang harus dimiliki orangtua untuk menghadapi anak balita. Kali ini kita bahas 2 kecerdasan dulu. Yaitu : Kecerdasan Penglihatan dan Kecerdasan Pendengaran.

Lantas apa relevansinya dengan membangun perusahaan baru dengan teori itu ?

Pertama, kecerdasan penglihatan.

Dalam konteks bayi dan balita, jelas mereka membutuhkan orangtua disampingnya. Semua yang dilihat sang bayi adalah pelajaran pertama tentang hidup. Karena mencerna puluhan kata-kata belum mampu.

Demikian juga “merawat bayi” yang bernama perusahaan. Coba perhatikan semua perusahaan besar. Pasti diawali kehadiran fisik pemilik perusahaan (founder) di area perusahaan. Baik di pabrik, kebun ataupun kantor.

Perusahaan besar yang kokoh selalu didirikan oleh sosok yang langsung “turun tangan” merintis. Jadi kecerdasan penglihatan manusia, menjadi kuncinya. Bos atau owner, keberadaannya terlihat. Maka otomtis semangat staf membara.

” Bos saja turun langsung, masak kita malas2san, ” begitu mereka berucap. Maka keberadaan bos yang terlihat ikut kerja dan terlibat langsung menjadi modal dasar progresivitas langkah perusahaan. Dalam bahasa manajemen tidak ada “Auto Pilot” bagi perusahaan baru.

Dalam bahasa sederhana, “warung” kalau tidak ditungguin langsung akan cepat bangkrut. Karena pemilik hanya mendapat laporan dari penjaganya. Padahal banyak celah yang mungkin merugikan pemilik.

Kedua, kecerdasan pendengaran adalah kunci kemajuan perusahaan. Kalau pemilik tidak mendengar langsung persoalan dari lapangan, dari mitra kerja, maka ia tidak mendapat ilmu tentang efisiensi, efektifitas.

Bahkan strategi tidak cukup dibaca dari buku dan teori. Strategi memajukan perusahaan salah satu ilmu utama adalah menyelesaikan persoalan dengan mendengar langsung.

Ibarat bayi yang sering diperdengarkan kata-kata buruk orangtuanya, file yang tertanam diotaknya adalah keburukan. Demikian juga sebaliknya. Kalau kata-kata indah yang mereka tangkap, memori keindahan akan tersimpan.

Silahkan para orangtua muda membuktikan, perdengarkan balita Anda dengan musik keras setiap hari di rumah, jangan keget kalau kelak anak kita jadi kurang peka membaca masalah, pemarah bahkan bisa beku batinnya.

Sebaliknya, kalau perdengarkan balita Anda musik klasik, musik shalawat, bahkan lantunan ayat suci Al Quran, maka kelak dewasa hati mereka lapang. Pikirannya jernih.

Perusahaan balita perlu “diperdengarkan” suara owner tentang optimisme, tentang masa depan, tentang kelembutan dan ketegasan. “Suara” langsung owner ataupun suara “hati” yang mampu ditangkap oleh seluruh tim.

Dengan dua kecerdasan ini menunjukkan masa depan perusahaan ini. Kalau yang diperlihatkan adalah keburukan, kesewenang-wenangan, bahkan kemalasan, maka jangan berharap perusahaan akan maju.

Yang lebih parah owner jarang hadir di arena pekerjaan, sehingga tidak diperlihatkan tauladan, kesungguhan dan kegigihan. Inilah yang membuat salah arah.

Apalagi didukung jarang mendengarkan keluhan langsung pekerja, mitra. Atau sebaliknya mereka tidak pernah mendengar nasihat, motivasi dari owner. Akibatnya tim perusahaan menentukan standar kerjanya sendiri.

Kalau dua hal ini terjadi, jangan harap akan melahirkan perusahaan yang kokoh, sehat dan terarah. Karena pengendali mereka menjalankan usaha hanya aturan dikertas.

Beda misalnya visi kebersamaan dibangun dalam keseharian, keluh kesah diselesaikan tanpa menunda, masalah diselesaikan tanpa menunggu besok pagi, disitulah kunci kemajuan perusahaan dimasa mendatang. ***

Bersambung